Nikah Sebelum Masa Iddah Habis

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Saya adalah seorang ibu rumah tangga (40 tahun). Saya menikah pada tahun 1995. Persoalannya, rumah tangga kami tidak harmonis. Kami sering cekcok, mulai dari persoalan kecil hingga masalah yang rumit.

Ilustrasi

Selain itu, suami saya sering meninggalkan tanggung jawabnya bertahun-tahun.

Puncak pertengkarannya, pada 2007, suami meninggalkan rumah kami dan mengatakan tidak akan kembali.

Dia menyerahkan sepenuhnya kepada saya bila ingin menggugat cerai untuk mengurusnya sendiri kepada yang berwenang.

Alhamdulillah, pada 2 November 2009 lalu, pengadilan memutuskan cerai gugat talak 1 atas permintaan saya.

Dua hari setelah keputusan pengadilan, tepatnya, 4 November 2009, saya menikah lagi disebuah santren, tidak melalui KUA.

Namun 10 hari kemudian, kami di usir oleh perangkat desa. Alasannya, pernikahan kami tidak sah karena belum habis masa iddahnya, pertanyaannya:

1. Benarkah pernikahan kami tidak sah? Bagaimana cara menghitung masa iddah?

2. Menurut KUA kecamatan, iddah dihitung dari hari keputusan pengadilan. Bukankah menurut hukum syara' 4 bulan tidak campur suami-istri telah jatuh talak raj'i?

Saya bingung dengan hal ini. Saya miskin ilmu dan harta, sehingga bingung kemana kami harus mengadu.

Diatas adalah pertanyaan dari Sahabat AkuIslam.ID dari Banda Aceh.

Menurut saya, iddah itu mutlak harus dilaksanakan. Tapi kasus di atas bukan termasuk talak, tetapi masalah fasakh (gugat cerai yang diajukan istri). Sebab jika talak, hak cerai ada di tangan suami.

Dan keputusan fasakh biasanya juga mencantumkan awal iddahnya. Jadi jika ada orang yang menikahkan harus tanya masalah itu. Jika ternyata masa iddahnya belum habis, maka seseorang belum bisa menikah lagi apalagi baru dua hari.

Tidak serta-merta karena anda telah berpisah dengan sendirinya meski berbulan-bulan bahkan setahun pun lantas menjadikan talak. Tidak.

Jadi betul jika kemudian KUA setempat menilai ketidaksahan pernikahan yang dilaksanakan ketika iddah baru berumur 2 hari. Sebab masa iddah bagi perempuan yang bercerai adalah 3 kali suci (quru').

Dalam QS. al-Baqarah: 228, "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan dini (menunggu) selama tiga masa quru'."

Mengenai masa quru', ada yang berpendapat berdasarkan masa suci dari haidh. Ada pula yang berpendapat masa haidh sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw. "Dia (istri) beriddah (menunggu) selama tiga kali masa haidh." (QS. Ibnu Majah).

Jadi bila dihitung memang berkisar 3 bulanan, akan tetappi belum tentu tepat. Patokannya yang jelas adalah 3 kali masa suci dari haidh. Dan kenyataannya tiap wanita punya keadaan yang berbeda-beda, yang berpengaruh juga pada lama masa haidhnya.

Melihat kasus di atas, bisa disimpulkan bahwa pernikahan yang kedua ini tidak sah, karena dilaksanakan dalam masa iddah. Untuk itu, orang yang menikahkan dapat juga dituntut ke pengadilan karena kurang paham betul soal pernikahan.

Oleh karena tidak sah, jika ingin berkeluarga dengan tenang dan sah secara agama dan hukum negara mesti mengulang pernikahannya lagi setelah masa iddahnya selesai. Jika tidak diulang, maka hubungan yang terjadi adalah hubungan di luar nikah karena menikah sebelum iddahnya selesai.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...