Kisah Husnul Khatimah Nenek Shalehah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Nenek itu meninggal dunia dengan merupakan aroma harum dari tubuhnya. Siapakah nenek itu?

Ilustrasi

Kisah berikut ini tentang si miskin yang akhir kematiannya begitu indah, husnul khatimah. Hal itu tampak dari aroma harum yang menyelimuti tubuhnya sesaat setelah ia meregang nyawa. Siapakah si miskin itu?

Dia hanyalah seorang penjual sayur gendongan. Kita bisa tebak sendiri, berapa keuntungan yang diraih orang yang berprofesi seperti ini.

Jangankan bisa membeli rumah atau mobil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun mungkin kewalahan atau kesusahan.

Akan tetapi, bagi Nenek Katiyem, demikian nama si miskin itu, profesi sebagai tukang sayur gendong bukanlah sesuatu yang menghinakan. Bahkan, profesi ini membantu banyak orang dalam urusan dapur.

Apakah Katiyem mengalami kelelahan? Secara manusiawi, tentu saja. Sebab, dia tidak saja menjual barangnya agar laku, tapi juga dia harus menggendong bakul dan berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk beribadah kepada Allah. bagaimana bisa?

Ya, Katiyem berjualan sayur gendong dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang ditinggal suami. Dia memiliki empat orang anak: dua lelaki dan dua perempuan. Mereka harus hidup, meski sang bapak telah tiada. Mereka berhak makan dan minum meski seadaanya. Katiyem menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan ridha kepada Allah, hingga keempat anaknya menikah dan memiliki seorang anak.

Apakah Katiyem berhenti di usia senjanya? Tidak. Usia yang menua tak menyurutkan langkahnya untuk terus menggendong bakul demi menjajakan sayuran, dari satu desa ke desa lainnya. Ia begitu sabar dan telaten melayani setiap pelanggan.

Tak sedikit orang yang terkagum-kagum akan kegigihannya mencari nafkah, tak terkecuali anak-anaknya. Sebagian dari mereka (mungkin) ada yang melarang Katiyem berjualan lagi, tetapi nenek satu ini tetap kekeuh dengan pekerjaannya ini.

Berjualan sayur gendong seperti sudah mendarah daging. Meski anak-anaknya sudah menikah dan (mungkin) tidak membutuhkan asupan materi lagi darinya, tapi ia berdagang setidaknya untuk diri sendiri dan dalam rangka beribadah kepada Allah, yaitu kewajiban seorang hamba untuk bekerja di saat raga dan tenaga masih ada.

Tetapi sekuat-kuatnya Katiyem berjalan dan mengitari banyak kampung untuk berjualan sayur, akhirnya ia tak kuasa juga menahan takdir bernama penyakit. Ya, Nenek Katiyem akhirnya terkena diabetes. Hal ini membuatnya terpaksa tidak berjualan lagi. Kini, ia terbaring di ranjang pesakitan, ditunggu oleh anak-anaknya secara bergantian.

Di tengah rasa sakitnya, Nenek Katiyem tidak pernah meninggalkan shalat, Bahkan, hebatnya, sang nenek melakukannya dengan shalat berjamaah di sebuah mushala yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Semua itu ia kerjakan dalam lima waktu shalat. Artinya, di tengah rasa sakit yang menggerogotinya, ia masih terus ingat Allah. Sebuah hal yang patut dicontoh tentunya.

Beberapa kali anak-anaknya mengantarkan Nenek Katiyem untuk berobat ke rumah sakit. Namun, makin lama penyakit diabetesnya makin parah. Bahkan, pada bagian (maaf) bawah payudaranya terdapat luka yang mengangga hingga tulang rusuknya kelihatan akibat garukan tangannya.

Kondisi ini memaksanya tidak bisa berjalan kemana-mana, termasuk shalat berjamaah di mushala lagi. Yang bisa dilakukannya pun hanya terbaring di ranjang sambil mengamalkan zikir yang didapatkan dari sebuah thariqah yang diikutinya saat masih muda.

Kuasa Allah akhirnya datang. Takdir kematian menghampirinya. Ia pun meregang nyawa di tengah isak tangis para keluarganya. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya semuanya milik Allah dan kepada Allah-lah kita akan kembali.

Ya, Nenek Katiyem telah kembali untuk menemui Sang Pencipta, yang telah menciptakan dia untuk menjadi sebuah teladan bagi anak-anaknya, keluarganya, tetangga dan saudaranya, serta masyarakat sekitarnya.

Jenazah Nenek Katiyem akhirnya diurus. Ia pun segera dimandikan agar proses penguburan bisa segera dilakukan. Namun, di saat itulah kuasa Allah datang. Terjadi sebuah keajaiban yang mungkin jarang terjadi selama ini, yaitu lubang mengangga di bagian bawah (maaf) payudaranya tiba-tiba menutup dengan sendirinya.

Tulang rusuk yang tadinya kelihatan terluka dan selalu disumpal dengan kapas, akhirnya, tak tampak lagi karena tertutup sendiri oleh kulitnya yang ada di sampingnya. Seolah-olah Nenek Katiyem tidak pernah merasakan sakit sebelumnya. Ini benar-benar sebuah kejadian yang luar biasa. Orang-orang pun, terutama keluarganya, benar-benar terkejut. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Bagi Allah, semua itu sangat mudah Dia lakukan. Hanya dengan kun fayakun, apa pun yang ada di jagat raya ini dengan sangat mudah Allah taklukkan, apalagi hanya menutupi sebuah lubang yang menganga dari tubuh seseorang.

Apa yang bisa membuat semuanya itu terjadi? Tentu saja, amal baik Nenek Katiyem sewaktu hidupnya. Berdagang penuh ikhlas hingga hari tua, shalat berjamaah lima waktu dan zikir yang tak henti di saat sakit, adalah hal-hal mulia yang membuat kematian Nenek Katiyem juga dalam kondisi yang sangat baik (husnul khatimah).

Tentu saja, ini dalam kaca mata manusia. Sebab, penilaian yang demikian ini tentu saja menjadi hak prerogratif Allah. Sebab, sebagai hamba Allah yang dha'if, kita hanya bisa menebak-nebak bahwa ia meninggal dalam kondisi baik atau buruk, berdasarkan gejala-gejala yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits.

Keterkejutan para pelayat tidak berhenti sampai disitu, sebab sesaat setelah mereka melihat luka lubang Nenek Katiyem yang tertutup kembali, mereka seketika mencium bau harum yang menyengat hidung. Selidik punya selidik, ternyata bau harum itu bersumber dari tubuh Nenek Katiyem yang kaku, yang sedang dimandikan. Sekali lagi, ini semua bisa terjadi atas izin Allah. Setelah dimandikan dan dishalatkan, jenazah Nenek Katiyem pun akhirnya dikuburkan.

Demikianlah kisah teladan yang terjadi di daerah Jawa, Kab. Magetan, beberapa tahun yang lalu itu.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...