Kaki Belatungan Akibat Durhaka Kepada Ibu

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "....Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepadanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentaknya serta ucapkanlah kepadanya ucapan yang mulia." (QS. Al-ISra': 23).

Ilustrasi

Suara adzan Maghrib dari sebuah mushala sudah berkumandang beberapa saat yang lalu. Petang itu, saat orang-orang bergegas menunaikan shalat Maghrib berjamaah, Solikan (nama samaran, 17 tahun) justru melangkah pulang ke rumah dengan lunglainya.

Rasa letih menggelayut di pundaknya. Peluh membasahi kaos yang dikenakannya. Ia terus berjalan, meniti jalan kecil di kampung Durian, menuju rumahnya. Tenggorokannya sudah kering karena kehausan. perutnya pun keroncongan minta segera diisi.

Sesampainya di rumah, Solikan seperti seorang musafir dari sebuah bepergian jauh. Ia langsung menuju dapur, menenggak air putih beberapa gelas. Ibu Solikan, Maryam (bukan nama sebenarnya, 55 tahun) baru saja mengambil air wudhu.

Ia melihat Solikan dengan herannya. Apalagi, Solikan pergi sejak siang tadi. "Kau ini dari mana saja? Maghrib begini baru pulang?" tanya sang ibu.

"Main bola, Bu!" jawab Solikan tanpa merasa bersalah.

"Ibu tak melarang kau main bola, tetapi besok tolong ingat waktu. Jangan sampai pulang Maghrib begini!"

Solikan diam, tak menjawab.

Maryam masuk ke baliknya untuk menunaikan shalat Maghrib.

Solikan merasa lelah dan duduk di kursi.

Ia renggangkan otot untuk melepas lelah. Meski rasa haus sudah terlunaskan, sisa keringat di tubuhnya belum sepenuhnya kering. Saat itulah, Solikan merasa lapar sekali. Ia melangkah ke meja makan. Tak ada menu istimewa di meja makan. Matanya nanar saat melihat hanya nasi putih di dalam bakul. Itu pun tak seberapa banyak. Maklum, di rumah itu Solikan hanya tinggal dengan ibu kandungnya.

Sebenarnya, Solikan bukanlah anak semata wayang. Solikan punya tujuh saudara perempuan, tetapi tujuh saudaranya sudah berkeluarga dan diboyong oleh suami mereka masing-masing. Jadi, di rumah, Solikan tinggal bersama ibunya, karena ayah Solikan sendiri sudah meninggal.

Wajar, jika Maryam yang tinggal berdua dengan Solikan masak nasi tak terlalu banyak. Kadang tak memasak sayur, karena anak-anak perempuannya yang telah berkeluarga seringkali mengirimkan lauk dan makanan. Tetapi, hari itu tak ada satu pun dari mereka yang mengirimkan makanan hingga di meja makan hanya terhidang nasi putih. Padahal, hal itu sudah biasa dan jika tidak ada anak perempuannya yang mengirimkan lauk, Maryam baru memasak sayur ala kadarnya.

Tapi Solikan seperti tak sabar. Perutnya kosong. Ia lalu mengedarkan mata, berharap ada panci berisi kuah di atas kompor. Sayang, ia tidak menemukan apa-apa di dalam panci.

Ia tahu, tak ada yang bisa dimakan kecuali hanya nasi putih. Dan ia tidak berselera makan bila tidak ada lauk. Rasa capek membuatnya kian marah. Lapar yang menggerogoti perutnya kian membuat hatinya bergemuruh. Puncaknya, ia tak mampu mengendalikan emosi.

Ia menendang kursi dan pintu dapur dengan keras. Ibunya mendengar dengan jelas suara pintu ditendang. Maryam kaget. Hal itu membuyarkan kekhusukan Maryam yang lagi shalat dan membuatnya kecewa atas perilaku anaknya.

AWALNYA KENA KNALPOT PANAS

Seminggu sejak peristiwa itu terjadi, Solikan yang sudah lulus dari bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan tak melanjutkan sekolah lebih sering menghabiskan waktu di rumah temannya, Udin (bukan nama sebenarnya, 18 tahun), untuk berkumpul sekedar mengisi waktu luang. Maklum, Solikan belum bekerja dan di rumah temannya itu dia bisa mengusir kesepiannya ketimbang tinggal di rumah.

Tapi, hari itu rupanya jadi hari yang mengubah pergaulan Solikan dengan teman-temannya. Saat ia duduk di depan rumah Udin dan berbincang-bincang dengan teman-temannya, Anton datang membawa sepeda motor.

"Solikan....! Ikut yuk!" teriak Anton yang masih di atas sepeda motor.

"Kemana?"

"Sudahlah! Ayo ikut aja!"

Solikan berdiri, mendekat ke Anton. Teman-teman yang ditinggal Solikan merasa berat dengan kepergian Solikan. Maka, teman-temannya minta Solikan tak usah pergi. Solikan bimbang. Sementara, Anton memintanya segera naik ke atas motor. Akhirnya, Solikan berdiri lama di dekat sepeda motor Anton.

Tetapi, tanpa ia sadari kaki kanannya terkena knalpot sepeda motor. Solikan pun menjerit kaget kepanasan.

BERUBAH BOROK DAN BELATUNGAN

Solikan tak pernah menyangka kalau kakinya yang kena knalpot itu kemudian membengkak. Ia menganggap itu hal biasa, sebab ia dulu pernah kena knalpot dan beberapa hari bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu dibawa ke puskesmas.

Seminggu kemudian, kaki Solikan tak juga kunjung sembuh. Awalnya, kakinya melepuh seperti ada cairan yang mengumpal di dalamnya. Solikan hanya memberikan salep. Setelah itu, lepuhan itu pecah dan keluar nanah. Dari nanah itu, kaki Solikan berubah menjadi borok. Hari berlalu. Dua minggu kemudian masih juga belum sembuh.

Meski telah merawat dengan baik, Maryam seperti tidak tega melihat anaknya itu menderita sakit parah. Maka, ia pun membawa anaknya itu ke puskesmas. Tetapi, kaki Solikan tetap tak juga kunjung sembuh. Bahkan setelah berobat berkali-kali, kaki Solikan masih tak menunjukkan perubahan, bahkan mulai digerogoti belatung.

Karena tidak memiliki uang lebih, maka ibu Solikan tidak bisa berbuat banyak dan Solikan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sebab, jika ia keluar rumah dan ketemu teman-temannya, bukan simpati yang ia dapatkan, malah ia jadi bahan ledekan. Solikan merasa terkucil. Dia saat bosan di rumah, ia pergi ke gubuk sawahnya. Di gubuk itu, ia hanya bisa meratap-ratap.

BUKAN LUKA BIASA

Suatu siang, saat Solikan tengah menyendiri di gubuknya, Pak Salim (seorang warga yang biasa dipanggil Ustadz oleh orang di kampung Durian) pulang dari sawah. Karena iba melihat Solikan, ia mampir ke gubuk Solikan. Pak Salim lalu mengajaknya ngobrol. Rupanya, kehadiran Pak Salim itu membuat Solikan tak keberatan menceritakan keadaan yang ia alami. Bahkan, Solikan bercerita tentang kemarahannya kepada sang ibu.

Setelah mendengar cerita Solikan, Pak Salim melihat luka di kaki Solikan. Ia melihat luka yang diderita Solikan itu cukup aneh. "Bisa jadi ini bukan penyakit biasa, melainkan akibat kau pernah durhaka dan membuat kecewa ibumu!" ujarnya.

Solikan terdiam, seperti tersadar.

"Karena itulah, minta maaflah kepada ibumu! Bersimpuhlah dan meminta maaf dengan setulus-tulusnya agar ibumu mau memaafkanmu. Siapa tahu, nanti lukamu ini bisa sembuh!"

Solikan tidak menyangkal, kalau ada benarnya juga apa yang dikatakan Pak Salim itu. Solikin sadar, ia pernah marah dan itu bisa jadi membuat ibunya kecewa. Karena itu, ia tak keberatan menuruti nasehat Pak Salim. Sang ibu tak menutup pintu maaf untuk anak terakhirnya itu. Aneh bin ajaib. Setelah itu, luka yang diderita Solikan pun perlahan-lahan membaik dan sembuh.

Allah memang Maha Kuasa. Teguran Allah sebagaimana yang dialami Solikan itu tidak jarang menjadi pelajaran bagi kita untuk berbenah, karena itu tak semestinya kita berkata kurang sopan dan kurang ajar kepada ibu. Apalagi dalam al-Quran disebutkan: "Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepadanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentaknya dan ucapkanlah kepadanya ucapan yang mulia." (QS. Al-ISra':23).

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...