Judi

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Mereka mau mengambil hak milik orang tetapi tidak mau memberi, menghabiskan barang tetapi tidak dapat berproduksi.

Ilustrasi

Di Indonesia, judi diatur melalui UU No 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian. Judi sendiri, dalam Pasal 303 ayat (3) WvS (terjemahan Indonesia versi BPHN), diartikan sebagai: tiap-tiap permainan di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainannya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga pertaruhan lainnya."

Judi dianggap sebagai bentuk kejahatan, seperti diatur UU No 7 Tahun 1974 pasal 1. Hanya saja, ancaman hukuman bagi pelakunya berbeda-beda. Pada Pasal 303 KUHP, pelaku perjudian diancam pidana penjara maksimal 10 tahun dan dendam maksimal 25 juta rupiah, sementara Pasal 27 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE, ancamannya maksimal 6 tahun penjara dan dendam maksimal 1 milyar rupiah.

Bagaimana dengan Islam? Tentu saja melarangnya. Pelarangan ini disebutkan dalam al-Qur'an yang artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (QS. Al-Baqarah: 219).

Sedang Nabi bersabda, "Barangsiapa berkata kepada rekannya: mari bermain judi, maka hendaklah ia bersedekah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Amirudin, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip dan Peneliti Sosial Budaya, dalam Pergeseran Konsep Normatif Judi (Suara Merdeka: Sabtu, 25 Oktober 2003), judi dilarang karena dalam persepsi Islam dapat mendatangkan dua efek buruk. Pertama, efek dalam dimensi sosial berupa permusuhan dan kebencian. Kedua, efek dalam dimensi agama berupa menghalang-halangi upaya seseorang untuk mengingat Tuhannya dan menegakkan shalat.

Sedangkan Prof. Dr. Yusuf Al-Qar-adhawi dalam bukunya, Halal dan Haram dalam Islam menulis bahwa pelarangan judi tersebut karena mengandung beberapa hikmah yang dikandungnya, yaitu:

Pertama, seorang muslim hendaknya mengikuti sunnatullah dalam bekerja mencari uang, dan mencarinya dimulai dari pendahuluan-pendahuluannya. Masukilah rumah dari pintu-pintunya; dan tunggulah hasil (musabbab) dari sebab-sebabnya.

Sedang judi dapat menjadikan manusia hanya bergantung kepada pembagian, sedekah dan angan-angan kosong; bukan bergantung kepada usaha, aktivitas dan menghargai cara-cara yang telah ditentukan Allah, serta perintah-perintah-Nya yang harus dituruti.

Kedua, Islam menjadikan harta manusia sebagai barang berharga yang dilindungi. Oleh karena itu, tidak boleh diambil begitu saja, kecuali dengan cara tukar-menukar sebagai yang telah disyariatkan-Nya, atau dengan jalan hibah dan sedekah.

Ketiga, perjudian itu dapat menimbulkan permusuhan dan pertentangan antara pemain-pemain itu sendiri, kendati nampak dari mulutnya bahwa mereka telah saling merelakan. Sebab bagaimana pun akan selalu ada pihak yang menang dan yang kalah, yang dirampas dan yang merampas.

Keempat, kerugiannya mendorong pihak yang kalah untuk mengulangi lagi, barangkali dengan ulangan yang kedua itu dapat menutup kerugiannya yang pertama. Sedang yang menang, karena di dorong oleh lezatnya menang, maka ia tertarik untuk mengulangi lagi.

Kelima, hobi ini merupakan bahaya yang mengancam masyarakat dan pribadi. Hobi ini merusak waktu dan aktivitas hidup dan menyebabkan para pemainnya menjadi manusia yang tamak; mereka mau mengambil hak milik orang tetapi tidak mau memberi, menghabiskan barang tetapi tidak dapat berproduksi. Pejudi selamanya sibuk dengan permainannya, sehingga lupa akan kewajibannya kepada Allah, diri sendiri, keluarga serta umat.

Meski mereka tahu akan bahaya judi, tetapi permainan ini sulit sekali dihilangkan dari masyarakat. Sebab, kata Clifford Geertz dalam bukunya yang menjadi best seller berjudul Sabung Ayam di Bali menulis bahwa judi merupakan realitas sosial yang amat rumit, sebab ia menggambarkan ekspresi simbolik yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...