Gadis Yang Meninggal Dengan Kaki Mengangkang

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Kaki jenazah itu kaku dengan posisi kaki mengangkang dan kedua tangannya terjuntai di atas seperti orang memeluk. Sang ibu tak kuasa menahan tangis menyaksikannya. Jenazah Gadis itu ternyata menyimpan rahasia semasa hidupnya.

Ilustrasi

Sejak jenazah Misha (bukan nama sebenarnya) tiba di rumah, rasa khawatir sudah menyergap ibu dan keluarganya. Bagaimana tidak? Kondisi jenazah Misha sangatlah memprihatinkan. Jenazah gadis yang berparas cantik itu seperti kayu; kaku dan sudah digerakkan.

Kakinya mengangkang dan tangannya terjuntai di atas. Jika diperhatikan, jenazah Misha mirip dengan orang yang sedang memeluk sesuatu dalam posisi telentang.

Gadis malang itu menderita sakit parah yang tak terlalu jelas apa penyebabnya. Saat sakit, ia sangat lemah dan tampak susah bernafas. Ia hanya bisa berbaring saja. Dokter yang coba merawatnya tak kuasa memberikan pertolongan hingga Misha wafat.

"Bagaimanakah nanti jadinya saat para tetangga melihat dan mengurus jenazah ini?" batin keluarga Misha sedih.

Kekhawatiran itu pun sedikit banyak terwujud. Para tetangga Misha yang awalnya tampak ikhlas saat melayat ke rumah keluarga Misha setelah mengetahui kondisi Misha seperti itu tampak enggan.

Mereka pun berbisik-bisik prihatin dan ngeri melihatnya. Dalam hati, mereka bertanya: bagaimana ceritanya hingga bisa seperti itu? Keluarga hanya bisa menjawab bahwa mungkin itu karena sakitnya. Tapi jawaban itu tentulah tak memuaskan para tetangga yang mulai merasakan firasat tak baik akan hal itu.

Namun, para tetangga dan pengurus masji setempat tetap dengan sukarela mengurus jenazah tersebut. Ya, mau bagaimana lagi, memang sudah demikian kondisinya. Mereka menyiapkan segala macam keperluan yang dibutuhkan untuk memandikan, mengkafankan dan lain sebagainya.

Mereka kerjakan itu semua dengan perasaan was-was, kecamuk bingung dan penuh tanda tanya: apakah sebenarnya yang terjadi kepada Misha.

Prosesi pemandian jenazah berjalan dengan lancar. Petugas yangd itunjuk menjalankannya dengan baik. Masalah baru timbul ketika jenazah Misha akan dikafankan. Tentulah tidak mungkin mengkafankan Misha dalam kondisi yang tidak berbujur dengan semestinya. Harus dicari cara melemaskan bagian tangan dan kaki Misha yang kaku tersebut.

"Coba diurut pelan-pelan," ujar seseorang ustadz memberi solusi.

Petugas wanita yang bertugas mengkafankan Misha pun menerima saran itu. Tangan Misha yang kaku coba diurut perlahan sambil melafalkan doa kepada Allah agar dimudahkan. Petugas itu juga membaca bacaan mulia yang lazim dipakai untuk hal itu seraya mengucapkan istighfar. Awalnya, tangan Misha memang tampak sulit disidekapkan, namun berkat kemurahan Allah swt, tangan itu pelan-pelan mulai lemas dan bisa disidekapkan sebagaimana mestinya.

Kesulitan yang agak besar terjadi saat melemaskan kaki Misha. Saat coba diluruskan, kakinya kembali ke posisi semula. Setelah dicoba berkali-kali, kakinya tetap seperti sediakala.

Para pelayat yang ada di luar mulai bingung dan kian tidak nyaman. Dalam kepala mereka, pemasangan kain kafan seharusnya tak membutuhkan waktu selama itu. Mereka tak mengetahui bahwa para petugas sedang berjuang keras merapikan jenazah Misha agar layak dimakamkan.

DIANGKUT MOBIL

Masalah baru kemudian timbul. Jenazah Misha meruapkan aroma tak sedap yang mulai mengganggu hidung. Aroma busuk itu semakin lama-semakin kuat. para petugas yang berusaha mengkafankan Misha mulai menutup hidung. Melihat gelagat yang tidak baik, sang Ustadz menyarankan agar kaki Misha diikat saja di bagian lutut dan pahanya agar segera bisa dimakamkan. Ustadz berpikir bahwa bau tak sedap itu tentunya akan membuat warga semakin resah dan tak nyaman. Satu dua pelayat tampak mulai meninggalkan rumah Misha.

Demikianlah. Akhirnya, dengan cara sedikit dipaksa, kaki Misha diikat tali agar bisa rapat. Tapi bau busuk itu tak bisa dikalahkan, menyebar, dan mulai tercium oleh para pelayat.

Satu demi satu, prosesi tak nyaman itu berlangsung. Perasaan ibu dan keluarga Misha semakin terpukul. Tak bisa disembunyikan, mereka merasa malu atas apa yang menimpa anggota keluarganya itu. Mereka juga tak mengetahui kenapa hal itu terjadi. Soalnya, bagi mereka, Misha adalah gadis yang baik dan tak pernah menyakiti ibu dan keluarganya.

Kejadian berikutnya juga semakin memiriskan hati. Mencium bau tak sedap yang meruap dari jenazah Misha, tak ada satu orangpun yang bersedia mengangkat jenazah Misha dengan keranda. Padahal jarak antara rumah Misha dan pemakaman tidaklah terlalu jauh. Mereka saling sikut dan mengelak menjalankan pekerjaan sukarela itu.

Tapi, reaksi itu bisa dimengerti. Siapakah yang kuat mengangkut jenazah yang berbau tak mengenakkan itu. Khawatirnya, karena tak kuat mencium bau, pengangkutan jenazah berjalan tak beres dan bisa jatuh di jalan.

Melihat kondisi itu, melaluir apat kilat, jenazah almarhum pun diputuskan diangkut dengan mobil. Inilah kiranya satu-satunya cara agar jenazah Misha bisa cepat sampai ke pemakaman hingga baunya tak tercium oleh khalayak.

Bagi yang tak mengetahuinya, membawa jenazah ke pemakaman dengan mobil cukup menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, bukankah jarak rumah jenazah dan lokasi pemakaman begitu dekat? Tapi kebanyakan orang hanya terdiam dan memandang prihatin kepada keluarga Misha.

RAHASIA DIRI

Tak ada yang mengetahui perjalanan gadis itu. Begitu pula keluarga, orang tua dan saudaranya. Selama bertahun-tahun merantau ke kota, Misha mengaku bekerja pada sebuah perusahaan ternama. Padahal yang dilakukan Misha sebenarnya adalah menjual diri! Ia bahkan bisa dikatakan sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) papan atas yang memiliki tarif tinggi.

Satu-satunya orang yang begitu yakin mengetahui profesi Misha adalah Karman (bukan nama sebenarnya). Lelaki setengah baya inilah yang menjadi sumber dari kisah ini. Karman berprofesi sebagai supir taksi di Kota X, tempat Misha tinggal dan menjalankan pekerjaannya.

Karman begitu dekat dengan Misha, karena dialah yang dipercaya Misha mengantar dan menjemputnya setiap kali ada order.

"Dia biasa menelepon saya," ujar Karman

Misha, menurut Karman, selalu bersikap baik kepadanya. Tak jarang Misha membayar ongkos dengan lebih. Terkadang Misha minta diantar pada tengah malam dan mesti ditunggui sampai dini hari. Karman sendiri awalnya tak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan Misha. Ia biasanya dengan setia mengantar Misha kemanapun ia pergi dan bersedia menunggui dan mengantarnya kembali pulang.

"Setelah mengetahui bahwa pekerjaanya menjual diri, saya ya biasa saja. Bagi saya, semua orang punya jalan masing-masing," ujar Karman.

Setiap diantar, Misha memakai pakaian yang sopan. Tapi, setelah itu ia berganti pakaian yang agak seksi. Dari sinilah Karman tahu apa yang dilakukan Misha sebenarnya. Seiring perjalanan waktu, karena kedekatan mereka, Karman mengetahui bahwa tak ada satu anggota keluarga Misha pun yang mengetahui pekerjaan Misha yang sebenarnya.

Misha mengaku tak mau menyakiti hati ibu dan adik-adiknya. Ia mengaku menjalankan itu semua karena terpaksa, sebab himpitan ekonomi begitu berat membebani keluarganya.

Dari uang hasil pekerjaannya itu, Misha dapat membantu menyekolahkan anaknya dan memodali ibunya membuat warung sederhana di kampungnya.

"Misha kepada saya pernah mengatakan bahwa yang ia lakukan itu salah, tapi ia merasa tak ada pilihan," ujar Karman.

Demikianlah. hari-hari yang dijalani Misha dalam kesendiriannya di kota. Terkadang ia pulang kampung untuk menengok ibu dan keluarganya. Ia selalu berusaha menyenangkan hati ibunya walau hatinya sendiri memendam kepedihan. Tak jarang, Karman juga mengantar Misha jika pulang. karman juga yang akhirnya mengenal baik keluarga Misha, tapi ia tak pernah sekalipun menyinggung pekerjaan Misha yang sebenarnya.

"Ketika sakit, ia sempat menelepon saya, tapi karena tak sempat saya tak bisa menjenguknya," ujar Karman.

Ketika kabar kematian Misha sampai kepadanya, Karman mengaku cukup kaget. Bagaimanapun Misha adalah penumpang taksinya yang baik. Ketika melayat itulah ia mendengar semua kisah mengenai kematian Misha yang menyedihkan.

"Duh, Pak Karman, kenapa ya Misha bisa seperti itu? Sedih saya mengingatnya," ujar ibu Misha.

Selain sedih, Ibu Misha juga merasa malu melihat pandangan masyarakat yang tak mengenakkan. Mereka seperti menjadi tidak ikhlas setelah mengetahui kondisi Misha yang demikian. Beruntung, jenazah tetap bisa diurus sebagaimana mestinya. Tak terbayangkan, bagaimana jika tak ada satu orang pun yang mau mengurusnya. Pastilah kepedihan yang sangat akan menerpa hati keluarga Misha.

"Pak Karman, apa sih sebenarnya yang dikerjakan Misha di kota?" tanya ibu Misha lagi.

Dengan berat hati, Karman menceritakan semua yang ia ketahui tentang Misha. Ibu Misha pun kembali menangis, tak menyangka bahwa anaknya ternyata melakukan pekerjaan yang demikian. Hatinya juag merasa bersalah membiarkan Misha ke kota, walaupun Misha bersikeras karena ingin membantu dirinya dan membiayai adik-adiknya.

"Saya hanya bisa menyarankan keluarganya untuk terus berdoa, semoga Misha mendapat ampunan Allah dan tempat yang baik. Karena bagaimanapun, ia sebenarnya gadis yang baik. Ia terpaksa melakukan itu," ujar Karman

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...