Ditampar Polisi Arab Tiga Kali Saat Haji

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Pengalaman kurang menyenangkan kadangkala menyadarkan diri seseorang. Setidaknya hal itu dapat menjadi 'teguran' kecil.

Mekkah ( Foto @Source )

Pengalaman ibadah haji adalah pengalaman yang memberi kesan mendalam secara spiritual. Ada yang menyenangkan, ada pula yang kurang menyenangkan. Hal menyenangkan biasanya dirasa ketika ia mengalami perjalanan haji dengan kesan positif. Tapi, untuk yang kurang menyenangkan, biasanya berupa hal-hal yang 'mengganggu' pikiran.

Meski begitu, pengalaman kurang menyenangkan kadang justru menyadarkan hidup seseorang. Hal itu dapat menjadi bahan introspeksi dan 'teguran' kecil yang membuat seseorang ingin meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Nah, salah satu pengalaman nyata yang dapat dijadikan bahan introspeksi adalah apa yang dialami Pak Hujaimi Dahlan, Pria yang tinggal di daerah Jakarta Barat ini merasakan pengalaman yang membuatnya kian sadar bahwa Allah akan menegur hamba-Nya di manapun, termasuk saat seseorang berada di rumah-Nya.

Ya, 14 tahun silam, saat dia dan istrinya menunaikan ibadah haji, ia merasakan pengalaman yang unik dan aneh. "Saya tidak menyangka kalau saya akan mengalami pengalaman aneh. Saya ditampar oleh Polisi Arab Saudi tanpa sebab yang jelas. Padahal, waktu itu saya tidak melakukan hal tak terpuji atau bersifat kriminal," katanya, bercerita.

TITIK PERTAUBATAN

Pak Haji Hujaimi Dahlan, yang biasa dipanggil Pak Haji Erni, adalah orang yang pernah menjalani masa pertaubatan. Dia menceritakan kala ia masih muda, ia terbilang anak muda yang nakal, durhaka kepada orangtua, dan sering melakukan tindakan kriminal. Sebab, katanya tinggal di Jakarta dikelilingi lingkungan yang 'kurang sehat' dalam hal pergaulan.

Saat itu, yang namanya minum-minuman keras merupakan hal biasa. Apalagi, untuk barang haram bernama Narkoba.

"Saya mengenal minuman keras waktu masih duduk di bangku SMP. Kemudian saya mengenal Narkoba waktu di bangku SMA," kata Pak Haji, mengenang.

Saat masih muda, lanjutnya, ia juga sering melakukan tawauran antar sekolah. Tawuran sudah menjadi barang trend dalam pergaulan anak muda kala itu. Dengan hiruk pikuk kehidupan di Jakarta yang serba 'gemerlap', ia tampil dengan wajah anak muda yang haus dengan keberanian.

Tawuran antar pelajar sudah bukan lagi baranga neh bagi dia. padahal, kalau dipikir-pikir, tawuran yang pernah ia lakukan hanya karena persoalan sepele. Semisal, rebutan cewek, karena saling menghina, adu gengsi dan sebagainya.

Semua dilakukan oleh anak remaja kala itu sebagai bentuk kebrutalan. Salah satu faktornya karena mereka tidak bisa mengontrol emosi dan tidak berpikir jangka panjang.

"Saya waktu itu tergolong anak muda yang brutal. Sekolah hanya sebagai tameng untuk menutupi kenakalan di hadapan orangtua. Jadi, pergi ke sekolah dengan baju seragam, tapi di tengah jalan nongkrong dengan teman-teman," kata pria yang memiliki usaha rumahan (home industri) tersebut di wilayah Jakarta Barat itu.

Suatu hari, imbuhnya, dia dimarahi sang ibu lantaran mendapat teguran dari kepala sekolah. Pihak sekolah melaporkan ke ibunya bahwa dirinya jarang masuk ke sekolah. Di samping itu, pihak sekolah juga melaporkan bahwa dirinya nunggak bayar SPP, "Setiap dapat uang untuk bayar SPP dari ibu, saya tidak membayarkannya. Saya malah membelanjakannya, baik untuk jalan-jalan, pacaran, beli minuman, dan seterusnya," ceritanya.

Karena itulah, sang ibu kemudian marah besar. Sebagai janda, ibunya memang tergolong wanita tegar. Ia membiayai semua kebutuhan hidup dan sekolahnya. Namun, karena kenakalannya, sang ibu kemudian murka, "Kamu kemanakan uang SPP yang setiap bulan ibu berikan?" tanya ibunya, seperti yangd itirukan Pak Haji Erni.

Karena, waktu itu, dia sedang masih dalam kondisi mabuk, dia kemudian kalap dan menampar ibunya, "Plak.....!"

Tamparan itu begitu keras mendarat di pipi wanita yang melahirkannya itu. Ibunya kemudian hanya terdiam. Ia tak mengira bila anak yang ia lahirkan dan asuh itu tega menampar dirinya. Setelah kejadian itu, Erni kemudian langsung keluar rumah dan pergi.

Kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Setidaknya tiga kali. Dia juga menampar ibunya hanya karena adu mulut dengan ibunya. Pendek kata, kalau ibunya marah, ia akan melawan. Tidak diam begitu saja.

Kenakalan ini berlanjut hingga dewasa. Namun, Erni muda kemudian mengalami titik balik di usia ke-26. Kala itu, ia merasa sangat bersalah. Ia lantas bertaubat. Atas bimbingan seorang ustadz di Jakarta, ia kemudian meninggalkan perilaku buruk yang dulu pernah ia kerjakan.

Hingga akhirnya ia membuka usaha kecil di bidang perbengkelan. Usaha tersebut ia kelola dari nol. Hingga beberapa tahun kemudian berkembang dengan baik. Dan di usia ke-30, ia menikahi seorang gadis Jawa. Setelah dirinya menikah, ia mencoba bersikap bijak terhadap segala hal dalam hidup ini.

Beberapa tahun setelah menikah, ibunya meninggal dunia lantaran sakit. Namun sebelum ibunya meninggal, ia memang sudah berlaku baik kepada ibu. Di usia ke-26 ia sudah tidak berani lagi bertindak kasar kepada ibu. Bahkan, ia sudah tidak berani lagi berkata kasar di hadapan ibunya.

TIGA TAMPARAN

Setelah lima tahun membina keluarga. Ia kemudian berniat menunaikan ibadah rukun Islam kelima bersama istrinya. Ia menunaikan ibadah haji setelah mendapat bimbingan dari ustadz. Kala itu, ia ikut dalam rombongan ibadah haji tahun 1995.

Seperti yang dialami para jamaah ibadah haji lainnya, dia pun menjalani setiap rangkaian ibadah haji dengan baik. Sejumlah rangkaian wajib, rukun, maupun sunnah gaji dilakukan dengan baik. Ia bersama ribuan jamaah haji dari Indonesia melakukan ibadah haji dengan tenang.

Namun, ada pengalaman aneh yang pernah ia alami. Pengalaman tersebut mungkin tidak pernah dialami oleh jamaah haji lainnya. Saat dirinya hendak melakukan shalat Dzuhur di Masjidil Haram, tiba-tiba saja seorang polisi berbadan besar dan berkulit hitam menghampirinya. Dia lupa isi percakapan secara lengkap dalam bahasa Arab antara dirinya dan polisi itu. Dia hanya mengingat beberapa petikan percakapan antara dirinya dengan polisi itu. Dalam bahasa Indonesianya kira-kira seperti ini:

"Kamu haji dari Indonesia?" tanya dia.

"Ya, Saya dari Indonesia," ucap saya, sambil menunjukan ID Card Jamaah Haji Indonesia yang dikalungkan di leher.

"Kenapa kamu kemari?"

"Saya mau shalat Dzuhur," jawab saya.

"Plak....!" Tiba-tiba saja dia melayangkan tangannya ke arah pipi.

Kala itu, dia hampir tersungkur jatuh. Namun, sang istri berhasil menjaga keseimbangan badannya, sehingga tidak terjatuh ke lantai. Dia sebenarnya ingin marah dan mau bertanya perihal maksud tindakan polisi itu. Tapi, karena dia kurang memahami bahasa Arab dengan baik, niat itu diurungkan.

Terlebih, saat itu, Polisi itu berkata banyak dalam bahasa Arab. Dia sama sekali tidak mengerti. Beberapa petugas Polisi juga berdatangan. Polisi itu tiba-tiba menunjukkan tangannya dan mengarahkan dirinya agar melewati pintu Masjidil Haram yang lainnya.

"Saya tidak mengerti apa yang dia katakan. Sepengetahuan saya, dia menyuruh saya untuk tidak melewati pintu itu, dan memutar ke pintu yang lain," kata Haji Erni, menuturkan.

Kejadian itu tidak ia pahami macam-macam. Ia hanya menduga bahwa ia memang melakukan kesalahan karena melewati pintu yang salah. "Tapi, kalau saya ingat-ingat, jamaah haji yang lain juga melewati pintu itu. Saya tidak mengerti entah kenapa," kilahnya penuh keheranan.

Kejadian seperti ini ternyata berulang terjadi. Setidaknya ada tiga kali. Setelah kejadian itu, kejadian serupa terjadi di tempat pengambilan air zam-zam. Di sana ia tiba-tiba diserobot seorang Arab Badui (bangsa Arab berkulit hitam). Orang Badui itu mencoba menyerobot tubuhnya.

Dia berusaha untuk melawan. Tapi, orang Arab badui itu tetap bersikukuh. Badannya tinggi dan besar. Hingga akhirnya datanglah Polisi Arab. Nah, di sana ia dan orang Arab Badui itu dimarahi habis-habisan. Hingga akhirnya, tangan Polisi Arab itu melayang ke pipinya, "Plak....!"

Orang Arab Badui itu pun mengalami hal sama. Dia juga ditampar. Kami berdua tidak bisa melawan dan berkilah.

Kejadian lainnya terjadi di Airport. Saat itu dia hendak masuk ke toliet, tiba-tiba ada pemeriksaan. Beberapa orang di toilet diperiksa oleh Polisi Arab. Satu diantaranya ternyata orang yang dicari polisi itu. "Saya tidak mengerti kesalahan apa yang dilakukan oleh orang tersebut," katanya, menceritakan.

Tiba-tiba saja, semua orang yang ada di toilet itu dinterogasi di tempat itu. Satu persatu ditanyai, termasuk dirinya. Nah, saat menanyai dirinya, tiba-tiba saja Polisi itu mendorong tubuhnya ke tembok. "Saya mencoba melawan dan menangkis dengan maksud menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Tapi, tiba-tiba saja, Polisi itu langsung menampar pipi saya," terangnya.

Di situ terjadi keributan kecil. Karena, orang-orang yang ada di toilet itu pun mengalami hal sama seperti dirinya. Mereka semua komplain. Hingga akhirnya, seorang pimpinan Polisi datang. Dia meminta maaf atas perlakuan anak buahnya, karena ada kesalahan tindakan. Polisi yang menamparnya itu kemudian diproses oleh pimpinannya.

Setelah dia pulang ke Tanah Air, dia kemudian merenung, "Mungkinkah ada kaitannya dengan apa yang dulu pernah dia lakukan terhadap almarhumah ibunya?" batinnya, merenung. Wallahu a'lam. Yang terpenting, kejadian seperti itu ia jadikan sebagai cermin dan peringatan agar dirinya tidak melakukan kesalahan dan dosa seperti yang ia lakukan di masa muda.

"Semoga ibu memaafkan kesalahan saya," Pintanya lirih.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...