Akhir Tragis Sang Penggunjing

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?" (QS. Al-Hujurat:12).

Ilustrasi

Nek Sani. Marilah kita menyapanya demikian. Ia seorang janda sepuh berperilaku buruk, ia begitu congkak. Meski usianya sudah uzur, ia begitu pongah dengan pendiriannya, ia tak pernah mau mendengar saran anak apalagi cucunya.

Dikisahkan, belakangan ini, Nek Sani selalu merasa terserang demam. Suhu tubuhnya terus meningkat. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman, tapi anehnya Nek Sani tak pernah mau memeriksa diri ke dokter.

"Ini hanya demam sementara saja. Untuk apa berobat ke dokter? Buang-buang duit saja," begitu ucap sang nenek saat anaknya memberi saran.

"Tapi, demam itu bisa berkepanjangan kalau tak segera diobati, Nek," ujar Raimah, cucu yang selalu memperhatikan kondisi Nek Sani.

Tapi apa jawaban Nek Sani atas desakan cucunya itu. "Jangan kamu mengajari orang yang lebih berpengalaman dari kamu! Nenek tahu keadaan diri sendiri dan kalau pun nenek perlu berobat, cukup beli obat warungan!"

Si cucu tentu saja tak dapat berkomentar lagi. Ia hanya berharap apa yang diucapkan neneknya itu benar. Cukup minum obat warungan, demamnya akan sembuh.

Namun, harapan itu hanya tinggal harapan belaka. Demam si nenek ternyata betul-betul berkepanjangan. Sudah tiga hari ini Nek Sani tak pernah ke luar dari kamarnya. Makan dan minumnya pun harus diantar ke dalam kamar.

"Kalau dibiarkan terus, penyakit nenek tak akan sembuh. Panas di tubuh nenek semakin tinggi. Ayo ke dokter, Nek! Saya akan minta bantuan tetangga untuk membawa nenek ke dokter," bujuk Raimah lagi.

Nek Sani seolah sudah tak mampu lagi untuk menjawab usul cucunya, tapi penolakannya terlihat melalui gelengan kepala yang lemah.

"Jika begitu, saya panggil saja dokternya ke sini ya, Nek?" usul Raimah lagi.

Nek Sani kembali diam. Tapi kepalanya menggeleng lebih kuat, tanda bahwa dirinya benar-benar tak ingin diperiksa oleh dokter.

Agak kesal dengan penolakan-penolakan yang dilakukan neneknya, Raimah akhirnya keluar kamar, meninggalkan sang nenek sendirian. Ia lebih memilih menonton televisi daripada membujuk neneknya yang tak mau berobat ke dokter itu.

Meski Raimah menyaksikan siaran televisi, ia tak sepenuhnya menyimak acara yang ditonton itu. Telinganya sesekali masih mendengar erangan si nenek. "Coba dari kemarin-kemarin mau dibawa berobat ke dokter, tentunya penyakit nenek tidak menjadi semakin parah seperti sekarang," gerutu Raimah. Setelah itu, ia mencoba menikmati acara televisi dan melupakan erangan Nek Sani.

Belum lagi tiga menit Raimah serius menonton tayangan televisi, tiba-tiba, erangan lebih keras si nenek terdengar. Raimah terkejut dan memutuskan melihat keadaan Nek Sani. Agak tergesa, Raimah masuk ke kamar dan memeriksa keadaan neneknya. Dan kondisi si nenek rupanya masih tetap seperti tadi, suhu badannya tinggi.

Hanya saja Raimah menemukan beberapa ekor semut merah (semut api) yang merambat di rambut Nek Sani. "Oo, rupanya semut-semut ini yang telah menggigit kulit kepala nenek hingga ia mengerang agak keras tadi," batin Raimah seraya menyingkirkan semut-semut itu hingga berjatuhan ke bawah tempat tidur. Setelah itu, Raimah kembali keluar kamar untuk melanjutkan acara menontonnya.

Lagi-lagi, belum satu menit Raimah memandangi televisi, suara erangan keras kembali terdengar. Raimah berpikir, mungkin semut-semut itu kembali menjalar di rambut nenek dan menggigit kulit kepalanya.

Raimah kembali masuk ke kamar Nek Sani, Tapi tidak setergesa tadi. Ia berjalan mendekati neneknya dan langsung memeriksa. Saat itulah Raimah mendapat kejutan luar biasa. Kalau yang pertama ia menyaksikan rambut Nek Sani dijalari tiga sampai empat ekor semut merah, tapi kali ini, ia melihat banyak sekali semut merah berkerumun di kepala neneknya. Kalau mau dihitung, Raimah pasti tak bisa.

Dengan keterperangahannya, Raimah tidak berani berbuat apa-apa selain menyaksikan keberdaaan semut-semut merah yang berkerumun di kepala Nek Sani itu. Ia bergidik jijik. Ia kemudian pergi meninggalkan kamar Nek Sani untuk mengabarkan keadaan itu kepada keluarga Nek Sani.

SEMUT MERAH

Begitu banyaknya semut merah yang berkerumun di rambut Nek Sani hingga asal warna rambut yang semula hitam keputih-putihan itu berubah menjadi warna merah yang dominan. Rambutnya pun terkesan gimbal.

Raimah yang meninggalkan kamar Nek Sani dengan keterkejutan, kembali masuk kamar bersama dua cucu Nek Sani yang lain. Dua cucu perempuan yang ikut masuk ke kamar neneknya itu sama-sama terkejut. Awalnya, mereka mengira kabar yang disampaikan Raimah bohong belaka, tapi keadaan itu nyatanya benar terjadi.

Semut merah yang berkerumun cukup banyak di rambut Nek Sani itu membuat kepala mereka seolah merasa gatal.

"Kenapa bisa begini?" Tanya salah seorang dari mereka kepada Raimah. Raimah sendiri malah menggeleng.

Kabar keadaan Nek Sani merebak. Para tetangga yang mendengarnya seolah wartawan yang dijekar deadline. Keingintahuan mereka sangat besar, tapi sayang, keluarga Nek Sani merasa keberatan pada tetangga masuk kamar. Dan para tetangga itu harus puas dengan kabar dari orang yang sempat melihat keadaan Nek Sani secara langsung.

"Ya, ini sungguh aneh," begitu komentar Bu Tika. "Kok bisa ya semut-semut merah itu berkumpul di kepala Nek Sani."

"Iya, Yang lebih aneh lagi, semut-semut itu hanya berkumpul di rambut saja. Tak seekor pun yang menjalar di wajah, apalagi bantal yang digunakan sebagai alas kepala," tambah Bu Neneng.

Bu Tika  dan Bu Neneng memang sempat masuk ke kamar Nek Sani sebelum ada larangan dari keluarga, namun setelah tetangga yang lain juga ingin ikut masuk, maka larangan pun dikeluarkan.

GEMAR BERGUNJING

Kenapa Nek Sani mengalami kejadian aneh seperti itu? Pertanyaan itu sudah lumrah muncul di kepala keluarga dan juga para tetangga. Dari pertanyaan itu, muncul sebuah perkiraan yang belum tentu seratus persen kebenarannya, namun perkiraan itu seolah menjadi patokan, karena ada hubungannya dengan kebiasaan. Nek Sani yang senang mencari kutu di rambutnya sambil menggunjingkan keburukan orang-orang di sekitarnya, bahkan juga keburukan suaminya sendiri.

Biasanya, menjelang sore yang teduh, Nek Sani duduk di bangku rotan panjang yang terletak di beranda rumahnya. Rumah itu teduh karena ada pohon buah seri yang daunnya mengembang bak payung raksasa.

Di saat Nek Sani duduk sendirian, ia senang memandangi orang lalu-lalang di depannya. dan jika ada seseorang yang pantas di ajak sebagai teman ngobrol, Nek Sani tak segan memanggilnya.

"Bu, Bu Ida! Kesini sebentar!" demikianlah cara Nek Sani memanggil dengan suara rendah. Saat orang yang dipanggilnya mendekat, biasanya, Nek Sani menanyakan apakah orang tersebut punya waktu luang. Setelah itu, ia minta tolong dicarikan kutu, selanjutnya Nek Sani berbincang apa saja. Pertama hal yang bagus-bagus, tapi kemudian berujung menceritakan kejelekan orang lain.

Selain gemar bergunjing, ternyata Nek Sani juga punya hal lain yang bisa menjadi bahan kaitan dengan kemalangan dirinya. Pada masa mudanya dulu, bahkan hingga sekarang, Nek Sani ternyata masih mengenakan susuk yang dibenamkan di sekitar wajahnya.

Susuk yangd ikenakan Nek Sani menjadi satu anggapan, kalau kematiannya tertahan karena ada susuk yang masih terbenam di bagian tubuhnya. Dengan rambut yang dikerubungi semut api dan nafas yang masih tersisa di rongga dada, betapa tersiksanya Nek Sani. Hal ini menjadi iktibar bagi semuanya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...