Adakah Ruh Gentayangan?

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Ruh orang-orang beriman berada di alam berzakh yang luas, yang didalamnya ada ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Warga Bogor sekonyong-konyong terkejut dengan berita pocong yang bergentayangan ke rumah-rumah penduduk. Berita itu berhasil ditangkap ponsel seseorang yang bernyali merekamnya. Dalam rekaman itu digambarkan kalau makhluk halus itu minta tolong. Benarkah kejadian itu? Apakah itu tidak ada rekayasa teknologi dan bukan ruh genyatangan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, alangkah baiknya kita menimbang hal berikut ini. Pertama, tentang alam. Alam itu terbagi menjadi tiga, yaitu alam dunia, alam berzakh dan alam akhirat. Ketiga jenis alam itu memiliki status dan aturan sendiri.

Alam dunia adalah refleksi dari jasad, sedangkan ruh sebagai bagiannya. Sebaliknya, alam barzakh adalah refleksi dari ruh, sedangkan jasad sebagai bagiannya. Terakhir, alam akhirat atau Darul al-Qarar adalah alam setelah kebangkitan manusia dari kuburnya.

Kedua, kematian atau maut adalah berpisahnya ruh dengan jasad, dan ketika pemisahan tersebut terjadi, ruh berada di alam barzakh atau alam kubur. Ibarat perjalanan waktu, manusia yang sudah pindah ke alam lain itu tidak akan kembali ke alam semula.

Ruh manusia yang sudah pindah ke alam barzakh juga tidak akan kembali ke alam dunia dan tidak akan pernah kembali ke alam dunia.

Ketiga, barzakh secara bahasa berarti pembatas antara dua hal, dan di sini maksudnya pembatas antara alam dunia dengan alam akhirat.

Dengan demikian, ketika seorang meninggal (mati, berpisah jasad dari ruhnya), maka ia tidak akan kembali ke alam dunia. Pada hari Kiamat nanti, orang-orang kafir akan memohon kepada Allah agar  dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal saleh, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan Allah.

Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada ruh yang gentayangan. Apa yang terjadi di dunia hanyalah permainan setan. Setan itu mengubah wujud dirinya seperti seseorang yang kemudian diduga sebagai ruh gentayangan.

Roh itu seperti balom yang terisi udara. Jika balon itu pecah, maka udara itu pun akan keluar dan tidak akan bisa kembali lagi ke tempatnya. Begitulah ruh, ia tidak akan kembali lagi ke dunia (material), jika seseorang itu telah meninggal. Ini sebuah pengandaian sederhana, tapi setidaknya bisa dijadikan analogi bagi keadaan ruh setelah seseorang meninggal dunia.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan dalam bukunya, al-Ruh, bahwa ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh setelah meninggal hingga hari Kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak satu pun yang menerangkan bahwa ada ruh yang bergentayangan. Ruh orang-orang beriman berada di alam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa.

Allah berfirman, "Dan di hadapan mereka ada berzakh sampai hari mereka dibangkitkan," (QS. al-Mukminun: 100). Atas dasar itulah, Salman Al-Farisy pernah berkata bahwa ruh orang-orang mukmin ada di barzakh, yang dapat pergi ke mana pun yang dikehendakinya, sedangkan ruh orang-orang kafir ada di Sijjin, di bumi ketujuh.

Maksud perkataan ini adalah bahwa saking luasnya keadaan alam barzakh bagi orang mukmin, maka mereka bisa sekehendaknya pergi ke mana saja. Inilah keistimewaan yang dirasakan orang mukmin di alam barzakh. Kenikmatan ini akan ia dapatkan hingga datangnya hari penghisaban. Kelak, di surga mereka akan mendapatkannya jauh lebih nikmat.

Ucapan Salman di atas dipertegas Imam Malik yang pernah berkata, "Aku pernah mendengar bahwa ruh itu dilepaskan sehingga dapat pergi ke mana pun yang dikehendakinya," Begitu juga dengan perkataan Ibnu Abdul-Barr bahwa ruh itu berada di serambi kubur, tapi bukan berarti ia tidak bisa meninggalkan serambi kubur.

Dua perkataan terakhir sekaligus menegaskan tentang kebebasan ruh untuk pergi ke mana pun yang ia suka setelah lepas dari jasadnya. Hanya saja, itu terjadi para orang mukmin di alam barzakh yang berubah menjadi lapang dan luas. Sebaliknya, bagi orang kafir, hal itu tidak akan pernah terjadi karena alam barzakh menjadi sempit dan menyiksa bagi mereka.

Allah berfirman, "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali Imran: 169). Demikian juga Hadis Nabi yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Hayat al-Anbiya fi Quburihim, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Para Nabi itu hidup di dalam kubur, mereka senantiasa dalam keadaan shalat."

Itu artinya, orang mukmin bebas melakukan kehendaknya di alam barzakh (kubur) karena dispensasi yang diberikan Allah atas amal baiknya selama di dunia. Bukan bebas untuk kembali ke dunia dan menganggu orang-orang yang masih hidup.

Dalam kaitannya dengan ruh gentayangan, sekali lagi, merupakan ulah jin. Ibnu Taimiyah berkata bahwa ruh gentayangan itu merupakan ulan jin jahat yang menyerupai ruh manusia.

Kita mafhum bahwa jin itu makhluk yang dapat menjelma atau mengubah fisiknya menyerupai bentuk manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Setan yang berasal dari jin, ingin menyebarkan tipu daya dan keraguan pada keimanan manusia, maka salah satu caranya adalah dengan menjelma menjerupai seseorang yang telah meninggal.

Akibat dari penjelmaan tersebut, orang-orang yang melihat menganggap dan berkeyakinan bahwa yang mereka lihat adalah ruh dari orang yang mereka kenal sebelumnya.

Menurut Irwan Ghailan dalam Salah Paham tentang Setan, Jin, Ruh, Hantu dan Sihir disebutkan bahwa kepercayaan masyarakat mengenai hantu atau ruh gentayangan yang ada saat ini berasal dari kepercayaan orang Barat (Eropa dan AS). Mereka menyebarkan hal mistis itu lewat, misalnya, film kartun TV Caspr, Friendly Ghost dan Film bioskop Ghost dan sixth Sense. Film-film tersebut adalah buatan Barat.

Kepercayaan masyarakat Barat yang mayoritas pemeluk Non-Muslim ini tentunya dipengaruhi kisah-kisah ruh jahat dalam kitab mereka. Dalam Injil, ruh-ruh jahat digambarkan dapat berbicara dan berpikir. Kepercayaan di masyarakat Barat akan ruh berawal pada abad pertengahan, di mana pada saat itu agama Kristen mulai berkembang pesat di Eropa. Kemudian, lambat laun menjadi sebuah kepercayaan bahwa hantu yang menyerupai ruh orang mati dapat juga dilihat manusia, selain hantu juga bisa berbicara.

Dalam Matius 12: 43-45 dan Lukas 11: 24-26 disebutkan bahwa "Ketika ruh yang jahat keluar dari tubuh seorang manusia, dia akan hilir mudik ke sana ke mari di tempat-tempat kering, mencari tempat istirahat namun tidak menemukannya. Kemudian ia berkata, "aku akan kembali ke rumah dari mana aku keluar." Ketika ia sampai, ia menemukan rumah itu sudah bersih dan teratur rapi. Kemudian ia pun keluar dan mengajak tujuh ruh lainnya yang lebih jahat darinya, mereka pun masuk dan berdiam di dalamnya. Oleh karenanya, keadaan orang itu menjadi lebih parah dari sebelumnya. Demikian juga akan berlaku atas generasi yang jahat ini."

Kepercayaan mistis tersebut lalu masuk ke Indonesia, terbawa oleh misionaris Belanda dan negara-negara Eropa lainnya. Masih ingat film kartu Scooby Doo? Dalam film itu selalu muncul hantu-hantu yang jahat yang sebenarnya adalah manusia yang menyamar. Ternyata, si pembuat cerita Scooby Doo ini sebenarnya ingin mengajarkan kepada para anak-anak bahwa hantu itu sebenarnya tidak ada.

Karena itu, ruh gentayangan itu tidak ada dalam ajaran Islam. Semua ini merupakan produk Barat yang dikonsumsi oleh umat Islam. Ironisnya, produk-produk itu kemudian di-design sedemikian rupa secara sistematis, hingga benar-benar terwujud kenyataan.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...