Suamiku Tempramental

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Sifat tempramen suamiku ternyata berdampak buruk pada rumah tangga kami. Kebiasaannya yang sering marah, membuat pernikahan kami tak pernah indah lagi. Hingga pada akhirnya, luapan emosi suamiku semakin menjadi-jadi ketika adik kandungku tinggal bersama kami. Tak ada hari tanpa konflik, bahkan sampai terpikir untuk berpisah.

Ilustrasi

Panggil saja aku Linda (bukan nama sebenarnya). Lima tahun sudah aku menjalin rumah tangga bersama suamiku, pria yang dulu kuanggap sebagai pria ideal dalam hidupku. Namun, kini ia berbeda dengan apa yang pernah kukenal dulu.

Suamiku ternyata bukan lagi pria yang lembut. Sejak kami menikah, aku mulai menyadari, ternyata ia sungguh pemarah. Awalnya, aku sangat memahami perubahan sikap itu, namun lama-lama aku makin jengkel dengan sikap temperamennya yang tak pernah berubah hingga kini.

SERING BERTENGKAR

Tak terasa pernikahan kami memasuki usia dua tahun. Bila kebanyakan pasangan-pasangan lainnya telah mempunyai momongan di tahun kedua ini, namun berbeda halnya dengan kami. Tuhan masih belum memberikan kepercayaan kepada kami untuk merawat seorang anak hasil cinta kami.

Saat itulah, aku mulai merasakan adanya sedikit guncangan dalam rumah tanggaku. Sifat temperament suamiku mulai kembali muncul setelah sekian lamanya tak pernah terlihat. Aku pun mulai sering mengira-ngira, apakah kondisi ini ada kaitannya dengan tak kunjung adanya momongan dalam keluarga kami?

Entahlah, apa yang terjadi sebenarnya. Yang jelas aku mulai merasakan suamiku sering marah pada hal-hal sangat sepeleh. Sebut saja ketika aku lupa menyiapkan keperluan kerjanya di pagi hari. Sepulangnya dia dari kantor, tak kudapatkan senyum hangat saat aku menyapanya. Bahkan, yang ada suamiku memarah-marahiku dan mengatakan padaku bahwa aku tak becus dalam melayaninya. Hingga ada salah satu barang penting yang tertinggal karena aku lupa menyiapkannya.

Aku yang tak merasa bila sudah melakukan kesalahan dengan entengnya hanya menanggapi dengan respon datar seperti tak tahu apa-apa. Sikap seperti inilah yang semakin memicu suamiku untuki memarahiku. Tak tanggung-tanggungnya, ia sampai melontarkan beberapa kata-kata kasar yang sepatutnya tidak ia utarakan padaku.

Kejadian yang sama hampir setiap hari terjadi. Lagi-lagi karena hal yang sepele. Aku pun juga sering mengatakan padanya untuk lebih bisa legowo dan dapat mengerti keadaannya. Aku pun selalu meminta maaf atas sekecil apapun kesalahan yang telah aku lakukan.

Namun tak seperti yang dilakukan suamiku. ia tak mau memaafkanku walaupun aku sudah bersujud-sujud meminta maaf kepadanya. Sungguh aku merasakan bila suamiku kini sudah berubah. Dan sejak itulah, hari-hariku selalu terisi dengan pertengkaran dan pertengkaran.

SEMAKIN TEMPERAMEN

Kondisi rumah tanggaku sedikit mulai baik kembali saat kami diberi karunia tuhan seorang anak laki-laki. Syukur alhamdulillah, mungkin inilah solusi yang tuhan berikan pada kami atas segala problem yang telah terjadi di antara kami. Hubungan kami pun sedikit demi sedikit mulai harmonis kembali. Tetapi rupanya itu tak berlangsung lama. Sifat temprament suamiku mulai muncul kembali. Terlebih lagi ketika hadirnya adik kandungku dalam rumah tangga kami.

Adik kandungku terpaksa harus tinggal bersamaku setelah kedua orang tuaku telah meninggalkan kami semua. Adik laki-lakiku masih berusia 13 tahun, ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sungguh masih kecil umurnya bila ia harus hidup sendiri. Aku sebagai kakak satu-satunya bagaimanapun harus siap merawatnya.

Sebelum aku memutuskan untuk membawa ikut serta adikku di tengah keluarga kami, aku mencoba membicarakannya dengan suami. Ia sempat terlihat keberatan atas keinginanku tersebut. Namun setelah aku mencoba menjelaskan dengan perlahan, ia pun akhirnya mau menerima.

Tapi sepertinya keberatan suamiku tak bisa ditutupi. Sikap ketidaksukaannya atas kehadiran adik laki-lakiku terlihat jelas. Kerap kali suamiku marah yang diakibatkan adikku. Tak jarang ia pun sering marah dan selalu mengaitkan dengan kehadiran adik laki-lakiku.

Hingga pernah pada suatu saat, suamiku memarahiku karena adikku telah merusakan salah satu perabotan yang ada di rumah. Padahal pada kenyataannya, adikku tak melakukan seperti yang suamiku tuduhkan. Namun ia seperti tak mau mendengar alasan apapun dariku dan adikku.

Kemarahannya pun tak hanya berhenti pada saat itu saja. Anehnya semua itu dikaitkan dengan adik laki-lakiku. Aku semakin menyimpulkan bila suamiku tak suka akan kehadiran adikku.

Aku sungguh sangat tak mengerti atas apa yang telah terjadi pada suamiku. Dia seharusnya tak bersikap sedemikian itu. Aku adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki adikku. Kalau ia tak hidup denganku, harus ke mana adikku tinggal. Perasaan kecewa dan sedih selalu menyelimuti hari-hariku.

Hal yang sama juga dirasakan adikku, ia tak henti-hentinya menangis dan berucap maaf kepadaku. Adikku yang seharusnya tak boleh merasakan kesedihan atas ketidak harmonisan rumah tanggaku, sering sekali menyalahkan dirinya karena sudah menjadi penyebab pertengkaran di antara kami.

Aku merasa suamiku telah bersikap berlebihan. Dia tidak bisa mengontrol emosinya hingga apapun bisa menjadi akar pertengkaran. Kondisi seperti ini berlangsung selama lima tahun sudah. Selama itu tak ada perkembangan sedikit pun di antara kami berdua. Bahkan kemarahannya pun semakin menjadi-jadi. Aku sungguh sudah tidak bisa menahan kesedihan ini. Hingga terbesit dalam hati ini untuk berpisah. Apa lagi yang harus dipertahankan bilamana sudah tidak ada rasa saling menyayangi, mengerti, dan saling mengalah.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...