Meninggal Setelah Khutbah Jum'at

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Barangsiapa wafat pada hari Jum'at atau pada malam Jum'at maka ia terpelihara dari fitnah (siksa) kubur." (HR. Abu Ya'la).

Ilustrasi

Hari itu tidak ada yang istimewa. Seperti Jum'at-Jum'at sebelumnya, para ta'mir Masjid Jami Al-Abror selalu bergotong royong membersihkan ruangan dan pelataran masjid. Ada yang bertugas menyapu ruangan, pelataran dan ada juga yang membersihkan tempat wudhu beserta kamar mandinya. Semuanya bersih, siap digunakan untuk shalat Jum'at.

Tepat di sebelah kanan masjid, dekat ruangan ta'mir, terpampang papan informasi. Di papan itu tertulis: Hari Jum'at tanggal 19 Juli tahun 2003, nama petugas yang menjadi khatib adalah Ustadz Rohmani (58 tahun).

Ternyata, tanpa sepengetahuan pengurus masjid. Ustadz Rohani sudah sepakat dengan H.M. Sholihin (54 tahun) untuk menukar jadwal khutbahnya.

Hari itu, beliau sedang merasa tidak enak badan, tubuhnya kurang sehat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat seperempat. Para jama'ah mulai terlihat berdatangan. Beberapa menit kemudian, jama'ah sudah banyak yang memenuhi ruangan Masjid Jami Al-Abror yang beralamat di RT. 08/05 Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan itu.

Di halaman masjid terlihat sebuah mobil Daihatsu Espas warna merah hati yang baru diparkir. Dari dalam mobil, keluar H. Sholihin dengan ditemani oleh supirnya, Pak Dani (32 tahun). Dengan langkah tenang, H. Sholihin memasuki masjid. Beliau menyalami para jama'ah sambil berjalan menuju ke shaf paling depan.

Saat itu, tidak tampak sesuatu yang berbeda. Beliau kelihatan normal dan tidak tampak sedang sakit.

H. Sholihin segera menunaikan shalat tahiyatul masjid dua rakaat. Setelah selesai, beliau menyalami Ustadz Muroh (49 tahun) yang tepat berada di samping kanannya sambil berkata, "Kebetulan kemarin saya bertemu dengan Ustadz Rohmani, kami sepakat untuk tukaran jadwal khutbah."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Haji", jawab Ustadz Muroh ketika itu.

Kurang lebih jam dua belas lewat lima menit, H. Sholihin menuju mimbar untuk memulai khutbah. Materi-materi khutbah dengan lancar beliau sampaikan.

"Beliau merasa sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sudah tidak dekat lagi dengan para ulama. Padahal kalau ingin dekat dan mendapat ilmu dari ulama, kita harus selalu menghormati mereka. Intinya begitu," ujar M. Ali Akbar (33 tahun), menceritakan materi ceramah yang disampaikan H. Sholihin siang itu.

H. Sholihin menyampaikan khutbahnya dengan lancar. Tampak sekali kalau beliau memang terbiasa menyampaikan khutbah. Akan tetapi, menjelang akhir khutbah pertama, mulailah tampak keanehan. H. Sholihin terlihat bingung dan raut mukanya terlihat pucat.

"Beliau sampai beberapa kali mengulangi kalimat barakallahi walakum fil qur'anil karim, tetapi tidak ketemu-ketemu (lanjutannya). Langsung saja beliau mengucapkan kalimat gofururrohim sebanyak tiga kali, lalu duduk di antara dua khutbah.

"Sesaat kemudian. H. Sholihin melanjutkan khutbah kedua. Di tengah-tengah khutbah beliau membaca Allahumma shalli 'ala sayidina Muhammad yang dilanjutkan dengan membaca doa penutup. Saat pembacaan doa khutbahnya belum selesai, mendadak H. Sholihin berkata, 'Maaf.... maaf.... maaf.... saya sakit!', sambil kedua tangannya diangkat laksana orang yang sedang menyerah", cerita Ustadz Muroh yang berada di shaf depan.

Wajah H. Sholihin bertambah pucat dan keringatnya terlihat mengalir deras, seakan sedang menghadapi beban yang luar biasa di dalam dirinya.

"Saya melihat wajahnya begitu letih yang teramat sangat", kenang Ustadz Muroh.

Pada saat itu, tubuh H. Sholohin mulai limbung dan tampak mau jatuh. Beberapa jamaah paling depan yang melihat hal itu langsung berinisiatif untuk menolongnya. Mereka segera menyambut tubuh yang limbung itu dengan mendudukkannya di lantai. Seketika itu terdengar teriakan dari arah belakang, yang menyuruh untuk qamat.

"Saat itu tidak ada seorang pun yang berpikir mengeluarkan beliau untuk diberi pertolongan. Beliau hanya didudukkan di jajaran shaf yang paling depan", ujar Ustadz Ali.

Dalam suasana yang sedikit panik, langsung saja ustadz Muroh maju ke depan untuk memulai shalat Jum'at.

"Pada rakaat pertama, saya membaca surat Al-A'laa (yang Paling Tinggi). Kemudian rakaat ke dua membaca surat Al-Ghaasyiyah (Hari Pembalasan). Baru saya membaca kalimat lisa'yiha rodiyah, fi jannatin 'aliyah....saya mendengar suara "Hrrrkkkk....Hrrrkkkkk.....Hrrrrkkkk".

"Langsung saja bacaan suratnya saya percepat. Selesai salam dua kali, saya langsung teriak, "Angkat....!" cerita Ustadz Muroh.

Keadaan kembali panik. Tanpa terlebih dahulu melakukan zikir seperti biasa, para jamaah berdiri dan segera mengotong H. Sholihin ke mobil yang tadi dibawanya. Sebagian jamaah yang lain hanya terbengong-bengong melihat kejadian yang tidak pernah disangka-sangka itu.

PIHAK KELUARGA INGIN KEPASTIAN

Mobil yang dikemudikan Pak Dani segera meluncur ke Rumah Sakit (RS) Ruslani yang cukup dekat jaraknya. Saat itu, ada beberapa orang jamaah yang mengantarkan H. Sholihin ke rumah sakit, yaitu Ustadz M. Ali Akbar, Ustadz Harari, dan Pak Isa. Mereka ingin memastikan kondisi H. Sholihin, meskipun tampaknya lelaki soleh itu sudah tidak bisa bergerak-gerak lagi.

"Saya ikut membawa ke rumah sakit Ruslani untuk mendapatkan keterangan yang akurat dari dokter tentang kondisi H. Sholihin", jelas Ustadz Ali.

Pihak keluarga segera diberitahu dan secepat kilat meluncur ke RS Ruslani. Jerit tangis tidak bisa dibendung lagi. Selama dalam perjalanan pikiran mereka tidak menentuk dan hanya bisa menebak-nebak kejadian yang sebenarnya terjadi terhadap H. Sholihin. Keadaan semakin bertambah haru tatkala mereka melihat kondisi orang yang di cintainya sudah terbaring tak berdaya.

Para dokter di RS. Ruslani mencoba memberikan pertolongan semampunya kepada H. Sholihin di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena peralatan rumah sakit yang kurang memadai.

"Tampaknya, H. Sholihin sudah meninggal di masjid, ketika shalat tadi. Dokter mengatakan, kalau pun saat itu masih hidup, peluang hidupnya hanya 5% saja. Jadi sangat kecil sekali peluangnya", jelas Ustadz Ali memberi gambaran. Tentu saja, hal itu membuat pihak keluarga semakin sedih dan panik. Pihak keluarga masih tidak percaya kalau H. Sholihin sudah tiada.

"Saat bapak berangkat untuk shalat Jum'at, keadaannya normal-normal saja, tidak ada yang berbeda", jelas Hj. Marhamah (51 tahun), isteri almarhum, sambil menangis.

Begiut juga dengan reaksi Siti Rahmah (26 tahun), anak kedua dari H. Sholihin. Ia tidak yakin, bapaknya yang selalu mengantarnya kemana-mana, kini sudah terbaring tak berdaya di rumah sakit. Dengan menangis tersedu-sedu, ia bersikeras meminta pihak RS. Ruslani untuk merujuk bapaknya ke rumah sakit yang lain. Ia hanya ingin memastikan keadaan orang yang sangat dicintainya. Akhirnya dengan mobil ambulance RS. Ruslani, H. Sholihin di bawa ke RS. Pertamina Pusat dengan selang infus masih menempel di lengannya.

Di ruang UGD RS Pertamina, kondisi H. Sholihin kembali diperiksa. Dokter dibantu perawat mencoba memberikan pertolongan yang menjadi standar medis. Selain diinfus, tubuh H. Sholihin juga penuh ditempeli alat-alat yang dihubungkan ke layar komputer untuk memastikan denyut jatungnya. Sayang, tidak ada perubahan yang berarti.

Beberapa kali tubuh H. Sholihin diberikan kejutan dengan alat pemacu jantung. Namun, semua itu tidak juga membantu. Sekitar jam dua siang lewat lima belas menit, dokter rumah sakit memberi kabar dan memastikan bahwa memang H. Sholihin sudah meninggal.

"Saat itu saya yang mengabarkan semuanya kepada keluarga, khususnya istri almarhum," jelas Sahlan Anwar, SAg. (30 tahun) menantu almarhum.

"Saat membawa ke rumah sakit, saya sudah punya feeling bahwa H. Sholihin itu sudah meninggal. Karena tiga bulan lalu, kakak saya yang mengalami sakit stroke saat ingin meninggalnya suaranya juga seperti itu, hrrrrkkk....hrrrrrkkkk.....hhjrrrrrrkkkk. Persis sekali", ucap Pak Ali menerangkan.

Pihak keluarga akhirnya yakin dan hanya bisa pasrah dengan cobaan yang mereka terima. Orang yang menjadi panutan keluarga dan masyarakat telah pergi untuk selamanya.

"Saya bilang kepada istri almarhum bahwa kejadian ini bagus sekali, pokoknya akhirnya bagus, Insya Allah khusnul khatimah. Apalagi kalimat terakhir dari beliau adalah meminta maaf. Entah, minta maaf karena tidak bisa melanjutkan khutbah atau yang lain. Pastinya itu merupakan kalimat yang terakhir", ucap Pak Ali berusaha menenangkan waktu itu.

Jenazah H. Sholihin segera dibawa pulang, Para tetangga sudah banyak yang datang dan memadati rumahnya yang berada di lorong gang. Rumahnya yang sederhana itu, semakin lama semakin penuh dan tidak dapat lagi menumpang pengunjung yang ingin melayat.

Suasana berkabung begitu terasa. Namun, ada hal yang aneh pada jenazah. "Kepala bapak selalu menengok ke sebelah kanan (kiblat), walaupun sudah berulangkali diketengahkan. Wajahnya keringatan, matanya berlinang air mata dan bibirnya selalu saja basah meskipun sudah diusap-usap". kenang Muhammad Fuad (32 tahun), banyak yang menyaksikan keanehan itu.

Hal senada disampaikan Siti Rahmah "Bapak terlihat seperti orang yang sedang tidur sambil tersenyum, bukan seperti layaknya jenazah."

Hari Sabtu, jenazah H. Sholihin dishalatkan di Musholla Darussalam yang dirinris dan dibinanya selama ini. Bertindak sebagai Imam adalah K.H. Samlawi (kedua Umum Masjid Jami Al-Abror). Sekitar jam sebelas siang, diiringin ratusan pelayat, jenazah H. Sholihin di antarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungur, Jakarta Selatan.

PRIBADI TERBUKA DAN BERSAHAJA

H. Sholihin merupakan orang yang sangat aktif dalam pergaulan di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan bidang keagamaan. Apabila ada tetangga atau masyarakat yang meninggal, beliau menyegerakan diri untuk datang melayatnya.

Masyarakat di daerah Kelurahan Bungur menganggapnya sebagai sesepuh masyarakat. Beliau juga merintis pembangunan Musholla Darussalam pada tahun 1985 yang letaknya berdekatan dengan rumahnya. Semua itu sebagai bentuk kecintaannya yang mendalam terhadap agama.

"Seumur-umur, hidup bersama dengan bapak sejak tahun 1969, saya tidak pernah melihatnya shalat di rumah. Kalau dirasakan masih mampu untuk pergi ke mushola atau masjid," ungkap Hj. Marmah.

Bukan hanya shalat wajib, H. Sholihin pun secara kontinyu melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.

"Sepengetahuan saya, bapak secara rutin melakukan shalat Dhuha sekitar jam sembilan pagi dan dilanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur'an. Sebulan, bapak bisa khatam Qur'an tiga kali", jelas anaknya, M. Fuad.

Kegiatan H. Sholihin sehari-hari, selain sebagai pengajar di sebuah sekolah juga mengajar pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak di daerah Bintaro, Pondong Betuang, Ulujami, Petukangan, sampai daerah Gandaria. Hal itu belum termasuk pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak yang diselenggarakan di rumahnya dan di Musholla Darussalam.

Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Insya Allah, meninggalnya H. Sholihin meninggalkan amal kebajikan yang akan selalu di kenang masyarakat di sekitarnya. Amin.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...