Hukum Niat Kurban Digabung Akikah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Ibadah kurban dianjurkan kepada muslim yang mampu. Demikian juga dengan akikah. Bagaimana kalau menyembelih satu kambing tetapi niatnya digabung untuk kurban sekaligus akikah? Berikut penjelasannya.

Kambing Kurban

Kurban (qurbaan: pendekatan) adalah penyembelihan hewan tertentu (unta, sapi/kerbau atau kambing) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada hari Raya Haji (Idul Adha, tanggal 10 Zulhijah) dan/atau hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

BEDA PENDAPAT

Sementara itu akikah (aqiiqah: membelah) adalah menyembelih bintang (kambing/domba) dalam rangka menyambut kelahiran anak. Mengenai waktu akikah, para fuqaha' berbeda pendapat sebagai berikut. Jumhur fuqaha' berpendapat bahwa waktu pelaksanaan akikah adalah pada hari ke tujuh dari kelahiran anak.

Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Saw, "Setiap anak itu tergadai (dan ditebus) dengan menyembelih binatang akikah pada hari ke tujuh dari hari kelahirannya...," (HR Ashabussunan). Tetapi Imam Syafi'iy berpendapat bahwa jika pada hari ke tujuh belum dapat melaksanakan akikah, maka waktunya bisa diperpanjang sampai hari ke empat belas (2 minggu).

Sedang Imam Malik berpandangan lebih longgar sedikit, yakni waktu akikah dapat diperpanjang sampai hari ke dua puluh satu (3 minggu). Bahkan sebagian ulama Malikiyah ada yang berpendapat bahwa waktu akikah dapat diperpanjang lagi sampai waktu sebelum anak mencapai usia baligh (Dewasa).

Sampai saat ini belum ada fuqaha' yang berpendapat bahwa akikah boleh dilaksanakan walau pun orang yang diakikahi sudah dewasa, kecuali di brosur-brosur atau spanduk-spanduk yang menawarkan kambing akikah yang tidak membatasi umur yang diakikahi.

Mengenai hukum akikah, para fuqaha' juga berbeda pendapat sebagai berikut. Sebagai ulama mazhab Adh Dhahiriy berpendapat bahwa hukum akikah adalah wajib. Sedang Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa hukum akikah itu hanyalah mubah (boleh) saja. Sementara jumhur fuqaha' berpendapat bahwa hukum akikah adalah sunah. Perbedaan pendapat ini bermuara pada penafsiran dan pemahaman mereka terhadap hadis riwayat Ashabussunan di atas.

MENYATUKAN NIAT

Terkait dengan keinginan orang untuk berniat menyatukan kurban dan akikah, maka yang harus diperhatikan adalah:

Pertama, nabi dan sahabat tidak pernah melakukan yang demikian, padahal masalah ini lebih berdimensi ritual, sehingga harus ada petunjuk atau contoh atau setidaknya isyarat dibolehkannya hal itu dilakukan. Sebab dalam hal ibadah ritual kaidah fiqhiyyah paling pokok adalah "Pada prinsipnya dalam hal ibadah itu dilarang (batal) sampai ada dalil yang menunjukkan adanya perintah."

Kedua, dari aspek fiqih ada kesenjangan yang cukup lebar antara kurban dengan akikah, karena kalau korban itu boleh dan bisa dilakukan oleh orang usia berapa pun, sedangkan akikah hanya boleh dan sah dilakukan ketika anak baru berusia 7 hari, atau 14 hari atau 21 hari, atau maksimal sebelum baligh.

Ketiga, memang dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh, semua perbuatan itu terkait/tergantung niatnya..." Dalam perspektif fiqih, hadis ini menjadi primadona bagi para fuqaha' untuk menjustrifikasi bahwa niat itu menjadi penentu sah (bukan syah) atau tidaknya suatu ibadah, artinya untuk sahnya suatu ibadah itu harus disertai niat.

Sedang dalam perspektif tasawuf difahami bahwa niat itu menjadi penentu berpahala atau tidaknya suatu ibadah. Artinya sama-sama berkurban (misalnya) bila niatnya berbeda, maka berbeda pula pahalanya. Ada juga yang secara "liberal" memahami bahwa pahala ibadah itu tergantung niatnya.

Artinya sama-sama menyembelih seekor kambing (misalnya) jika yang seorang hanya berniat untuk ber-kurban, maka dia juga hanya mendapat pahala kurban saja, sedang jika yang lain meniatkannya untuk berkurban dan akikah, maka dia akan mendapatkan pahala keduanya.

Yang benar dan wajar adalah bahwa niat itu menjadi penentu sahnya hanya satu (bukan banyak dijadikan satu) ibadah sehingga pahalanya juga hanya terkait dengan satu ibadah saja. Bahkan dalam perspektif fiqih, satu amalan yang diniatkan untuk banyak hal menjadi tidak sah karena tidak jelasnya niat sehingga dianggap belum berniat.

Secara logika pun tidak masuk akal tatkala ada orang yang hanya menyembelih seekor kambing lantaran diniatkan dua (kurban dan akikah) lalu mendapat dua kali lipat dibanding orang yang hanya meniatkannya untuk satu (kurban saja, misalnya).

Dalam hal ini ada kata hikmah (mutiara) yang patut direnungkan, yaitu: ats-Tsawaab biqadrit ta'ab (maknanya, pahala suatu amalan itu terkait dengan tingkat kesulitannya). Wallahu a'lam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...