Tegas Mendidik Anak Dengan Meniru Sang Teladan

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Rasulullah mempunyai hati yang penuh dengan rasa sayang, cinta, kelembutan dan keramahan terhadap anak-anak. Akan tetapi, semua kasih sayang dan kelembutan itu beliau curahkan dalam batas-batas yang proposional. Tak terkecuali pada anak kesayangannya, Fatimah. Rasulullah selalu bersikap tegas dan tidak memanjakan putrinya.

Ilustrasi

Rasulullah sebagai seorang ayah tetap bersikap tegas walaupun terhadap putri kesayangannya, Fatimah. Suatu ketika, Rasulullah pernah marah saat Fatimah memperlihatkan kalung emas hadiah dari Abul Hasan, Suaminya. Sehingga saat itu beliau tidak menyambut Fatimah dengan ramah dan tidak menciumnya seperti yang selalu beliau lakukan.

Bahkan beliau berkata dengan nada tinggi, "Senangkah engkau jika orang-orang mengatakan 'Putri Rasulullah tengah memegang kalung dari api neraka?" Setelah berujar seperti itu, Rasulullah pun segera pergi tanpa sempat duduk.

Akhirnya Fatimah segera menjual kalungnya ke pasar dan hasil penjualannya ia belikan seorang budak untuk dia memerdekakan. Ketika Rasulullah mengetahui hal itu, beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka."

BERSIKAP TEGAS

Sikap tegas Rasulullah pun terpancarkan tatkala salah seorang perempuan dari Bani Makhzum ada yang mencuri. Dan orang-orang Quraisy pun mencemaskan hal tersebut. Sebagian orang dari mereka pun bertanya kepada orang lain, "Siapa yang dapat berbicara dan memintakan keringanan hukuman kepada Rasulullah?" Di antara mereka ada yang menjawab, "Tidak ada yang bisa melakukannya selain Usamah, seorang laki-laki kesayangan Rasulullah."

Usamah pun membicarakannya dengan Rasulullah. Namun, beliau berkata, "Apakah engkau hendak membela orang yang telah melanggar hukum Allah?" Selanjutnya, beliau pun berkata kepada para sahabat, "Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa disebabkan jika orang bangsawan di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Akan tetapi, apabila yang mencuri itu orang lemah, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah mencuri, pasti akan aku potong tangannya."

TAK MEMANJAKAN

Ketegasan sebagai ayah pun tetap Rasulullah tunjukan kepada Fatimah, sekalipun ia sudah berkeluarga. Kehidupan Fatimah yang serba kekurangan dan tidak memiliki pelayan membuat tugas-tugas rumah tangga dikerjakan sendiri. Mulai dari menggiling gandung, mengambil air dan geriba sampai dadanya sakit, dan membersihkan dan menyapu rumah. Fatimah dan Ali tidak mampu menyewa orang untuk membantu pekerjaannya yang berat.

Setibanya Rasulullah dari suatu peperangan dengan mendapatkan banyak harta rampasan dan tawanan, Ali segera berkata kepada Fatimah, "Wahai Fatimah, sungguh beban pekerjaanmu telah membuat terenyuh hatiku, sedang saat ini ayahmu memiliki banyak tawanan. Karenanya alangkah baiknya kalau engkau mau meminta salah seorang di antara mereka untuk kita jadikan pelayan."

Fatimah menjawab, "Akan aku laksanakan, Insya Allah." Dia pun datang menghadap Rasulullah. Sesampainya di sana, Rasulullah pun bertanya, "Apa keperluanmu wahai anakku?" Fatimah pun menjawab, "Aku hanya hendak memberikan salam kepada engkau." Fatimah malu untuk menyampaikan keinginannya kepada ayahnya.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi bersama Ali. Ali yang menceritakan keadaan Fatimah dan mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah sebagai ayah yang tegas itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memberikan seorang pelayan pun kepada kalian berdua karena aku tidak mau membiarkan orang-orang fakit melipat perutnya karena lapar. Saat ini, aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat aku berikan kepada mereka. Oleh karena itu, budak-budak itu akan aku jual harganya kushadawahkan kepada orang-orang fakir."

Putri Rasulullah itu pun akhirnya pulang dengan tangan hampa, padahal dia termasuk orang yang sangat dicintai Rasulullah dan hidupnya serba kekurangan. Rasulullah lebih mengutamakan orang-orang fakir yang lebih membutuhkan daripada anaknya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...