Sumpah Ibu, Anak Durhakan Jadi Gila

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Nabi pernah berpesan kepada kita bahwa ridha Allah ada pada ridha orangtua kita, dan murka Allah ada pada murka orangtua kita. Karena itu, berhati-hatilah!

Ilustrasi

Dulkarim (40 tahun), sebut saja begitu, berjalan dengan pakaian compang-camping. Tubuhnya begitu dekil. Beberapa anak kecil menggodanya dengan sebutan 'si gila'. Pria ini sudah beberapa bulan terakhir tak terurus. Kadang berbicara sendiri. Kadang menangis sendiri, dan tiba-tiba tertawa kencang.

Perilaku aneh ini terjadi setelah ia terlihat sering murung dan melamun. Usai kematian ibunya, ia seperti orang yang tidak waras lagi. Maka, orang kampung pun kini menyebutnya 'si gila'.

Setelah tidak waras lagi, ia jarang pulang ke rumah. Ia tidur di mana saja. Makan pun sedapatnya. ia kadang tidur di lokasi pemakaman ibunya. Menangis dan tertawa sendiri. Warga memiliki tiga persepsi yang berbeda mengenai perilaku aneh yang terjadi pada Dulkarim.

Pertama, warga menilai bahwa Dulkarim gila karena belum menerima dengan ikhlas atas kematian ibunya. Kedua, warga menilai bahwa Dulkarim kena kutukan sumpah ibunya sendiri. Ketiga, ia gila lantaran ditolak pacarnya saat diajak menikah.

Untuk penilaian pertama, warga memang masih sangsi. Pasalnya, Dulkarim bukanlah anak yang disenangi ibunya. Ia bukan anak yang shaleh. Justru, selama ibunya hidup, Dulkarim kerapkali melakukan perangai yang tidak disukai ibunya. Pertengkaran kerapkali terjadi antara Dulkarim dan Ibunya.

Sebelum kematian ibunya, Dulkarim bahkan masih bersitegang dengan ibunya. Ketika mau menjemput ibunya, Dulkarim bahkan tidak sempat menemui ibunya hingga jasadnya dimakamkan.

Sebelum meninggal, ibunya lama menderita penyakit maag kronis dan problem pada ususnya. Sumber lain menyebutkan bahwa dia sakit tipus. Karena kekurangan dana untuk berobat, ibunya jarang memperhatikan penyakit itu.

Ia sudah lama hidup bersama dengan anak semata wayangnya itu. Sudah 10 tahun ia menjanda. Suaminya meninggal akibat kecelakaan tertabrak mobil. Dari perkawinannya dengan sang suami, ia dikaruniai satu anak, yang tak lain adalah Dulkarim, yang kini menjadi orang gila.

Untuk membiayai kebutuhan hidup setiap hari, Dulkarim maupun ibunya, yakni Ibu Nurjanah (67), nama samaran, mengandalkan peternakan ikan dan sawah. Meski tak tergolong mampu, bisa dibilang kehidupan Ibu Nurjanah maupun Dulkarim sangat sederhana. Sawah dan peternakan ikan yang ia miliki hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

SEPAK TERJANGNYA

Menurut cerita dan pengakuan beberapa tetangganya, Dulkarim sebenarnya anak seorang ayah sehingga Dulkarim terbawa pergaulan yang tak sehat. Beberapa warga di sekitar sering menjumpai Dulkarim mabuk dan berjudi.

Lebih parahnya lagi, setelah Dulkarim pulang dari kerja di Jakarta. Perubahan perilaku sangat terlihat sekali. Dulu, Dulkarim sempat bekerja di Jakarta sekitar 3 tahun. Menurut cerita, ia kerja di sebuah pabrik di Jakarta. Entah kenapa, waktu itu Dulkarim berhenti bekerja di Jakarta dan kembali ke kampung halaman.

Setelah kembali ke kampung halaman, Dulkarim sempat menganggur. Ia tidak bekerja apa-apa. Setelah itu, ia kembali lagi ke Jakarta. Kali ini, menurut cerita, ia kembali ke Jakarta untuk berdagang, dan bukan kerja di pabrik. Ia bekerja di Pasar Senen dengan membuka lapak elektronik. Bisa dibilang Penjual Kaki Lima (PKL). Selama berada di Jakarta, Ibu Nurjanah tinggal dengan salah seorang keponakannya yang perempuan.

Beberapa tahun berjualan di Jakarta, Dulkarim akhirnya kembali lagi ke kampung halaman. Kali ini alasannya karena ia mengalami kerugian atas dagangannya itu, sehingga ia kehabisan modal. Di kampungnya ia sempat membuka usaha kecil berupa pencucian sepeda motor. Dalam membuka usaha ini ia terbilang cukup ramai. Namun, hubungannya dengan sang ibu mulai buruk.

Dulkarim acapkali bertengkar dengan ibunya. Kadang ia sering memukul ibunya lantaran tidak bisa menahan emosi. Abdurrahman (35 tahun, nama samaran), tetangga Dulkarim, beberapa kali melerai perkelahian antara Ibu Nurjanah dan Dulkarim.

Sebagai tetangga ia kadang prihatin dengan apa yang menimpa Ibu Nurjanah. Pasalnya, ibu yang sudah tua itu harus mendapat perlakuan buruk dari anak yang pernah dilahirkannya itu.

"Saya beberapa kali melerai mereka bertengkar. Saya bahkan sempat melihat Dulkarim menendang kaki ibunya. Kejadiannya sekitar dua tahun lalu. Waktu itu, seingat saya, Dulkarim meminta agar ladang peternakan ikan milik ibunya dijual untuk modal usahanya," jelas Abdurrahman, Beberapa kali, kata Abdurrahman, Ibu Nurjanah mengucapkan kalimat umpatan kepada anaknya itu.

Ibu Nurjanah memang tidak mengizinkan anaknya menjual ladang peternakan ikan karena hanya itu penopang hidup dirinya. Tanpa ada ladang peternakan ikan, jelas Abdurrahman, mungkin Ibu Nurjanah kesulitan untuk makan setiap hari.

"Ibu Nurjanah punya ladang ternak ikan bandeng. Memang tidak begitu luas. Tapi, dalam tiga bulan, hasilnya cukup menutupi kebutuhan hidupnya. Setidaknya, apabila ia berutang di warung, ada harapan untuk membayar hutangnya dari hasil panen ternak ikan tersebut," ungkap Abdurrahman, yang masih memiliki hubungan famili dengan Ibu Nurjanah.

Ibu Nurjanah pernah menyatakan kesal dengan anaknya kepada Abdurrahman. Ia merasa jengkel atas perilaku anaknya itu. "Saya sempat menasihatinya agar tetap sabar," kata Abdurrahman, melanjutkan.

Salah satu umpatan yang diutarakan Ibu Nurjanah, kata Abdurrahman, adalah kalimat bahwa dirinya tidak akan terima sampai mati bila tanah ternak ikan itu dijual. Di samping itu, untuk menutupi biaya hidupnya hingga mati, tanah tersebut juga tidak boleh dijual oleh almarhum suaminya.

Sebelum meninggal, suaminya berpesan agar tanah tersebut tidak dijual ke siapa-siapa. Biarkan tanah ternak ikan itu menjadi tanah miliki keluarga secara turun-temurun.

Singkat cerita, kata Abdurrahman, Dulkarim ternyata secara sembunyi-sembunyi menjual tanah tersebut. Ia mengambil sertifikat tanah tanpa sepengetahuan ibunya. Setelah tanah itu dijual, ibunya marah besar. Ia sangat kecewa kepada anaknya. Ia sempat berucap, "Demi Allah, saya tidak ikhlas tanah itu dijual. Saya sumpahi kamu hidup tidak bahagia. Kamu hidup seperti orang yang tidak hidup," umpat Ibu Nurjanah, seperti yang ditirukan Abdurrahman.

Mendengar umpatan itu, Abdurrahman sama sekali tidak memperhatikannya secara serius. mengingat, kata dia, umpatan dan sumpah itu wajar diutarakan oleh orang yang sedang berada dalam kondisi yang sangat kesal dan emosi sekali. Setelah kejadian itu, Ibu Nurjanah mulai sakit-sakitan. Dulkarim juga sudah jarang pulang ke rumah. Ia lebih sering tinggal di tempat usahanya, yakni pencucian sepeda motor.

Setelah Ibu Nurjanah meninggal, Abdurrahman kemudian mengaitkan ucapan Ibu Nurjanah itu dengan nasib Dulkarim. "Mungkin, sumpah itu yang menjadi doa dan didengar oleh Allah. Akhirnya Dulkarim seperti ini (gila). Kita kan tahu bahwa doa seorang ibu itu kramat. Kita tidak boleh menganggap remeh. Makna kalimat 'hidup seperti orang yang tidak hidup' bisa jadi, ya, seperti sekarang ini. Dulkarim menjadi gila. Ia hidup seperti orang yang tidak hidup. Hidupnya luntang-lantung sebagai orang gila," kata Abdurrahman.

LAMARAN DITOLAK

Untuk apa Dulkarim menjual tanah ternak ikan milik ibunya? Ternyata, uang hasil penjualan tanah itu ia gunakan untuk membuka usaha. Di samping untuk usaha, hasil penjualan tanah itu juga dipergunakan untuk menutup utang-utangnya lantaran sering kalah judi. Sementara ibunya sama sekali tidak diberi apa-apa atas penjualan tanah ternak ikan itu.

Pada saat Ibu Nurjanah menghadapi sakaratul maut, Dulkarim tidak sempat menjenguk. Lokasi usaha pencucian sepeda motor dengan rumah ibunya sekitar 35 km. Namun begitu, ia sama sekali tidak punya niatan untuk pulang ke rumah. Beberapa orang dari pihak keluarga mencoba menasihati Dulkarim untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit parah menjelang ajal. Tapi, setiap bujukan itu tidak pernah ia gubris. Ternyata Dulkarim juga menyimpan rasa dendam yang besar terhadap ibunya.

Hingga menjelang sakaratul maut, Ibu Nurjanah juga masih memiliki ganjalan di pikirannya soal anaknya itu. Ia juga masih belum ikhlas memaafkan anaknya. Ini terbukti ketika ditanya beberapa keluarga mengenai Dulkarim yang tak mau menjenguk dirinya yang sakit parah.

"Dulkarim tidak mau kemari, Bi," kata salah seorang keponakannya, seperti yang ditirukan Abdurrahman.

"Biarkan saja," jawab Ibu Nurjanah.

"Emang Bibi tidak mau Kang Dulkarim pulang ke rumah ini."

"Buat apa dia pulang. Toh hanya membuat hati saya sakit," jawabnya.

"Sudahlah. Bibi maafkan saja. Biar Bibi cepat sembuh," saran keponakannya.

"Entahlah."

Beberapa hari kemudian Ibu Nurjanah meninggal dunia. Beberapa orang diutus untuk menjemput Dulkarim. Tapi ternyata sulit dan tak mau datang. Alasannya karena Dulkarim sibuk. Setelah jasad Ibu Nurjanah dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan, barulah Dulkarim datang dengan sendirinya. Ia datang karena ia adalah ahli waris satu-satunya peninggalan Ibu Nurjanah. Ia mau mengurus hak miliknya, termasuk rumah peninggalan ibunya.

Dua bulan usai meninggalnya Ibu Nurjanah, ada kabar bahwa Dulkarim di tolak orangtua pacarnya saat hendak mau menikahi pacarnya. Pihak orangtua para menolak lamaran Dulkarim lantaran kebiasaan buruk Dulkarim yang tak berubah, yakni suka judi. Padahal, Dulkarim sangat mencintai pacarnya itu. Usai ditolak, pacarnya justru menikah dengan pria lain.

Atas kejadian ini, Dulkarim shock berat. Ia sangat frustasi. Ia sering terlihat murung dan melamun di depan rumah. Di rumah itu hanya tinggal sendirian, setelah ibunya meninggal. Para tetangga khawatir dengan apa yang menimpa Dulkarim. Ia jarang mengurus usaha pencucian sepeda motornya. Pendek kata, ia lebih sering melamun di rumah.

Beberapa bulan kemudian tetangga menyaksikan gelagat yang aneh pada Dulkarim. ia jarang terlihat mandi. Ia juga sering tersenyum dan tertawa sendiri. Saat ditanya, jawabannya ngelantur entah kemana. Istilah orang, tidak nyambung antara pertanyaan dan jawaban. Kian lama justru hal ini kian parah. Dulkarim sudah tampak stres dan gila. Ia tidak pernah mandi, sering menangis sendiri, dan tertawa kencang secara tiba-tiba. Rumahnya tidak pernah dibersihkan.

Saat Abdurrahman bertandang ke dalam rumahnya, ruang dalam rumahnya sudah berbau busuk dan berantakan, lantaran tidak pernah diurus dan dibersihkan. Lebih parahnya lagi, Dulkarim sering keluyuran ke jalan dengan mengenakan pakaian compang-camping. Orang kemudian menjulukinya dengan sebutan 'si gila'.

RIDHA ALLAH

Kini Dulkarim sudah menjadi pria gila. Ia sering kedapatan menangis sendirian di kuburan ibunya. Warga sangat kasihan dengan apa yang menimpa Dulkarim. Pihak keluarga sudah memeriksakan kejiwaan Dulkarim ke Dokter. Namun, kata dokter, Dulkarim mengalami tekanan jiwa yang sangat luar biasa. Yang bisa menyembuhkannya hanyalah dirinya, sekuat apa dia mampu melupakan kejadian-kejadian masa lalunya.

Pihak keluarga disarankan untuk tidak menyalahkan dirinya. Mereka disarankan agar menenangkan kejiwaan Dulkarim secara perlahan-lahan. Dan, yang tak kalah penting adalah doa. Dulkarim butuh doa dari orang-orang yang dulu pernah disakitinya. Mereka yang pernah disakitinya harus bisa memaafkan kesalahannya.

Melihat peristiwa yang menimpa Dulkarim ini, Abdurrahman hanya berpendapat bahwa soal penyebab gilanya Dulkarim hanya Allah yang tahu. Apakah ini ada kaitannya dengan sumpah yang pernah diutarakan almarhum Ibu Nurjanah, itu pun wallahu a'lam. Lalu, apakah Dulkarim gila karena ditolak lamarannya oleh keluarga pacarnya, itu pun hanya Allah yang Maha tahu.

Yang jelas dan yang pasti, kata Abdurrahman, kita sebagai manusia harus mawas diri dan hati-hati dalam memperlakukan orangtua kita, terutama sang ibu. Dia adalah kramat di dunia ini. Ridha Allah ada pada dia. Jika ibu ridha pada kita, maka Allah juga akan ridha. Sebaliknya, jika ibumurka, maka Allah akan murka. Itulah pesan Nabi Muhammad kepada kita. Oleh karena itu, apa yang menimpa Dulkarim hanya sekelumit kisah tentang kehidupan agar kita berhati-hati dan tidak berbuat durhaka pada orangtua, terutama ibu.

Jangan sampai ibu mengeluarkan kalimat yang buruk untuk kita, apalagi dengan mengucapkan sumpah yang buruk atau kutukan. Bisa jadi itu adalah doa. Dan doa orangtua untuk kita akan langsung didengarkan Allah. Wallahu a'lam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...