Setelah Shalat, Guru Ngaji Wafat Tersenyum

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Menegakkan shalat merupakan prinsip hidup Ningrum. Tak heran jika akhir hayatnya pun dalam keadaan husnul khatimah. Betapa tidak, muslimah asal Mojokerto uang dikenal sebagai guru ngaji itu menghadap ilahi rabbi usai melaksanakan shalat.

Ilustrasi

Selalu menegakkan shalat. Itulah prinsip yang dipegang Ningrum, selama hidup. Muslimah 60 tahun ini pernah berpesan kepada semua anaknya agar jangan sampai meninggalkan shalat.

Yani, salah satu anaknya yang tinggal di Surabaya, menuturkan, selama hidup ibunya menegakkan shalat. Meski memasuki usia senja, tapi suara ngajinya masih lantang. Menakjubkannya, Ningrum ini kalau sore mengajar ngaji.

Di kediamannya, sehari-hari Ningrum disibukkan dengan bertani. Sebelum memulai aktivitasnya, pagi buta wajah Ningrum yang mulai keriput selalu terbasuh dengan air wudu. Jika sudah begitu, ia bergegas menuju musala dan shalat Shubuh.

Namun, sembari menunggu fajar tiba, ia menggunakan waktunya untuk mengaji Alquran. Di kala terik, barulah ia beraktivitas seperti biasanya. Meski terbilang sudah tua, tapi Ningrum ini selalu semangat mengajar ngaji. Makanya tak heran jika sore tiba, banyak anak ngaji di rumahnya.

"Biasanya ngajar ngaji dibantu adik saya juga," ungkap Yani.

Menurut Yani, ibunya ini wafat karena serangan jantung. Ceritanya, saat itu Ningrum hendak ke mushala untuk shalat subuh. Sementara Yani sendiri juga bangun dari tidurnya.

Tapi ternyata setelah beberapa langkah menuju pintu, ia berbalik ke dalam rumah.

"Loh, Bu, Kenapa gak ke Mushala?" tanya Yani.

"Ibu gak enak badan, Yan," jawab Ningrum sambil memegangi dadanya.

Beberapa hari sebelum meninggal, Ningrum memang terlihat kesakitan. ia sering mengeluh nyeri di dadanya. Bahkan, ia kerap pingsan.

Hanya saja, ketika dirujuk ke rumah sakit, Ningrum selalu menolaknya. Hal seperti inilah yang kadang membuat anak-anaknya marah. Meski Ningrum berdalih tak ingin merepotkan, tapi anaknya cemas melihat kondisinya yang semakin buruk.

"Sejak dulu itu ibu enggak mau ngerepotin anak dan keluarga lainnya," ujar Yani.

TAMPAK TERSENYUM

Setelah menunaikan shalat subuh, Yani pun kembali ke rumah. Ia tak mendengar suara ngaji dari Ningrum. Memang ada yang terasa ganjil lantaran kebiasaan ibunya ini selalu ngaji usai shalat subuh.

Yani pun menuju kamar Ningrum di ujung pintu kamar mandi belakang. Begitu dilihat, ia kaget," Astagfirullah!!" teriak Yani.

"Tolong!!!... Tolong!!!," jerit Yani.

Yani membalik badan ibunya. Dari hidung sang ibu meneteskan darah. Tak ada lagi denyut nadi di tangan Ningrum. Napasnya berhenti.

"Innalillahi wa innailaihi..," seru tetangganya yang juga menolong Ningrum.

Pagi itu Ningrum menghembuskan napas terakhir dalam keadaan shalat. Kabar ini segera menyebar dengan cepat. Sanak saudara dan tetangga sekitar langsung memadati rumahnya.

Tak ada yang menyangka, jika nenek dua anak ini wafat. Pasalnya, malamnya Ningrum masih sehat dan ikut pengajian di kampungnya.

Yang membuat warga kagum yakni wajah Ningrum seolah tersenyum. Meski darahnya menetes dari hidung, tapi wajahnya terlihat cerah.

"Tentu kami semua kaget. Tapi saya sendiri kagum lantaran meninggalnya almarhum ibu saya tepat saat shalat," ungkap Yani.

PEREMPUAN SALEHAH

Meninggalnya Ningrum dengan khusnul khatimah juga dibenarkan Narto, tetangga Yani. Menurut dia, Ningrum ini merupakan panutan masyarakat sekitar. Kesederhanaan dan sikap penyayangnya, membuat warga sekitar merasa segan kepada almarhumah.

Tak hanya itu saja, sepeninggal Ningrum, tidak ada lagi sosok yang mampu menandingi dirinya. Terlebih dari sisi religiusnya. Sebab, Ningrum ini merupakan muslimah yang rajin ibadah dan selalu menerapkan amalan-amalan kebaikan dalam kehidupan sehari-harinya.

Narto sendiri melihat, ketika sore hari, pasti almarhumah mengajar anak-anak ngaji di musala depan rumahnya. Bahkan anaknya juga diajar ngaji oleh Ningrum. Ia merasa takjub lantaran Ningrum meninggal dengan kondisi khusnul khatimah.

Sebenarnya Narto berharap agar Ningrum panjang umur. Sebabnya, Ningrum bisa membimbing putranya juga dan mengenalkan agama.

"Betapa nikmatnya berpulang ke rahmatullah dengan jalan seperti itu. padahal beliau adalah guru ngaji yang sangat diharapkan masyarakat," terangnya.

Kekaguman juga diungkapkan Ahsan, tetangga yang lain. Ia benar-benar merasa kehilangan atas kepergian Ningrum yang tidak pernah disangka sebelumnya. Di mata Ahsan dan keluarganya, sosok Ningrum ini termasuk perempuan salihah. Tak pernah bergunjing dan selalu mengajak perempuan sekitar agar gemar ngaji.

"Saya kira itu akhir hidup yang baik, karena meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, yakni menghembuskan nafas terakhir yang diimpikan banyak orang. Semoga almarhumah mendapat balasan surga karena sudah mengajarkan ngaji, termasuk ngajar ngaji anak saya," tandas dia mendoakan.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...