Sedekah Supir Dan Doa Sang Nenek

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Setelah nenek itu duduk, Mudakir mengalami sensasi lain, hingga ia terpaku dan terpana melihat apa yang dilakukan si nenek di dalam angkotnya.

Ilustrasi

Mudakir, panggil saja lelaki bersahaja itu dengan sebutan begitu. Sebagai seorang supir angkot yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Mudakir merasa harus mencari nafkah dengan sungguh-sungguh demi menjalankan titipan Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Istri dan anaknya harus ia nafkahi dengan baik. Berbekal keluhuran niatnya itu, kerja apapun Mudakir lakoni dan sekarang ia memilih menjadi supir angkutan kota.

Dalam rutinitas kerjanya, pengalaman pahit manis dikecap Mudakir. Dia yang setiap hari bertemu dengan bermacam penumpang dengan segala karakternya, sudah pasti, ada saja problema yang harus dihadapinya.

"Saya ini tidak pernah rewel pada kepenumpang," Ucap Mudakir melanjutkan mukadimahnya yang sempat jeda karena penumpang minta diturunkan mendadak, pada saat itu posisi mobil Mudakir di tengah, jadi ia harus hati-hati menepikan kendaraannya, demi keselamatan penumpang dan juga kendaraan lainnya.

Saat penumpang sudah turun, Mudakir melanjutkan ucapannya, "Nah begitu itu contohnya, Mas," lanjut Mudakir.

"Kalau sopir lain, diberhentikan mendadak seperti itu, bisa jadi marah-marah, atau sedikitnya menggerutu," tambah Mudakir.

Ia juga menerusi, bahwa terhadap penumpang, ia selalu berusaha memperlakukannya dengan baik. Mobil yang dikendarainya tidak ugal-ugalan. Tidak mau ngebut, ngerem mendadak sehingga membuat penumpang tersungkur.

"Bagi saya, penumpang itu raja. Mereka harus dilayani dengan baik," ucap Mudakir lagi.

"Saya juga tidak pernah rewel soal ongkos. Kalau ada penumpang yang bayarnya kurang, saya tidak pernah marah, bahkan kalau ada yang bilang tidak punya ongkos dan minta diantar ke tujuan, ya saya persilahkan dia naik."

Itulah isi perbincangan separuh perjalanan reporter AkuIslam.ID bersama Mudzakir. Dalam perbincangan itu, dapat disimpulkan bahwa Mudakir adalah seorang supir angkot yang baik dan penuh pengertian.

"Jika ada mereka yang bayar ongkos kurang atau tidak bayar sama sekali, saya anggap itulah sedekah," tiba-tiba Mudakir berucap lagi.

Semakin tertarik, Sedekah? Adakah pengalaman tentang sedekah Mudakir yang dapat kita ambil hikmahnya?

Suatu hari, Mudakir merasa hari-hari kerjanya tidak sebaik hari-hari kemarin. Seusai shalat Shubuh, seperti biasanya Mudakir mempersiapkan kendaraannya dalam beberapa menit, kemudian meluncur membelah dinginnya udara pagi.

Mudakir berharap, hari ini ia mendapat rezeki lebih baik dari kemarin. Dengan antusias dan keyakinannya, Mudakir mulai menjalani tugas. meter demi meter trotoar, ratusan meter, hingga kiloan meter ia lalui. Puluhan orang, bahkan ratusan orang pengguna jasa transportasi dilewati, namun sudah dalam hitungan belasan kilometer, penumpang yang duduk di bagian belakang angkotnya hanya sematang wayang.

"Euyyy... pada kemana nih penumpang saya," batin Mudakir dengan wajah sumringah, meski sepi penumpang.

Sejauh roda empatnya bergulir, sejauh itu pula kesepian penumpang tetap membungkus. Mudakir tidak mengeluh, walaupun angkot dengan nomor trayek yang sama justru bernasib lebih baik, bahkan sangat baik. Supir-supir lain mendapat penumpang yang sarat, sedangkan angkot Mudakir hanya satu dua penumpang saja yang duduk sambil melamun.

"Apa pengalaman ini sering dialami?" tanya Akuislam.id.

Mudakir tersenyum sambil menggeleng. "Saya tidak mengeluhkan hal ini, Mas. Bagi saya, rezeki itu sudah ada yang mengatur."

Pendapat Mudakir benar. Meski hari itu sampai jam sepuluh siang, penumpangnya bisa dihitung dengan jari. Tetapi,s etelah ia shalat Dzuhur, sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya terjadi. Itulah kekuasaan Allah. Apabila Dia berkehendak "Kun Fayakun!"

Alkisah, Mudakir kembali melanjutkan tugasnya. Ongkos yang terkumpul di dompetnya buat setoran mungkin tidak cukup untuk menutupi bensin yang sudah menguap cukup banyak. lagi-lagi Mudakir tak mengeluh. Ia pasrahkan pada kemurahan Allah semata.

Dalam perjalanan seratus meter dan masjid. Seorang penumpang menyetop mobilnya dan naik dengan hati-hati sambil tersenyum. Penumpang itu tersenyum karena sambutan ramah Mudakir. Pada meter-meter selanjutnya, kembali seorang penumpang naik.

"Alhamdulillah," Ucap syukur Mudakir. Dan mobil terus bergerak dengan hati-hati.

Saat melewati pertigaan jalan, seorang nenek menyetop kendaraan Mudakir. "Nenek minta diantar, Nak. tapi nenek tidak punya uang, boleh?" ucap si nenek dengan intonasi yang teratur. Si nenek juga tersenyum.

"Memangnya nenek mau ke mana?" tanya Mudakir sopan.

Si nenek memberitahukan alamatnya. "Boleh ya, nanti nenek bayar dengan doa". Ucap nenek. Mudakir terkesima, namun hanya sesaat, sebab selanjutnya, dengan sangat sopan Mudakir mempersilahkan si nenek masuk ke dalam mobilnya.

Lalu, nenek itu masuk ke dalam mobil dengan perlahan. Mudakir menunggu sampai si nenek benar-benar duduk dengan nyaman. Setelah ia duduk, Mudakir kembali mengalami sensasi lain, hingga ia terpaku dan terpana melihat apa yang dilakukan si nenek di dalam angkotnya.

Si nenek duduk sambil mengangkat kedua tangannya sebatas telinga, telapak tangannya dibentangkan lebar-lebar, sementara mulutnya bergerak-gerak tanpa suara yang keluar. Sepertinya, si nenek sedang memanjatkan doa dan itu dilakukannya dengan begitu khusyu'.

Mudakir masih terperangah memandangi si nenek. Namun saat si nenek bilang. "Sudah, jalankan kembali mobilnya." Mudakir gelagapan dan dengan serta merta menjalankan mobilnya.

PENUMPANG SILIH BERGANTI

Inilah kekuatan sedekah itu. Meski Mudakir tidak secara langsung menyedekahkan uangnya. Wujud pertolongannya kepada si nenek juga dapat bermakna sedekah.

Dan saat si nenek masih berada dalam angkotnya. Mudakir merasakan suasana lain di dalam kendaraannya, juga dalam dirinya. Mudakir merasa dirinya begitu tenang. Dan penumpang yang memerlukan jasa angkor, seperti tak henti menyetop kendaraannya.

Satu penumpang turun, satu penumpang naik. Dua penumpang turun, dua penumpang lain naik. Begitu silih berganti penumpang yang masuk ke dalam angkot Mudakir. Jadi, sepanjang perjalanan trayeknya pada ba'da Dzuhur itu, angkot yang dikemudikan Mudakir tak pernah sepi penumpang. Full!

Dengan kejadian itu, Mudakir merasa, keikhlasannya memberi tumpangan gratis pada si nenek telah terbayar dengan keikhlasan doa si nenek, dan doa itu berbuah rezeki yang jauh lebih besar dari nilai yang diberi Mudakir pada si nenek. Allahu Akbar!

Ketika si Nenek minta diturunkan di suatu tempat, Mudakir menghentikan kendaraannya dengan sangat hati-hati. ia menunggu sampai si nenek benar-benar aman turun dari dalam keadaraannya.

Ketika si nenek sudah tidak ada lagi di dalam angkot Mudakir, apakah penumpang kendaraan itu menjadi sepi kembali? Mudakir menjelaskan, bahwa sepanjang hari selepas Dzuhur itu, ia mendapatkan penumpang yang tidak pernah sepi, meskipun nenek itu sudah tidak ada dalam kendaraannya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...