Ragu Keabsahan Pernikahan

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Sekitar Juni tahun 2006, saya menikah dengan pria luar Jawa. Akhirnya saya nikah dengan seorang pria itu yang diselenggarakan secara sederhana di daerahnya.

Ilustrasi

Karena keterbatasan dana untuk mendatangkan orangtua dalam hal ini bapak sebagai wali, akhirnya saya meminta izin kepada keluarga untuk menikah dan dinikahkan oleh orang setempat yang dianggap sesepuh.

Beliau ini secara langsung minta izin ke bapak saya lewat telpon untuk menikahkan saya dan bapak saya setuju, begitu juga dengan keluarga.

Ada saksi, tapi tidak ada mahar atau mas kawin. Saya benar-benar ikhlas. Setelah itu saya mendaftarkan ke KUA. Agar cepat selesai dan tidak berbelit-belit, saya bilang kalau saya dinikahkan sama bapak.

Ada niat nanti sepulang dari Hong Kong, saya mau berterus terang kepada kepala KUA soal yang satu ini. 

Diatas adalah pertanyaan yang dikirim oleh Sahabat AkuIslam.ID dari Hong Kong

Tidak boleh dan tidak sah pernikahannya, kecuali kalau wali nikahnya adalah penghuku dari kantor KUA. Tidak sembarangan orang dapat tiba-tiba menjadi wali hakim dalam pernikahan.

Bisa juga oleh kyai, tapi tidak sembarangan kyai. Dia harus mengerti betul tentang pernikahan dan setidaknya dia orang Departemen Agama, yang berkecimpung dalam urusan pernikahan.

Untuk baiknya, Wali hakim itu adalah penghulu dari KUA. Tidak semua orang yang kita anggap 'tua' di setiap tempat dapat dengan mudah kita jadikan wali hakim. Yang disebut wali hakim adalah petugas KUA, yang pertanggungjawabannya sangat jelas.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...