Nyawa Nabi Dihargai Seratus Unta

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Atas izin Allah, Rasulullah lolos dari kepuangan kafir Quraisy. Beliau memulai babak baru, hijrah ke Madinah. Namun perjuangan belum usai, berjuta rintangan siap menghadang. Kaum kafir Quraisy tetap memburunya dan menjanjikan seratus ekor unta bagi siapa saja yang bisa menangkap Rasulullah Saw dan Abu Bakar.

Ilustrasi

Di malam hijrah itu, keajaiban terjadi. Meski rumah Nabi sudah dikepung, atas izin Allah Nabi bisa keluar rumah dengan selamat. Dengan langkah mantab, beliau melangkahkan kaki ke rumah Abu Bakar, sahabat setianya.

Sementara itu di rumah Nabi suasana begitu mencekam. Betapa tidak, saat pagi menjelang, kaum kafir Quraisy yang sudah mengepung rumah Nabi dan akan membunuh beliau marah karena Nabi sudah tidak ada di rumah. Begitu mereka memaksa masuk, hanya sahabat Ali bin Abi Thalib yang muncul.

"Di mana Muhammad?!" cercah para pengepung itu.

"Aku tidak tahu," jawab Ali.

"Jangan bohong!" desak mereka.

"Kalau tidak percaya, masuklah dan carilah sendiri!" lanjut sahabat Ali.

Dengan muka penuh amarah, Abu Jahal langsung masuk. Tapi, Nabi memang sudah tidak ada di rumah itu.

"Muhammad pasti ke rumah Abu Bakar," kata mereka.

Abu Jahal dan pengikutinya pun bergegas menuju rumah Abu Bakar. Betapa kecewanya mereka ketika tahu di rumah itu hanya ada Asma, putri Abu Bakar. Meski ketakutan dalam ancaman orang-orang kafir itu, Asma tetap tak mau menyebutkan ke mana Rasulullah dan ayahnya pergi.

"Plak....!!!" Abu Jahal pun menampar wajah Asma hingga ia terjatuh. Meski disakiti, Asma tetap diam dan tak mau membuka mulut untuk membocorkan hijrah Rasulullah.

Kekecewaan mereka pun membuncah. Mereka menebar pengumuman, bagi siapa saja yang bisa menangkap Rasulullah Muhammad dan Abu Bakar, akan mendapat hadiah seratus ekor unta.

DITEMANI ABU BAKAR

Sementara itu, Abu Bakar Asy Shiddiq menunggu dengan cemas di rumahnya. Sepanjang malam, kelopak matanya tak mampu ia pejamkan. Hatinya resah, jangan-jangan sesuatu yang buruk menimpa Rasulullah Saw. Bersyukur, teladan yang ia tunggu telah tiba. Rasulullah Muhammad Saw menemuinay.

Tak menunggu lama, keduanya pun keluar rumah bersama melewati pintu belakang rumah Abu Bakar untuk bergegas meninggalkan Makkah di malam gelap itu. Dengan iman dan keyakinan penuh, Abu Bakar telah menyiapkan uang dan makanan untuk bekal perjuangan dakwah dan hijrah Rasulullah Saw.

Meski dibayangi upaya pengejaran kaum kafir Makkah, Abu Bakar dengan teguh menemani langkah Rasulullah menyusuri jalanan kota Makkah. Lima kilometer sudah keduanya melangkah menuju pinggiran Jabal Tsur.

Perlahan namun pasti keduanya mendaki bukit berbatu yang cadas itu. Tanpa cahaya sedikitpun di ujung pagi itu keduanya terus mendaki. Tak mau jejak-jejak kaki keduanya terdeteksi kaum kafir Quraisy yang pasti akan mengejar, alas kaki baginda Nabi pun dilepas begitu juga dengan Abu Bakar.

Waktu pun terus bergulir, keduanya telah hampir mencapai puncak bukit. Akhirnya sampailah keduanya di sebuah gua. Rasulullah Saw pun mengajak Abu Bakar untuk berhenti dan masuk di gua itu. Rupanya, beliau tidak ingin melanjutkan perjalanan di siang hari dengan risiko tertangkap para pengejarnya. Perjalanan akan mereka lanjutnya malam hari berikutnya.

Demi memuliakan sang Nabi akhir zaman, Abu Bakar pun masuk lebih dulu ke dalam gua. Kedua tangannya merasa dinding gua yang gelap itu. Dia tidak ingin junjungannya kurang nyaman apalagi sampai digigit binatang berbisa.

Demi Rasulullah, ditutupnya lubang-lubang dinding gua itu dengans obekan kainnya. Ketika sobekan kain yang ia bawa tidak ada lagi, tumitnya pun ia gunakan untuk menutupnya.

Sesaat kemudian, Rasulullah pun memejamkan matanya karena kelelahan.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...