Nasib Penggadai Iman

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Islam adalah agama terbaik dan paling diridhai Allah. Karena itu, saat ada hamba-Nya yang murtad hanya karena persoalan sembako, maka Dia pun menjadi murka. Saat meninggal, jenazahnya pun disambar petir. Sebuah balasan atas orang-orang yang telah durhaka kepada-Nya.

Ilustrasi

Peristiwa ini terjadi saat G.30 S/PKI sedang berkecamuk di negeri tercinta ini, Indonesia. Dan cerita ini dikisahkan oleh seseorang yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, karena saat itu dia masih berusia remaja, tepatnya saat dia masih kelas 3 SMA.

Sebut saja namanya Norman. Dia adalah seorang pemuda muslim yang cukup taat. Ia adalah anak keluarga miskin, yang sehari-hari cukup taat. Ia adalah anak keluarga miskin, yang sehari-hari cukup kesulitan untuk mencari sesuap nasi.

Jangankan berpikir bagaimana bisa membeli sepeda yang bisa digunakan untuk pergi ke sana-kemari, untuk bisa makan hari itu saja sudah cukup baginya. Yah, begitulah kehidupan Norman sehari-hari.

Suatu kali, desanya (Jabar) kedatangan seorang tamu yang mengaku sedang mencari sebidang tanah kosong. Entahlah, untuk apa lelaki itu mencari tanah kosong di desa Norman. Namun, yang jelas, alasan itulah yang melekat dalam pikiran banyak orang saat itu.

Nah, selama mencari tanah kosong itulah, dia tinggal di rumah seorang kakek bernama Mbah Yada. Kakek ini seorang muslim juga.

Namun, pada perkembangannya, keimanan Mbah Yada tergadaikan. Lambat laun ternyata rumah Mbah Yada ini dijadikan sebagai tempat peribadatan lelaki itu, yang dikemudian hari diketahui ternyata seorang beragama Non-Muslim.

Setiap hari Minggu, Rumah Mbah Yada dijadikan sebagai rumah ibadah. Entahlah, hal apa yang membuat Mbah Yada mau melakukan itu? Tidak ada yang mengetahuinya dengan persis.

Bisa jadi, karena Mbah Yeda telah dijejali sembako oleh orang tersebut. maklum, Mbah Yada adalah seorang yang tidak berpunya juga. dan memang alasan inilah yang nampaknya paling masuk akal. Selain, mungkin pula ada faktor-faktor yang lain yang membuat Mbah Yada berpindah agama meninggalkan Islam.

Suatu kali, orang itu berhasil mengajak lima orang warga desa untuk masuk ke dalam agamanya, tentunya dengan diiming-imingi sembako. Salah seorang di antaranya adalah lelaki yang bernama Norman itu.

Sejak menjadi pengikuti agama orang itu, Norman menjadi rajin pergi ke rumah Mbah Yada, terutama setiap hari Minggu untuk melakukan peribadatan.

Perubahan identitas agama yang terjadi pada Norman ini, malangnya tidak diketahui keluarganya. Hanya beberapa tetangga Mbah Yada sendiri yang mengetahui siapa saja yang telah menjadi murtad. Namun, tetangga-tetangga itu pun belum juga berani melaporkan kepada masing-masing keluarganya. Di samping karena tidak tega, juga karena antara rumah Mbah Yada dengan rumah Norman cukup jauh, meski masih satu desa.

Nahasnya, sebelum keluarganya mengetahui ihwal kemurtadan Norman hingga masih ada kesempatan untuk menasehatinya, Norman sudah terlanjur meninggal dunia karena penyakit keras yang dialaminya sejak beberapa tahun belakangan.

Dari sanalah kedok Norman akhirnya terbongkar juga. Karena para tetangga ternyata tidak mau membantu proses penguburannya. Sang keluarga pun dibuat terheran-heran. Ada apa sebenarnya? Akhirnya, keluarga mengetahui juga kalau Norman telah menjadi murtad.

DISAMBAR PETIR

Mendengar pengakuan warga kalau Norman telah murtad sungguh di luar dugaan keluarganya. Bagaimana bisa seorang Norman bisa menjadi murtad? Apalagi, selama ini Norman tidak pernah berkisah kepada keluarga kalau dirinya telah keluar dari Islam.

Mungkin karena takut atau ada hal yang lain. Yang jelas, di dalam keluarganya telah ditanamkan sebuah ajaran agar tidak menggadai keyakinannya dalam kondisi apa pun. Karena itu, ketika hal itu terjadi terhadap Norman, maka sang keluarga pun dibuat hampir tidak percaya.

Nasi telah menjadi bubur dan Norman telah meninggal dunia. Jenazahnya harus segera diurus. Meski telah berpindah agama, keluarganya masih berniat ingin menguburkan Norman. Namun, tetap saja tidak ada tetangga yang mau membantunya.

Hingga suatu kali sang keluarga minta bantuan kepada Ustadz Husein untuk mengislamkan kembali jenazah Norman. Ironi memang, jenazah yang sudah murtad kemudian ingin diislamkan kembali demi suatu proses penguburan yang lancar.

Keadaan saat itu sebenarnya sedang sangat cerah. Awan di atas langit sedang menampakkan wajah terangnya. Angin juga berhembus sejuk menerpa setiap pepohonan di sekitar rumah Norman. Namun, anehnya, tak satu pun warga yang mau datang dan membantu proses pemakamannya.

Jenazah Norman pun terlantar selama dua hari, hingga keluarga memutuskan untuk mendatangi Ustadz Husein tersebut dan minta bantuan kepadanya agar berkenan mengislamkan Norman kembali. Ketika Ustadz Husein berkenan datang, mnaka satu persatu warga pun mulai berdatangan ke rumah Norman.

Maka Ustadz Husein segera mengislamkan jenazah Norman. Namun, belum saja hal itu dilakukan, keadaan yang sedari tadi terang-benderang tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita.

Petie menyambar ke sana-kemari di langit, hingga membuat sebagian orang dibuat terheran-heran. Kenapa sedemikian cepatnya perubahan alam itu terjadi. Begitu juga dengan ustadz Husein. Ia menghentikan prosesi pengislaman Norman, yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

Keterkejutan Ustadz Husein dan warga semakin menjadi-jadi ketika tiba-tiba mendengar suara sambaran petir yang sangat dahsyat, menghantam tubuh jenazah Norman yang ada di dekat mereka. Pemandangan menakutkan terjadi. Tubuh Norman tiba-tiba menjadi gosong karena sambaran petir tersebut. kain kafannya (mori) terkoyak habis seperti gosong habis dibakar oleh bara api yang sangat panas.

Mengerikan dan menakutkan sekali untuk dilihat. Tidak sedikit para pelayat yang dibuat merinding atas kejadian itu. Ini benar-benar kejadian nyata yang mungkin baru saja mereka lihat seumur hidup mereka.

Setelah kejadian yang menggemparkan itu, Ustadz Husein akhirnya melanjutkan proses pengislaman jenazah Norman.

Setelah itu, barulah jenazahnya diurus, dimandikan, dikafani dan dikuburkan. Dan kejadian yang mengerikan itu, akhirnya, membuat keempat pemuda lainnya yang tadinya murtad bersama Norman kembali lagi menjadi muslim.

Demikian kejadian nyata yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu di kawasan pantura, Jawa Barat. dari sini ada beberapa hal yang menjadi catatan penting kita selaku seorang muslim sebagai berikut :

Pertama, janganlah kita mudah menggadaikan agama kita dengan hal apapun, apalagi hanya karena sebungkus sembako yang sebenarnya tidak ada nilainya.

Norman menjadi murtad karena sembako yang diberikan oleh seorang yang tidak diketahui. Dia diberi terus-menerus setiap hari sehingga merasa dirinya telah dibantu oleh orang tersebut.

Dan ketika orang itu mengajaknya masuk agamanya, maka dia pun menerimanya. Akhirnya kisah hidupnya pun menjadi tragis karena perbuatannya sendiri.

Kedua, perdalamlah ilmu agama dengan benar sejak kecil. Jika orangtua berhasil menanamkan ajaran agama dengan baik dan benar kepada anak-anaknya sejak kecil, maka mereka pun akan tumbuh menjadi generasi muda yang Islami. Mereka tidak akan mudah tergoda oleh apa pun, meski keadaan mengharuskan mereka untuk berbuat seperti itu.

Demikian beberapa catatan penting dari kisah di atas. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang beriman, sehingga tidak mudah tergadai imannya oleh hal apa pun.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...