Meninggalkan Suami Karena Tak Tahan

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Saya seorang istri dengan seorang putri yang sudah berkeluarga. Selama ini, saya tidak tahu apa hak saya sebagai istri dan tidak tahu pula apa itu keluarga sakinah. Yang saya tahu suami tidak rajin ibadah, dan saya harus berusaha keras menutupi kebutuhan keluarga sehingga saya terpaksa jadi TKW.

Ilustrasi

Untuk itu, saya bertahun-tahun di luar negeri dan semua hasilnya untuk keluarga, tapi sejauh ini tidak dihargai oleh suami. Ia malah selalu merasa kurang.

Jujur, saya sudah tua, dan tidak ingin bertengkar lagi karena bukan contoh yang baik bagi anak. Kini saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan keadaan ini.

Saya ingin hidup dan ibadah tenang, karena itu cerai jalan terbaik bagi saya. Tapi suami malah mengajukan permintaan sejumlah uang yang tidak sanggup saya bayar sementara ke Pengadilan sama saja membuka aib.

Untuk itu, saya bermaksud meninggalkan suami begitu saja, dicerai syukur, tidak pun saya pasrah. Pertanyaannya: Apakah yang saya lakukan salah? Bagaimana seharusnya cara yang saya tempuh menghadapi situasi seperti ini?

Diatas adalah pertanyaan yang dikirim oleh Sahabat AkuIslam.ID dari Hong Kong.

Kalau meninggalkan begitu, artinya main hakim sendiri. Jika disinggung di sini, suami meminta tebusan dalam jumlah besar agar terjadi perceraian, ini justru terbalik. Anda menjadi TKW dan memenuhi kebutuhan keluarga itu berarti suami berhutang kepada Anda, karena dalam agama suamilah yang berkewajiban menafkahi Anda dan anak-anaknya. Bukan terbalik, malah Anda yang menafkahi keluarga.

Anda yang seharusnya bisa menuntut nafkah karena tidak pernah diberikan suami dan memang dibenarkan Undang-undang. Anda punya hak menuntut melalui Pengadilan Agama karena selama ini nafkah yang seharusnya Anda dapatkan justru tidak Anda dapatkan. Bukan malah berpikir sebaliknya, Anda yang dituntut untuk membayarkan tebusan.

Kalau Anda mengiyakan permintaan tebusan suami, itu cara berpikir yang terbaik. Anda tidak perlu takut mengajukan ke Pengadilan, karena ketakutan itu justru merugikan Anda sendiri.

Kalau diancam pun, toh ada perangkat hukum yang akan menangani. Jika Anda membiarkan situasi seperti ini terus berkelanjutan, berarti membiarkan pernikahan Anda menggantung terus. Maka dari itu, harus ada keberanian dari Anda untuk melaporkan ke Pengadilan jika ingin menyelesaikan pernikahan ini.

Suami yang tidak membelanjai istri dan anak-anaknya, maka seorang istri mempunyai hak ke Pengadilan Agama. Tapi istilahnya fasakh, bukan talak, hakimlah yang nanti akan menceraikan.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...