Menasehati Diri Sendiri

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Kita tidak bisa mengajak orang lain, tanpa kita mengajak diri kita terlebih dahulu.

Ilustrasi

Suatu hari, datang seorang laki-laki menemui Abdullah bin Abbas. Dengan bersikap agak angkuh dan merasa pintar, ia kemudian mengajukan sebuah tawaran yang sekiranya bisa dipertimbangkan dengan matang sebelum di utarakan. Tetapi, anehnya, ia mengajukan tawaran itu dengan penuh rasa percaya diri dan tanpa perhitungan.

"Maukah engkau aku kasih nasehat?" kata lelaki itu kepada Abdullah bin Abbas.

Abdullah bin Abbas pun tak menolak dengan nasehat yang hendak disampaikan lelaki itu. Tetapi, sebelum laki-laki itu memberi sebait nasehat, Abdullah bin Abbas menjawabnya dengan mengajukan semacam syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu, "Ya, jika engkau memang tak takut tersinggung oleh tiga ayat al-Qur'an."

Lalu, Abdullah bin Abbas menyebutkan tiga ayat dalam al-Qur'an tersebut, antara lain: "Apakah kalian menyuruh orang lain berbuat baik sementara kalian melupakan diri kalian sendiri." (QS. Al-Baqarah [2]: 44; "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan." (QS.  Ash-Shaf [61]: 3); serta "Dan aku tidak ingin menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang." (QS. Hud [11]: 88).

Lelaki itu mendengarkan dengan penuh takzim ayat demi ayat yang disebutkan Abdullah bin Abbas. Dia yang sedari awal ingin menasehati Abdullah bin Abbas, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pada akhirnya, Abdullah bin Abbas justru seakan-akan yang memberikan nasehat kepadanya. Sementara itu, ia hanya bisa diam seribu bahasa. Hingga akhirnya, Abdullah bin Abbas mengajukan pertanyaan, "Apakah engkau sudah mengamalkan ayat-ayat itu?"

Dengan tersipu malu, lelaki itu menjawab, "Belum."

"Jika demikian, mulailah dari dirimu sendiri."

Lelaki itu akhirnya mengamalkan apa yang hendak dinasehatkan, dan ia sadar bahwa sebelum dia menasehati atau mengajak orang lain berbuat sesuatu, sebaiknya dia "mensehati diri sendiri" terlebih dulu.

Memang, tak jarang kita menjumpai orang yang dengan berapi-rapi mengajak kita berbuat sesuatu. Padahal orang itu, kita tahu, belum mempratekkan dan mengamalkan apa yang dia nasehatkan. Sungguh ironis. Tak dimungkiri, bahwa setiap orang, pastilah ingin mengubah keadaan yang dilihat agar menjadi lebih baik.

Tapi kita tentu tidak bisa mengubah keadaan tanpa harus mengubah diri kita terlebih dahulu. Karena itu, untuk mengubah keadaan harus memulai dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengajak orang lain, tanpa kita mengajak diri kita terlebih dahulu.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...