Kisah Tukang Rumput Naik Haji

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Apakah haji itu menjadi hak prerogatif orang kaya dan mapan? Ternyata tidak. Setidaknya, kisah berikut ini menunjukkan hal yang berbeda; seorang tukang rumput pun bisa naik haji!

Ilustrasi

Sebut saja namanya Muslim Amiren. Lelaki kelahiran Ulee Birah (Pidie-Aceh), 18 November 1973 ini terbilang luar biasa. Betapa tidak, demi memenuhi keinginan sang mertua agar bisa menemaninya berhaji, dia harus "banting-tulang" mencari nafkah di negeri Australia, meski harus menjadi seorang cleaning service, tukang rumput, tukang petik cherry dan tukang angkat kentang.

Kisah ini diawali dari kesempatan Muslim untuk kuliah S2 di Australia pada Agustus 2003. Beasiswa yang didapatkannya dari ADB (Asian Development Bank) melalui TPSDP (Technological and Profesional Development Project) Grant sebenarnya hanya untuk satu orang (dirinya), namun berbekal keyakinan kuat, ia pun memboyong istrinya ke sana.

Ia berusaha mengusir ketakutan dalam pikirannya bahwa ia tidak bisa bertahan hidup di sana. "Rezeki Allah ada di mana-mana. Insya Allah saya tidak akan dibuat kelaparan di sana," ujarnya menyakinkan diri saat itu.

Belum lama berada di Australia dan belum lama pula hidup mapan di sana, tiba-tiba suatu malam ibu mertua menelponnya. Sang ibu mengabarkan bahwa ia tidak bisa pergi haji tahun 2004 bersama teman-teman sekampungnya karena telat bayar. Sesuai waiting list, ia pun berkesempatan tahun berikutnya (2005). Untuk itu, ia meminta Muslim untuk menemaninya.

Merasa punya kewajiban dan ingin berbakti kepada mertua, maka ia pun menyanggupinya. Dengan cara apa? Maka Muslim dan istrinya pun "banting tulang" bekerja di Australia. Sang istri kemudian diterima bekerja sebagai asisten chef di sebuah restoran Indonesia di Pondok Bali, kota Adelaide, Australia. Muslim sendiri? Ia mencoba mengumpulkan botol-botol bekas dan menjualnya ke tempat penampungan. Sayangnya, harganya tidak sebanding dengan rasa capeknya. "Sehari saya paling banyak dapat 15 dollar (kira-kira Rp. 150.000 / hari)" keluhnya saat itu.

Kemudian Muslim mencari pekerjaan lain. Dia menemukannya, yaitu bekerja sebagai tukang bersih permen karet di lantai sebuah pub, The Heaven. Tapi hati nuraninya menolak, sehingga ia pun tidak menerima pekerjaan itu.

Di tengah rasa galaunya itu, tiba-tiba bapak angkatnya yang bernama Dadang Purnama menawarkan pekerjaan untuknya. Muslim disuruh menggantikan pekerjaannya di Britam karena pendidikan beliau sudah selesai dan harus kembali ke Indonesia. Beliau bahkan memberikan mobilnya secara gratis. Ia menerimanya, mesti harus bekerja sebagai cleaning service di sebuah studio foto terkenal di Adelaide. "Yang saya sukai di sini ialah jam kerjanya fleksibel dan tempatnya lumayan elite," ujarnya beralasan kala itu, Muslim mulai bekerja setelah shalat Maghrib.

Tidak cukup di situ, Muslim pun mendaftar untuk menjadi Cleaning Service Profesional di Tempo Service, sebuah perusahaan yang menangani kebersihan supermarket, perkantoran elite, rumah sakit hingga universitas. Ia pun diterima di situ.

Untuk mengejar dua pekerjaan itu setiap hari Muslim harus bangun pagi. Sebab sebelum Shubuh dia sudah berangkat kerja. Setelah itu, ia lanjutkan dengan kuliah dan pulang jam 5 sore. Lalu pergi lagi habis Maghrib dan pulang bisa sampai tengah malam.

Untuk itu, dia harus berlari-lari mengejar tren dan bus terakhir. Ada kalanya dia harus menelpon taksi untuk pick-up karena sudah lewat tengah malam. Begitulah yang dilakukannya setiap hari demi sebuah target naik haji menemani sang mertua.

Bahkan, ketika musim panas tiba, Muslim terpaksa mencari kerja sampingan lagi sebagai tukang cabut rumput di Nursey (tempat pembibitan), memetik buah cherry di batang dan mengangkat / menyusun karung-karung buah kentang ukuran 5, 10, 15 dan 20 kg. Ia pun sempat bekerja sebagai surveyor untuk kenyamanan penonton footy, sejenis Rugby di Amerika. Sementara itu, istrinya juga mengambil sampingan di bagian sortir kentang, yaitu memisahkan antara kualitas ekspor, pasar lokal dan kentang rusak.

Namun, dari semua pekerjaan itu, Muslim merasa bahwa pekerjaan yang paling berkesan adalah menjadi tukang rumput. Walau tidak sampai sebulan lamanya. Sebab, letaknya sangat jauh di luar kota. Belum lagi waktu kerjanya yang lumayan panjang dari pagi hingga sore hari. "Merana sekali kalau lagi cabut rumput di bawah pokok mawar, tangan dan badan bahkan muka tanpa sadar tergores sama duri-durinya", kenang lelaki yang kini menjadi dosan FMIPA, Prodi Informatika, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ini.

Selain sakit pinggang, jari-jari Muslim pun jadi tidak berasa lagi (kapalan). Esok harinya, ketika bangun pagi semua jari tangan terasa "cekang" (kaku) semua. Oleh sang istri, tangannya kadang diurut sedikit-sedikit dengan mintak zaitun, baru kemudian normal lagi dan siap dibawa untuk bekerja kembali. Dari hasil pekerjaannya ini, Muslim berhasil mengumpulkan uang sebanyak 2000 dolar (sekitar Rp. 20 Juta).

Tidak cukup dengan uang sebanyak itu, Muslim dan istrinya pun bekerja sampingan lagi sebagai pemetik buah cherry di perbukitan Handolf. Uang hasil pekerjaan ini lumayan besar. Akhirnya setelah terkumpul semua, Muslim pun berhasil mengumpulkan uang sebanyak 6.000 dollar (sekitar Rp. 60 Juta). sebuah angka yang cukup untuk naik haji berdua kala itu!

Dari Australia, Muslim pun menstransfer uang itu ke rekening keponakannya di Banda Aceh, Yanti, untuk mendaftar ibadah haji bersama istrinya. Namun, di tengah kebahagiaan yang baru saja ia rajut, tiba-tiba sang nenek dan istri meninggal dunia karena peristiwa Tsunami Aceh pada akhir Desember 2004. Tidak saja neneknya, keluarga yang lain banyak yang meninggal dunia, bahkan beberapa mayatnya tidak bisa ditemukan terbawa arus air yang sangat dahsyat kala itu.

Kejadian itu membuat mertua Muslim bersedih. Karena itu, ia segera diminta pulang ke rumah (Banda Aceh). Akhirnya, niat untuk jalan-jalan berkeliling Australia untuk merayatak gelar master yang baru saja disandangnya terpaksa ia batalkan; dan tiket pesawat yang sudah dipesannya pun dijual kembali. Namun, hendak saja berangkat untuk pulang ke kampung halaman, tiba-tiba sang istri divonis hamil oleh dokter. Spontan Muslim pun menunda kepulangannya sesuai anjuran dokter. Lima belas minggu kemudian mereka pun akhirnya pulang ke Banda Aceh.

Pada Desember 2005, Muslim, sang istri dan mertua perempuannya pun berangkat ke Tanah Suci. Banyak pengalaman spiritual yang dirasakan Muslim selama di sana. Salah satunya saat wukuf di Padang Arafah. "Saat itu saya menyadari bahwa jasad ini ternyata milik Allah. Saat itu, jangankan mandi dan memakai minyak wangi, menggaruk badan saja tak boleh. Padahal badan ini kan punya saya. Ternyata benar, haji lebih dahsyat dari puasa. Kalau selama puasa tidak boleh makan makanan punya sendiri, di haji kita bahkan tak punya hak akses atas tubuh sendiri," kenang bapak dari M. Arib Mushowwir, Diva Aisya Dzakira, dan Muhammad Hafidh Yusud ini.

Selama haji pula Muslim melihat berbagai kejadian aneh, seperti ada jamaah yang dibawa ambulance, padahal sebelumnya sangat pede karena pernah punya pengalaman ibadah haji. Dia juga melihat ada jamaah haji yang sakit terus sejak keberangkatan hingga kepulangannya.

"Ada juga jamaah yang kejebak dan pingsan dalam lift setelah menuduh orang lain membuang daging yang dikeringkan di atas kulkas," kisah lelaki beristrikan Suwarniati ini. Masih banyak kisah aneh yang dilihatnya selama ibadah haji. Semua itu, pikirnya, pasti terkait dengan amal perbuatan yang pernah dilakukan sebelumnya.

Namun, dari sekian pengalaman spiritual yang paling berkesan saat ibadah haji, adalah saat ia bisa memasuki Raudhah (tempat yang makbul untuk berdoa di Masjid Nabawi) sebanyak tiga kali.

Demikian kisah haji yang dialami oleh Muslim Amiren yang heroik. Demi menemani sang mertua ke Tanah Suci, ia rela "banting tulang" bersama istrinya, meski harus berjibaku dengan pekerjaan kotor dan penuh debu. Semoga kisah ini bisa memberikan hikmah yang banyak buat pembaca.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...