Kisah Sakaratul Maut Pekerja Kantor

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka, ketika seseorang tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, ia pun bisa mengalami hal serupa.."

Ilustrasi

Pada suatu pagi, di sebuah gedung bertingkat di bilangan Jakarta yang sebagian besar disewa untuk perkantoran itu terlihat seperti biasa. Nyaris tak ada yang istimewa. Para karyawan masuk kantor seperti hari-hari yang lain.

Bahkan beberapa menit sebelum jam masuk kantor, tampak orang-orang berpakaian rapi dan perlente sedang berjalan hilir mudik di lantai dasar. Semua orang berjalan dengan cepat dan bergegas seakan tak ingin terlambat menginjakkan kaki di pintu kantor.

Seiring berjalannya waktu, lantai dasar gedung itu mulai tidak lagi ramai. Hanya tinggal beberapa orang yang berjalan di lantai dasar gedung, lantas menunggu di pintu lift. Setelah pintu lift terbuka, mereka bergegas masuk. Tetapi di antara karyawan yang berkantor di gedung itu, ternyata ada beberapa orang yang memanfaatkan tangga.

Waktu merambat pelan. Tak lama kemudian, lantai dasar gedung bertingkat itu berubah sepi. Orang-orang sudah masuk kantor, bekerja dengan setumpuk pekerjaan dan disibukkan rutinitas. Memang, sesekali masih ada orang keluar dari pintu lift, kemudian keluar gedung. Juga, sesekali ada orang yang turun dari tangga, berjalan di lantai dasar gedung berlantai lima itu kemudian hilang entah pergi ke mana.

TIBA-TIBA TERKULAI LEMAS

Hingga kemudian, ada lelaki muda turun dari tangga. Ia turun pelan, seakan tak ingin jatuh tersungkur dari tangga. Sebab, jika saja salah satu dari kakinya terpeleset, dia bisa jatuh, terguling dan tubuhnya bisa meluncur ke bawah. Ia berjalan sambil menjaga keseimbangan, meniti tangga dengan berpegangan pada kayu disamping tangga hingga kemudian bisa sampai tangga terakhir dengan selamat.

Tapi, sesampai di bawah, lelaki itu langsung menghembuskan nafas. Nafasnya kembang kempis, seakan-akan habis berlari cukup jauh. Keringat kecil mengalir dari dahinya dan ia menyeka dengan lengannya. Beberapa saat, ia masih berdiri mematung.

Sejenak, sebelum melangkah, ia mengedarkan pandang ke sekitar. Sepi. Tidak ada orang kecuali dirinya. Ia kemudian melangkah. Tapi beberapa detik kemudian, ia seperti tak kuasa menopang tubuhnya. Matanya kabur. Akhirnya, ia jatuh terkulai. Ia merasa tubuhnya lemas. Ia terkapar, tidak jauh dari anak tangga.

Ia ingin berteriak agar orang mendengar. Tetapi, mulutnya tak mengeluarkan suara. Ia pun mendesah. Tubuhnya tidak lagi bertenaga. Bahkan, ia merasa seperti tidak lagi bisa bersuara. Apalagi, beberapa saat kemudian ia merasa sekujur tubuhnya seperti dihinggapi sakit.

Waktu berlalu, dan ia terkapar sendiri di lantai dekat tangga. Tak ada orang yang melintas, tidak ada yang datang mengulurkan pertolongan. Ia terbujur, meradang sakit dan memendam pedih. Akhirnya, ada dua karyawan yang turun dari tangga. Keduanya terkejut ketika melihat pemuda yang terkepar tidak berdaya. Keduanya buru-buru turun, memberikan pertolongan.

"Bapak kenapa?" tanya salah satu dari dua karyawan itu.

Tetapi, pemuda yang terkapar itu tak menjawab. ia seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya berat bersuara. Jadi, tak ada suara yang keluar, kecuali hanya suara yang tak jelas. Suara yang lebih mirip menahan rasa sakit.

Keduanya saling pandang. "Kamu kenal orang ini?"

Dengan yakin, teman di sebelahnya menggeleng. "Tidak..."

Keduanya bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan mengingat mereka sedang sibuk, lantaran mendapatkan tugas dari atasannya untuk satu keperluan mendesak. Salah satu dari mereka melihat jam di pergelangan tangan.

"Jika kita tak segera berangkat, nanti kita bisa telat..."

"Lalu, bagaimana dengan orang ini?"

"Ya sudah, kita gotong aja di sudut sana!" usul salah satu dari mereka.

Akhirnya, mereka menggotong pemuda itu di sudut lantai dasar tidak jauh dari tangga. Setelah digeletakkan di sudut gedung, keduanya bergegas pergi. Dan pemuda itu tidak berdaya. Ia terkapar sendirian, tak ada orang yang peduli.

BARU ADA YANG MENGENALI

Waktu berlalu, satu dua orang melintasi lantai dasar gedung itu. Tetapi anehnya, setelah itu, tak ada orang yang mengira jika ia terkapar dan butuh pertolongan. Mungkin orang-orang yang melintas di lantai dasar gedung itu mengira ia sedang tiduran, bahkan butuh istirahat. Semua orang yang melintas, nyaris tidak ada yang mengenalinya dan ia terbujur kaku tak terurus.

Hingga akhirnya, salah seorang teman kantornya kebetulan turun ke lantai dasar dan menemukannya. Awalnya, temannya setengah ragu ketika ia melihat pemuda tidak berdaya itu tergeletak di lantai dasar. Tapi, ia merasa mengenali sosoknya. Maka ia pun mendekati tempat pemuda malang itu.

"Ya ampun, ternyata kamu di sini?" pekik Handoko (bukan nama sebenarnya, 30 tahun) teman satu kantor dengan pemuda malang itu. "Pantas, dari tadi kamu tidak ada di kantor. Rupanya, kamu ada di sini..."

Tapi, pemuda malang itu hanya membisu dan tak bersuara. Pemuda malang itu bahkan sudah tak sadarkan diri. ia tak lagi bisa mengeluarkan suara. Mulutnya terkatup dan kering.

"Parman, kamu ada apa? Bangun, bangun, bangun!" Kembali Handoko memekik, seraya menggoyang-goyang tubuh pemuda yang malang itu.

Tapi pemuda malang yang dipanggil Parman (sebut saja demikian, 28 tahun) itu tetap tak bisa bersuara. Dari situ, Handoko mulai sadar jika Parman sudah tak sadarkan diri. Maka, ia pun memeriksa degup jantung dan pergelangan tangan Parman. Handoko lega, sebab ia masih merasakan detak jantung Parman berdegup.

Dengan cekatan, Handokok langsung merogoh handphone dari saku bajunya dan menelpon seseorang di kantornya. Setelah menyebutkan nama, ia membuka percakapan untuk minta bantuan, "Tolong panggilkan ambulan segera, Parman di lantai dasar tidak sadarkan diri. Dan minta beberapa teman turun ke bawah untuk membantu saya."

Setelah itu, Handoko kembali memeriksa kening Parman. Tapi tidak ada apa pun yang bisa dia perbuat kecuali menunggu beberapa teman dan kedatangan ambulan. Tak lama kemudian, tiga orang temannya itu datang.

"Ada apa dengan Parman?" tanya salah satu dari temannya yang baru datang.

"Aku juga tidak tahu. Aku menemukan ia sudah tak sadarkan diri dan tergeletak di sini."

"Lalu, apa yang kita perbuat?"

"Saya sudah meminta ambulan untuk segera datang."

Cemas menggelayut di wajah mereka semua. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu kedatangan mobil ambulan. Waktu berjalan dirasa lambat dan mobil ambulan yang ditunggu-tunggu itu pun tidak kunjung tiba. Lama, mereka hanya saling pandang diselimuti kecemasan tak berujung.

Hingga kemudian, saat mobil ambulan datang, malapetaka pun datang tepat di depan mata. Rupanya, mobil ambulan yang barusan datang itu tidak bisa memasuki pelataran gedung karena persis di depan gedung ada sebuah truk yang sedang mogok. Akhirnya, mereka pun dengan terpaksa harus menunggu dengan sabar truk itu berjalan. padahal, Parman yang tergeletak butuh pertolongan dengan cepat.

Tetapi, malang kembali tak bisa ditepis. Ketika truk itu bisa berjalan, malapetaka lain datang menghadang. Saat ambulan memasuki halaman gedung, sebuah sedang pun kembali menghadang - mobil sedan yang tak diketahui milik siapa itu pun menghalangi mobil ambulans bisa memasuki tempat parkir.

Akhirnya, mereka tidak bisa menunggu. Mereka dikejar waktu demi keselamatan Parman. Maka, Parman pun segera digotong. Tapi, takdir memang tidak bisa dielakkan. Setelah Parman dimasukkan ke dalam mobil ambulan, dan ambulan melaju, ternyata detak jantungnya tidak berdetak. Parman menghembuskan nafas tidak lama setelah ia dimasukkan ke mobil ambulans.

SUKA MEMBUAT SUSAH ORANG

Parman, demikian nama pemuda malang itu. Ia kerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa di Jakarta. Ia tamatan sebuah perguruan tinggi di Jakarta, dan setelah lulus kuliah ia langsung diterima kerja di perusahaan tersebut.

Ia seorang pemuda yang gagah, tampan dan memiliki banyak kelebihan. Tetapi, karakter Parman yang tertutup dan tidak gampang bergaul itu membuat dia tidak begitu dikenal di perusahaan, apalagi bagi karyawan lain yang sama-sama kerja di gedung yang menjadi tempat Parman bekerja. Tidak salah, jika dia itu tidak banyak dikenali orang tatkala ia mengalami musibah.

Dari keterangan pihak Keluarga, tidak diketahui jelas tentang data medis di balik kematian Parman yang mendadak itu. maklum, Parman memang tak pernah mengalami gangguan apa pun. Parman nyaris selalu menjauhi dokter. Jika ia terserang penyakit, ia sudah merasa cukup dengan mengkonsumsi obat seadanya.

Tetapi, dari perkiraan atau dugaan dokter, Parman mengalami serangan jantung. Tak salah, jika Parman bisa mati mendadak dan tidak terduga. Tapi terlepas dari catatan medis yang diberikan dokter, sebagaimana diceritakan Tuti (30 tahun), salah satu keluarga, Parman memang tergolong orang yang suka menyusahkan orang lain. Tak salah, ketika mengalami sakaratul maut, ia seperti mendapat balasan yang hampir serupa. Ia tidak mendapatkan pertolongan selayaknya.

Karena itu, Tuti berharap cerita tragis yang sempat menimpa Parman ini, ia ingin menegaskan bahwa manusia hidup di dunia itu harus mau menolong orang lain. Sebab, menurutnya, manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka, ketika seseorang tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, ia pun bisa mengalami hal serupa, tidak ada yang mau menolong.

Meski Parman pada akhirnya ditolong oleh beberapa temannya, tetapi itu dapat dikatakan sudah terlambat. Maka, Parman harus mengalami nasib agak memilukan, ia mengalami sakaratul maut dilantai dasar sebuah perkantoran.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...