Ketika Batu Berbicara Dan Pohon Kurma Menangis

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Apakah ada batu yang bisa berbicara dan menyampaikan salam hangat kepada manusia? Adakah pula pohon kurma yang bisa menangis? Ada. Pada zaman Nabi, ternyata keunikan ini pernah terjadi.

Ilustrasi

Batu bisa berbicara, kedengarannya agak sumir. Adakah benda mati bisa bicara? Apakah benda-benda itu juga punya mulut sehingga mereka bisa berbicara? Berbagai pertanyaan aneh mungkin mampir ke benak kita jika dihadapkan pada kenyataan seperti ini.

Namun, ini adalah fakta yang pernah terjadi pada zaman Nabi dan akan terjadi pada hari Kiamat nanti.

Nabi Muhammad saw bersabda, "Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang di antara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, "Wahai hamba Allah, inilah si Yahudi di belakangku maka bunuhlah ia". (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa kelak akan terjadi suatu masa di mana batu bisa berbicara. Kata-kata "akan" dalam hadits di atas menunjukkan bahwa peristiwa tersebut belum terjadi. Maka begitu, peristiwa batu berbicara pernah terjadi pada masa Nabi.Kelak, hal itu akan terjadi lagi.

Yaitu, ketika umat Islam sedang berperang dengan orang Yahudi. Salah seorang di antara pengikuti Yahudi lari dan bersembunyi di balik batu karena ketakutan. Tapi, dia tidak sadar bahwa batu sebagai tempat ia sembunyi sebenarnya sangat jengkel atas ulahnya, sehingga berniat untuk memberitahukan kepada kaum muslim tentang keberadaannya itu.

Menurut Pakar Islam, fenomena demikian akan terjadi menjelang hari Kiamat. Ketika batu bisa berbicara merupakan tanda-tanda dari datangnya hari Kiamat.

Salah seorang yang berpendapat demikian adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar. Ia pernah berkata, "Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari Kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat". [Lihat Fathul Bari (6/6/10)]  

Pada masa Nabi Muhammad saw. Namun, saat itu batu tersebut tidak saja bisa berbicara, tapi juga menyampaikan salam hangat kepada Nabi. Peristiwa ini terjadi di Mekkah. Kisah ini digambarkan oleh Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang". (HR. Muslim).

Jika berita tersebut disampaikan oleh seorang manusia, mungkin kedengarannya agak janggal. Tapi, yang menyampaikan berita ini adalah Nabi Muhammad saw sendiri. Sebagai seorang Nabi dan Rausl, Muhammad tidak mungkin berbohong. Apa yang diucapkannya merupakan wahyu dari Allah swt. Kalau ada kesalahan, Allah pasti langsung mengoreksinya. Tapi, hal ini tidak terjadi. Berarti, kisah tersebut adalah fakta yang pernah terjadi dan dialami langsung oleh Nabi Muhammad saw dan ini merupakan salah satu keajaiban yang terjadi dalam dunia Islam.

POHON KURMA MENANGIS

Bagaimana kalau ada pohon kurma bisa menangis? Merujuk pada perkataan Ibnu Hajar di atas bahwa kelak benda-benda mati akan bisa berbicara, seperti pohon dan batu, ternyata pada zaman Nabi juga ada sebuah pohon kurma yang bisa menangis.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa pada masa itu masjid Rasulullah saw beratap batang pohon kurma. Jika Rasulullah saw ber khutbah, ia berdiri di atas salah satu batang pohon kurma. Karena jumlah umat Islam bertambah, maka dibuatlah mimbar agar jamaah majelis yang berada di belakang dapat melihat Rasulullah saw ketika berkhutbah.

Para sahabat pun membuat mimbar dari kayu. Setelah beres, Rasulullah saw datang menuju mimbar untuk berkhutbah. Namun ketika naik mimbar, terdengarlah rintihan seperti rintihan unta dan goncangan tanah yang terus bergetar sehingga para sahabat pun bertanya-tanya.

Rasulullah saw tersenyum. Rasulullah saw turun dari mimbiar dan mendatangi pohon kurma yang tak jauh dari mimbar tersebut. Rasulullah saw meletakkan tangan pada batang pohon kurma dan mengusap-usap dengan perlahan-lahan.

Rasulullah saw berkata pada pohon kurma ituL "Jika engkau mau, aku akan jadikan engkau dinding masjid ini, akarmu tumbuh lagi, tubuhmu hidup lagi dan engkau berbuah lagi. Atau jika engkau mau, engkau aku tanam di surga, supaya para wali Allah dapat memakan buah-buahmu."

Batang kurma itu menjawab: "Saya memilih untuk ditanam di surga sehingga wali-wali Allah dapat memakan buahku dan saya berada di tempat dimana di dalamnya saya kekal."

Goncangan tanah dan suara rintihan pun berhenti. Rasulullah saw kemudian kembali pada mimbar dan menyampaikan kejadian tersebut kepada para sahabatnya. Rasulullah saw berkata: "Ia (pohon kurma) memilih negeri yang kekal dibandingkan negeri yang fana!"

Inilah kisah batang kering dari pohon kurma yang menangis karena rindu kepada Rasulullah saw. Bayangkan! Sebatang pohon kurma tidak mau jauh dari Rasulullah saw, padahal cuma berjarak beberapa meter. Apalagi, kita yang jaraknya jauh darn telah terpisahkan dengan Rasulullah.

Apakah tidak ada kerinduan sama sekali dari kita untuk dekat-dekat dengan Rasul? Padahal, untuk dekat dengan Rasul banyak caranya, misalnya dengan membaca shalawat, zikir, mendatangi majelis-majelis mulia, berkawan dengan orang shaleh dan sebagainya.

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata, "Dulu Nabi saw berkhutbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang kurma itu pun merintih. Maka nabi saw mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang kurma itu (untuk menenangkannya)." [HR. Bukhari dan Tirmidzi].

Dari kisah di atas pula kita dapat mengambil sebuah pelajaran penting tentang "pengetahuan sufistik". Artinya, bahwa Nabi Muhammad saw dapat mengetahui hal-hal yang sifatnya sufistik atas izin Allah. Yaitu, hal-hal gaib yang tidak bisa diketahui oleh kebanyakan manusia. Inilah salah satu mukjizat yang diperoleh Nabi Muhammad saw, yakni bisa berdialog dengan makhluk lain, seperti pohon dan batu. Wallahu a'lam bil shawab.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...