Jenazah Sang Hafidz Harum Mewangi

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Pelajarilah al-Qur'an dan bacalah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari al-Qur'an dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar ke mana-mana. Dan barang siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hapalan al-Qur'an adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik." (HR. Tirmidzi).

Ilustrasi

Hadits yang disabdakan Rasulullah diatas bisa jadi sebuah metafor. Artinya, orang itu memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang dapat diibaratkan seperti tempat air yang penuh dengan minyak wangi. Tak mustahil, kalau aroma wangi itu pun kemudian bisa bertebaran dan menyebar ke mana-mana. Aroma itu merambat dibawa angin dan menyeruak ke sekitar orang tersebut.

Tetapi, kisah yang terjadi dan dialami oleh seorang penghapal al-Qur'an satu ini bisa jadi merupakan satu kisah yang menggambarkan kebenaran dari metafor itu. Sebab, setelah penghafal al-Qur'an yang masih remaja ini meninggal, terjadi hal di luar dugaan. Jasad pemuda itu menguarkan aroma wangi dan membuat tertegun orang-orang yang saat itu sedang memandikan jenazahnya.

TERKENA TUMOR GANAS

Remaja penghafal al-Qur'an itu bernama Umar. Usianya sekitar 15 tahun, usia yang masih terbilang muda dan baru menjelang dewasa. Ia masih duduk di bangku kelas dua SMU di salah satu sekolah Islam terbaik di kota metropolitan, Jakarta.

Tetapi, Umar tetap pemuda yang bersahaja dan sederhana. Pada saat remaja-remaja seusianya kumpul dengan teman-temannya di mal atau tempat hiburan, dia lebih sering mengisi waktu luang dengan memilih jalan lain, mempelajari dan menghafal kitab suci al-Qur'an. Sebuah pilihan berat yang tak bisa dijalani oleh banyak remaja seusia Umar.

Hampir tiap saat, Umar mengisi waktu luang dengan membaca dan menghafal al-Qur'an. Tekad itu tidak lepas dari didikan yang diterapkan orangtua Umar saat ia masih kecil. Bahkan kata Khadijah, ibunya, ia konon sudah pandai dan fasih membaca al-Qur'an saat masih duduk di bangku kelas 1 SD. Selain rajin membaca dan menghafal al-Qur'an, Umar juga sering menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis.

Sebagai remaja yang meniti jalan lain, membawa al-Qur'an dengan menghafal dan mempelajarinya, Umar tahu konsekuensi dan tanggung jawab yang harus ia pikul. Maka, ia pun harus menjauhi maksiat. Ia tidak berpacaran. padahal, remaja seusia Umar adalah usia anak remaja yang tengah memasuki masa pubertas.

"Dia itu remaja yang sangat berhati-hati dalam menjaga pergaulan. Setahu saya, sebagai keluarganya, selama ini dia sangat menjaga pergaulan dengan wanita, terutama dengan teman-teman putri yang satu pondok saat masih di MTs dulu. Pernah suatu ketika ada beberapa teman putri sekelasnya yang berharap lebih kepada Umar, dengan satu harapan ingin mendapatkan perhatian. Tetapi Umar menganggap beberapa teman putri itu tidak lebih seperti keluarganya sendiri," kenang Sulaiman (30 tahun), saudara Umar.

Dengan prinsip harus jauh dari maksiat itulah, Umar pun menjadi remaja yang terjaga akhlaknya. Ia telah menjaga al-Qur'an dan ia pun dijaga oleh al-Qur'an. Ia tidak neko-neko, tetap sederhana, dan memiliki karakter baik.

Bahkan, dia tergolong memiliki semangat yang tinggi untuk belajar dan menghafal al-Qur'an. Ia tak pantang menyerah, dan tetap memiliki keteguhan jiwa untuk menghafal dan terus menghafal al-Qur'an.

Dengan penuh dedikasi, bahkan semangat yang tinggi, Umar pun cepat menghafal beberapa juz al-Qur'an. Apalagi, ia tergolong remaja yang dianugerahi otak dan kecerdasan yang cemerlang. Hal itu yang menjadikan ia semakin cepat dan mudah menghafal al-Qur'an. Bahkan, kecerdasan yang dimiliki Umar itu mampu mengantarkan dia masuk SMU Islam favorit di Jakarta.

Maklum, syarat pertama untuk bisa masuk ke SMu favorit tersebut harus sudah hafal al-Qur'an 5 juz. Dan saat Umar mendaftarkan diri masuk ke SMU unggulan tersebut, selain sudah bisa menghafal al-Qur'an 5 juz, ia juga mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah tersebut.

Tetapi, sebuah ujian berat datang menimpa Umar. Saat ia tengah bersemangat belajar dan menghafal al-Qur'an, penyakit tumor yang cukup ganas menyerangnya. Pada bulan April tahun 2011, tumor itu pun menjalar dan menggerogoti tubuh Umar.

Kurang lebih, selama 15 hari, Umar harus pontang-panting berobat dan berjuang untuk bisa sembuh. Awalnya, keluarga Umar membawanya ke rumah sakit Sumedang (Jawa Barat), dan setelah menjalani pemeriksaan, Umar ternyata diminta rawat inap. Sebab, tumor ganas yang muncul tepat di ketiak Umar sebelah kiri itu dikategorikan tumor berbahaya.

BELUM SEMPAT DIOPERASI

Sayang seribu sayang, peralatan medis di rumah sakit Sumedang itu kurang memadai untuk menangani tumor yang diderita Umar. Ia kemudian, oleh seorang dokter yang menanganinya, dirujuk lebih lanjut ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Keluarga pun membawa Umar ke Bandung.

Sebab dengan membawa berobat ke Bandung itu, diharapkan Umar bisa sembuh. Sayang, dokter di Rumah Sakit Bandung itu kembali menyarankan Umar untuk dibawa ke RS di Jakarta yang memang memiliki peralatan lebih lengkap karena mau tak mau Umar harus menjalani operasi.

Setelah dibawa ke Jakarta, kondisi Umar drop. Tubuhnya kian lemah dan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Akhirnya, selang beberapa malam setelah dirawat di Rumah Sakit di Jakarta, bahkan ketika itu Umar pun belum sempat menjalani operasi (sebab kondisi fisiknya yang terus lemah). ternyata Allah berkehendak lain. Takdir tidak bisa ditolak. Umar menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit di Jakarta. Sekitar pukul 01.00 dini hari, pada bulan April tahun 2011, Umar dipanggil oleh Allah swt.

Segenap keluarga dan sanak famili yang ketika itu mendampingi Umar selama menginap di rumah sakit, terutama ayah dan ibunya kaget dan tidak menduga jika Umar -Sang Hafidz- yang masih remaja itu menemui ajal lebih awal.

Itulah misteri kematian. Tak jarang, orang yang lebih muda, meninggal lebih dulu. Dan orang tak tahu kapan, di mana, bagaimana ajal itu menjemput. Padahal, Umar ketika itu masih muda. Saat ajal menjemput, Umar bahkan baru hafal separuh (15 juz) al-Qur'an.

JENAZAH MENEBAR AROMA HARUM

Setelah keluarga berbincang-bincang, jenazah Umar akhirnya dimandikan di RS tempat dia dirawat. Saat keluarga dan guru Umar mengguyurkan air ke sekujur tubuh Umar, tercium wangi aroma tubuh Umar seperti mengar dari pori-porinya. Mereka yang memandikan pun merasa ada yang lain. Tetapi, karena Umar diketahui sudah menghafal al-Qur'an (15 Juz), mereka pun mafhum; memaklumi bahwa bau wangi itu sebagai keistimewaan yang muncul karena Umar adalah seorang hafidz.

Selain menyebarkan aroma wangi, bibir Umar pun menyungging senyum. Satu tanda bahwa Umar seakan meninggalkan kesan husnul khatimah. "Wajah almarhum tersenyum dan berbau harum," kata salah satu guru Umar, yang ikut memandikan jasad Umar. Hal serupa juga disaksikan ayah Umar dan keluarga almarhum.

Sekitar ba'da Shubuh, jenazah Umar segera dibawa pulang ke kampung halaman. Setiba di kampung, keluarga besar yang sudah tak sabar menunggu tak kuasa menahan tangis. Rasa sedih menyelimuti keluarga kami saat itu.

Meski dirundung duka, namun keluarga merasa bisa bersabar dan bersyukur sebab Umar diyakini meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Apalagi usai pihak keluarga mendengar pengakuan guru dan keluarga yang menyaksikan serta ikut memandikan jenazah Umar.

Beberapa waktu kemudian, jenazah Umar akhirnya dimakamkan. Tak lama usai jenazah itu diterima bumi, langit pun mendung dan hujan turun dengan deras.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...