Jenazah Digantung Batu

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Penguburan yang ganjil mengiringi jenazah lelaki ini. Liang lahatnya banjir padahal di tengah musim kemarau. Disedot dengan mesin tetap saja banjir. Akhirnya, jenazah dicemplungkan begitu saja setelah sebelumnya kedua kaki dan perutnya diikat tali lalu digantung dengan batu agar jenazah bisa tenggelam.

Ilustrasi

Miris dan menyedihkan! Sebuah balasan Allah telah ditampakkan kepadanya. Sebut saja namanya Aksan. Dia seorang pengangguran kelas wahid di kampungnya. Namun, dikenal bengal dan durhaka kepada kedua orangtua.

Sehari-hari kerjaannya hanya mengadu ayam, mabuk-mabukan dan berjudi. Padahal, di rumah, orangtuanya selalu menunggu kepulangannya. Di usianya yang tidak muda lagi, Karsim dan Marsinah berharap anak tertuanya berubah dan kembali kepada jalan yang benar. Nyatanya, semakin tua kian menjadi-jadi. Mereka pun hanya bisa mengelus dada.

Ya, Aksan memang anak yang amat keterlaluan. Saat ibunya sakit keras, dia malah sibuk dengan teman-temannya di luar. Padahal sejatinya, dia menunggu sang ibu di rumah dan melayani permintaannya yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Sebagai bapak, Karsim yang usianya sudah tidak muda lagi itu hanya bisa menangis dalam hati.

Padahal, seperti anak-anak kecil pada umumnya, saat kecil Aksan pund iantarkan kedua orang tua untuk belajar ngaji kepada ustadz. Aksan juga disekolahkan, meski hanya sampai tingkat SMP karena ketiadaan biaya. Tetapi, hidup prihatin yang dijalani kedua orangtua justru tidak membuat hatinya peka dengan lingkungan sekitar. Dia malah terjebak dalam pergaulan yang salah.

Saat menginjak dewasa, Aksan pun tampil garang sebagai preman kampung. Karsim dan Marsinah selalu tak pernah habis pikir dengan ulah anaknya itu. Tidak saja membuat resah masyarakat setempat, Aksan juga kerapkali mengganggu orang karena kebiasaannya yang seringkali malak.

Konon, Aksan sebenarnya pernah terlibat dalam perampokan rumah mewah di desa tetangga. Tetapi, ulahnya tidak bisa diendus dan dilacak karena dia licin bagai belut. Ini yang miris lagi, tidak sedikit perempuan yang menjadi korban rayuan gombalnya.

Dengan wajahnya yang cukup ganteng, kulit agak kuning, dan rambut lurus, dia menjadi magnet sendiri bagi para perempuan. Tak sedikit perempuan yang "kehormatannya" direnggut. Herannya, Aksan tidak pernah mau bertanggung jawab. Baginya, perempuan seperti sebuah "objek" saja. Ketika butuh dipakai, tetapi saat tidak lagi dibutuhkan, dibuang.

Ya, begitulah Aksan dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menebak sendiri, bagaimanakah nasib lelaki seperti ini kelak jika ia tak mau bertaubat?

KEMATIAN TRAGIS

Singkat cerita, di desa sebelah ada hajatan dangdut. Sebagai anak muda yang senang hura-hura, Aksan pun mendatangi tempat itu untuk menonton para artis lokal mendendangkan beberapa lagu yang berirama endut-endutan tersebut. Tapi, sebelumnya, Aksan minum-minuman keras dulu agar saat dirinya berjoget nanti ia bisa melakukannya dengan puas dan bebas.

Dalam keadaan setengah mabuk, Aksan pun berbaur dengan ratusan orang yang sebagiannya ikut berjoget saat artis lokal itu bernyanyi. Aksan pun ikut berjoget. Awalnya, pelan-pelan saja, lalu berubah menjadi liar hingga orang-orang di sekitar meminggirkan badannya karena merasa terganggu.

Sambil berteriak-teriak tidak karuan Aksan berjoget ria. Tiba-tiba tubuh Aksan yang dalam keadaan setengah sadar itu menyenggol seorang preman kampung berbadan besar, sehingga membuat dirinya sempat terjungkal ke tanah.

Tidak terima dengan ulan Aksan, ia pun segera mendorong Aksan. Aksan pun tidak terima. Ia kembali mendorongnya. Maka keributan pun tak terelakkan lagi.

Suasana sempat ramai dan tidak kondusif. Dengan amarah yang tinggi, preman kampung itu tiba-tiba mengambil sebilah pisau kecil dari balik celananya yang memang telah ia persiapkan sejak dari rumah. Lalu ia menghujamkannya ke tubuh Aksan.

Aksan tidak sempat berkelit karena suasana malam, jadi tidak tahu persis apa yang dilakukan preman kampung tersebut. Tiba-tiba saja Aksan ambruk ke tanah sambil menjerit kesakitan. Melihat ada orang yang jatuh, spontanitas orang-orang di sekitar pun memencarkan diri.

Darah berceceran keluar dari perut Aksan. Oleh teman-temannya, Aksan lalu dibawa ke rumah sakit, sementara preman kampung itu sendiri telah lenyap dari pandangan. ia menghilang di tengah kepanikan warga.

Namun, seketika sampai di rumah sakit nyawa Aksan tidak bisa diselamatkan lagi karena kehilangan banyak darah. Ia pun meninggalkan dunia ini dalam kondisi yang mengenaskan. Sebagai orang tua, Karsim dan Marsinah meratapi kepergian anak sulungnya tersebut. Meski Aksan bengal, tetap saja ia adalah anak mereka. Apalagi, ketika anaknya itu meninggal ia dalam kondisi belum bertaubat. Karsim dan Marsinah pun menangis di depan jenazah anaknya itu.

JENAZAH BANJIR

Siang harinya jenazah Aksan dikuburkan. Tidak banyak orang yang mengiringi kepergiannya ke alam baka, hanya teman-teman setianya saja. Teman-teman yang selama ini berbagi suka dalam hal kesenangan duniawi; mabuk, judi dan ngadu ayam. Tidak membutuhkan waktu lama, iring-iringan jenazah itu akhirnya memasuki area pemakaman.

Namun, belum saja mereka masuk lebih dalam, ternyata satu orang yang sedari tadi menggali dan menjaga kuburan lari terbirit-birit menghampiri mereka dan bilang bahwa kuburan yang diperuntukkan buat Aksan ternyata berisi air. Tapi, jenazah Aksan tetap saja dibawah mendekati liang lahatnya, sambil menunggu air yang ada di dalamnya diciduk dan disedot.

Sekitar dua orang turun ke liang lahat untuk menguras air yang menggenang di dalamnya. Namun, air itu tidak kering juga. Hingga berjam-jam dilakukan, liang lahat itu tetap saja banjir. Akhirnya, solusi terakhir pun diambil.

Satu warga ada yang pulang ke rumah untuk mengambil mesin diesel penyedot air. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik.

Tidak lama kemudian, meskin disel ini datang. Segera pipa mesin ditaruh di liang lahat dan mesin pun dihidupkan. Gerrrrr.......!!! Suara mesin diesel itu memecah ruang terbuka pemakaman. Air pun mengalir dari pipa penyedot ke luar.

Namun anehnya, setelah sekian lama mesin ini bekerja, airnya tetap tidak berkurang dari liang lahat. Hal ini membuat para takziah dibuat terkejut dan bingung. Bagaimana bisa? Sementara hari sudah semakin sore. Anehnya, saat itu sebenarnya musim sedang kemarau. Logikannya, tidak mungkin liang lahat itu kebanjiran air terus-menerus, kalau bukan karena ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Menjelang Maghrib, kuburan Aksan tetap tidak kering. Sebagai orangtua, Karsim dan Marsinah semakin bersedih dengan situasi demikian. Mereka sendiri tidak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka hanya bisa berdoa semoga keadaan genting ini segera lewat.

Ustadz Sobrun yang memimpin penguburan itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sempat memimpin para takziah untuk sama-sama berdoa agar semuanya bisa teratasi. Tapi, keadaan memilukan itu justru semakin pilu. Kuburan Aksan tetap penuh dengan air, sementara keadaan semakin gelap dan hal ini tak bisa dibiarkan.

JENAZAH DIGANTUNG BATU

Akhirnya, kesimpulan mengejutkan datang dari salah seorang warga. "Pak Ustadz, gimana kalau kita cemplungkan saja jenazahnya?" saran seorang warga. Ustadz itu berpikir sejenak lalu mengangguk-anggukan kepalanya. Akhirnya, Ustadz itu mendekati kedua orangtua Aksan untuk meminta izin. Awalnya menolak, tetapi setelah dinasehati dan diberi pengertian, mereka akhirnya menyerah dan ikhlas kalau jalan itu yang harus ditempuh.

Tetapi, Ustadz Sobrun tiba-tiba menatap ke langit seolah sedang berpikir, lalu menatap kosong ke depan. Mungkin dia berpikir kalau jenazah itu terpaksa dicemplungkan begitu saja, maka ia akan tetap mengembang di atas air. Akhirnya, ia pun punya ide agar jenazah itu diikat bagian perut dan kedua kakinya lalu digantung batu.

Tujuannya agar jenazah itu tertekan ke bawah atau ke dasar kuburan saat dicemplungkan, jadi tidak mengapung. Ide Ustadz itu diterima oleh banyak orang, termasuk kedua orangtua Aksan.

Jenazah Aksan pun kemudian diikat bagian perut dan kedua kakinya. Bagian ujung tali itu diikat pula dengan batu besar. Lalu jenazah Aksan yang bergantungan batu itu pun dicemplungkan ke liang lahat. Setelah kecemplung dan tenggelam di dasar liang lahat, akhirnya liang lahat itu pun diuruh dengan tanah.

Ketika liang lahat itu sudah menggunduk dengan tanah liat, maka selesai pula prosesi pemakaman Akasn yang penuh nestapa itu. Tampak kedua bola mata Karsim dan Marsinak bengkak karena bekas menangis. Para pengantar jenazah pun pulang, meninggalkan jejak kisah yang mungkin akan menjadi bahan obrolan dari generasi ke generasi di pojok warung kopi atau kedai-kedai makanan dan minuman yang lain.

Bagaimana dengan Karsim dan Marsinah? Mereka tampak dipapah oleh kerabatnya saat pulang. Rupanya kematian sang anak yang mengenaskan lalu ditambah prosesi penguburan yang ganjil itu membuat tubuh mereka lemah tak berdaya. Akhirnya mereka benar-benar lenyap dan suasana pemakaman Aksan pun menjadi lengang, tinggal kenang-kenangan yang memilukan.

Demikian kisah anak bengal yang durhaka kepada kedua orangtuanya. Ia pun meninggal mengenaskan. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua! Amin.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...