Ia Dijemput Maut Selepas Shalat Isya

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Mereka lekas mendatangi jasad Ahmad yang terbujur itu, dan mereka pun tahu bahwa salah satu dari jamaah masjid itu telah meninggal dunia.

Ilustrasi

Malam itu, bulan nyaris purnama. Cakrawala dipenuhi bintang gemintang. Awan putih terlihat seperti gulungan ombak yang berarak, bergerak bergelombang. Tapi malam begitu syahdu. Apalagi, setelah adzan Isya dikumandangkan seorang muadzin, yang membuat penduduk di sebuah kampung diwilayah Jawa Timur berbondong-bondong mendatangi masjid.

Tak lama, setelah jamaah berkumpul dan menunaikan shalat sunnah, iqamah pun digemakan. Seorang imam maju menuju mighrab, hendak memimpin shalat Isya. Jamaah pun berbaris dengan rapi, merapatkan barisan dan shalat Isya pun dimulai.

Selepas Isyta, jamaah larut dalam alunan zikir, namun tiba-tiba, seorang laki-laki tua bernama Ahmad (60 tahun) mundur ke barisan belakang masjid. Ia secara spontan merebahkan diri di lantai masjid yang beralaskan karpet.

Tentu saja, jamaah lainnya yang tengah larut dalam zikir tak melihat Ahmad. Sebagian jamaah lain pun tidak terkejut. Mereka hanya mengira jika Ahmad hanya melepas lelah biasa, istirahat sejenak, apalagi mengingat usianya yang sudah uzur.

Setelah imam selesai berdoa dan beberapa jamaah lainnya menunaikan shalat sunnah. Ahmad masih terlentang seperti orang tidur akibat kelelahan. Tak ada seorang pun yang menaruh curiga. Hingga orang-orang pun beranjak pulang.

Namun, saat hendak pulang itu, ternyata ada salah seorang dari jamaah yang menaruh curiga dan penasaran dengan tingkah Ahmad yang tidur di masjid. Ia pun hendak membangunkan Ahmad dan mengajaknya pulang ke rumah.

Orang itu pun menggoyang-goyangkan tubuh Ahmad yang sudah menua. Tapi, satu goyangan tidak membuat Ahmad terbangun. Dua goyangan, bahkan hingga digoyang-goyang berkali-kali, Ahmad pun masih tertidur. Badannya nyaris tak bergerak.

Lama-kelamaan ia pun menaruh curiga, dan memeriksa detak jantung dan pergelangan tangan Ahmad. Tak ada getaran. Tak ada detak nadi di tangan Ahmad.

Sontak. orang itu pun tahu bahwa Ahmad sudah dipanggil ke haribaan Ilahi. Ia pun berucap lirih, "Innalillahi wa innailaihi raji'uun..."

Tentu saja, suara orang itu mengagetkan jamaah yang lain. Beberapa orang dari mereka yang sudah berada di luar masjid bahkan menghentikan langkah dan kembali ke dalam masjid.

Melihat keganjilan yang terjadi mereka lekas mendatangi jasad Ahmad yang terbujur itu dan mereka pun segera tahu, bahwa salah satu dari jamaah masjid itu telah meninggal dunia.

Orang-orang itu sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Pasalnya, tidak berselang lama, mereka semua baru saja melaksanakan shalat Isya berjamaah bersama Ahmad. Tetapi kini, orang itu sudah tiada. Dan semua tak ada yang mengira jika Ahmad meninggal seusai menunaikan shalat Isya di dalam masjid tersebut.

Warga yang ada di masjid itu pun segera menghubungi keluarga Ahmad untuk memberitahukan berita duka tersebut. Nyaris sama dengan warga yang lain, keluarga Ahmad pun dikejutan dengan kejadian tersebut. Betapa sedih dan berdukanya keluarga Ahmad. Apalagi sebelum menunaikan shalat Isya itu, keluarga melihat Ahmad masih sehat dan tak kurang satu apa pun.

Tetapi, di balik kejadian itu, pihak keluarga Ahmad diliputi segumpal rasa bersyukur karena Ahmad meninggal selepas melaksanakan shalat Isya. Keluarga berharap Ahmad meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir kematian yang baik).

Tetapi, di balik peristiwa itu, lamat-lamat keluarga mengingat kejadian yang tak selang lama dilakukan oleh Ahmad.

PESAN BERQURBAN DAN MEMINTA MAAF

Warga kampung dan keluarga almarhum mengingat suatu peristiwa yang terjadi sebelum Ahmad meninggal. Selepas menunaikan shalat Ashar di masjid itu, warga tidak melihat Ahmad menunjukkan tanda-tanda sakit.

Tetapi, ada yang ingat bahwa sehabis shalat Ashar di masjid itu, Ahmad sempat menitipkan "sebuah pesan" kepada warga supaya anak tertuanya berqurban. "Jangan karena sudah kaya lalu lupa berqurban," kata salah satu warga saat itu, menirukan apa yang disampaikan Ahmad.

Selain menitipkan pesan ke warga untuak disampaikan ke anaknya, sehabis shalat Maghrib, Ahmad ternyata membuat beberapa warga bertanya-tanya. Pasalnya, tidak ada angin tidak ada hujan, Ahmad tiba-tiba meminta ditemani anaknya berkunjung ke rumah tetangga dan sanak famili untuk meminta maaf. Tetangga pun bertanya-tanya, tapi hanya disimpan saja di dalam hati rasa keheranan mereka.

Tidak lama setelah minta maaf ke rumah-rumah warga di kampungnya, Ahmad kemudian kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarganya. Menurut cerita Hasan, salah satu anak Ahmad, sata itu tidak ada yang aneh terhadap ayahnya. Hingga waktu shalat Isya itu tiba.

Rupanya, semua itu adalah tanda-tanda di balik kepergian Ahmad untuk selama-lamanya. Apalagi permintaan maaf yang diminta Ahmad kepada warga di kampungnya itu bukan karena ia telah banyak berbuat salah kepada mereka. Tapi itu adalah tanda permohonan maaf terakhir baginya. Itulah yang membuat warga terkenang.

AYAH YANG BAIK

Di mata anak-anaknya, Ahmad adalah ayah yang tak pernah menyusahkan warga. Ia seorang lelaki pemurah dan banyak memaafkan orang lain. Dia tidak suka menggunjingkan urusan orang lain.

Dalam bergaul, Ahmad malah lebih senang diam daripada banyak bicara. Inilah yang menurut anak-anaknya satu bentuk contoh akhlak yang diwariskan ayah kepada anak-anaknya.

Tak salah, karena kebaikan Ahmad kepada siapa pun itu, maka ia disenangi warga kampung baik muda atau tua, wanita dan lelaki, bahkan anak-anak senang melihat akhlak Ahmad. Dia penyayang, suka membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Karena itu, seluruh anak-anaknya sangat mencintainya. Tak satu pun dari anak-anaknya membiarkannya terlantar, apalagi Ahmad sudah uzur sehingga tidak mampu lagi bekerja seperti anak-anaknya yang masih muda.

Sisi lain kebaikan Ahmad, dia nyaris tidak pernah mau merepotkan orang lain, bahkan tidak mau merepotkan anak-anaknya sendiri. Suatu hari, menurut cerita Hasan, melihat baju yang dimiliki Ahmad ada yang kotor dan harus segera dicuci, anak menantu perempuannya ingin mencucikan pakaian kotor tersebut, tapi, Ahmad tak mau. Ia merasa masih mampu berbuat sendiri.

Satu lagi yang cukup mengesankan dari karakter Ahmad, sering anak-anaknya atau saudara yang lain datang dan memberikan uang. Tapi, uang itu ternyata disimpan. Saat cucunya yang hafiz (hafal) dan kini sedang belajar di salah satu pesantren di Jawa Tengah pulang, uang itu diberikannya sebagai pesangon. Begitu besar cintanya kepada cucunya yang hafiz itu sehingga setiap kali mendapatkan rezeki dia tidak pernah mau menggunakan keperluan pribadinya. ini salah satu akhlak mulia di samping beberapa akhlak mulia lain yang dimiliki Ahmad.

SELALU MENGINGATKAN UNTUK SHALAT

Menurut cerita Hasan, salah satu dari anak Ahmad, ayahnya adalah orang yang sangat perhatian terhadap masalah pemahaman agama anak-anaknya. Setiap waktu shalat, ayahnya selalu mengingatkan dirinya dan saudara-saudaranya. Hasan mempunyai empat saudara. Semua saudaranya kini sudah tidak lagi tinggal bersama sang ayah di Jawa Timur. "Mereka sudah mencar-mencar. Saya, misalnya, merantau ke Kalimantan."

Hasan terkesan dengan pesan ayahnya dulu ketika masih hidup. Ayahnya selalu berpesan agar di mana pun berada, dia dan saudara-saudaranya semua, jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu. Pesan itu selalu teringiang di telinga Hasan hingga kini, sata dia sudah memiliki dua anak.

Pesan lain yang selalu diingat Hasan dari ayahnya adalah semangat hidup yang tidak bergantung kepada orang lain. Betapa pun hidup ini berat dan penuh perjuangan, tapi jangan pernah sekali-kali kita bergantung kepada orang lain. Itulah di antara pesan yang selalu diingat Hasan hingga saat ini.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...