Dua Bersaudara Yang Syahid Bersama

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Nilai sebuah kesyahidan tak terkira nilainya. Hanya surga balasannya. Karena itu, banyak orang berharap bisa meninggal dalam kondisi syahid. Asal jangan sampai keliru memahami "jihad" sebagai jalan untuk memperoleh kesyahidan.

Ilustrasi Jihad

Sebelum Islam datang, kehidupan Jahili memang begitu nyata. Orang yang punya kekayaan, berkuasa atas segalanya. Istilah majikan dan budak begitu lebar menganga perbedaannya. Orang yang menjadi budak, seperti robot hidup yang bebas diperintah betapa pun perintah itu keliru.

Islam datang membawa perubahan signifikan. Segala bentuk perbudakan dihapus dari muka bumi, semua orang dipandang sama ras, suku, status sosial, yang membedakan hanyalah tingkat kedekatan seseorang dengan Sang Khalik.

Manifestasi dari orang yang benar-benar berupaya mendekatkan diri kepada Allah adalah selalu berupaya mengamalkan nilai-nilai agama. Salah satu caranya adalah jihad untuk mencapai kesyahidan. Baik jihad yang dipahami sebagai kontak fisik melawan musuh, namun jihad dalam arti lebih luas; yakni bisa dengan berdakwah, membantu orang-orang yang membutuhkan mengamalkan ilmunya, menyejahterakan masyarakat dan sebagainya.

Pada zaman Nabi saw seringkali memang terjadi peperangan, karena umat Islam ditekan dan dipinggirkan. Dalam konteks ini, jihad dalam arti kontak fisik menjadi sebuah keniscayaan untuk membela agama. Jadi, bukan ofensif, tetapi defensif manakala harga diri dan kehormatan Islam diinjak-injak.

Perang sebagai pertahanan diri (pembelaan diri) bukan untuk menang-menangan atau untuk menggebuk orang yang tak sepaham,

Jika alasannya untuk menunjukkan kedigdayaan kelompoknya sekali pun harus menyakiti sesamanya, bukan jihad namanya, melainkan sebaliknya; jahat (tindakan yang melanggar ketentuan agama maupun Negara) karena kesalahan menerjemahkan jihad sebagai jalan untuk menggapai kesyahidan.

BERJUANG BERSAMA

Salim adalah salah seorang sahabat Nabi. nama lengkapnya adalah Salim Maula Abu Hudzaifah. Mulanya lelaki ini adalah budak namun kemudian dimerdekakan tuannya. Tuan yang memerdekakannya adalah Abu Huzaifah bin Utbah. Salim sendiri tidak jelas asal-usulnya, maka namanya diikatkan dengan nama tuannya sehingga lengkapnya bernama Salim bin Abu Huzaifah.

Ketika keduanya memeluk Islam dan menjadi pengikut Nabi saw, maka hilanglah keterikatan budak dan tuan. Salim tidak menjadi budaknya Huzaifah dan posisi Huzaifah bukan lagi majikan, melainkan keduanya adalah saudara sesama muslim.

Islam telah menghapus semua bentuk perbudakan. Tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan seorang hamba kepada Sang Kalikn-Nya. Jika Allah saja mengatakan bahwa semuanya sama di sisi-Nya, maka alangkah nafinya seseorang yang memperagakan kesombongannya lantaran memiliki kekayaan yang berlebih atau kekuasaan tinggi.

Sejak Salim dan Huzaifah mengikuti ajaran Nabi, keduanya praktis memasuki babak baru. Mereka sangat antusias sekali belajar, mengamalkan pelajaran-pelajaran yang dicontohkan langsung oleh Nabi saw.

Suka-duka dialami keduanya. Ancaman dan aniaya datang dari kaum Quraisy. Akan tetapi, iman sudah terpatri kuat-kuat di dalam hati mereka sehingga ikhlas menerima apa pun resikonya. Perjuangan memang berat, tetapi kebenaran haruslah tetap di dahulukan.

Salim termasuk yang terkemuka dalam pengetahuan al-Qur'an. Salim beriman dengan kehendaknya sendiri. Tidak karena pengaruh apa pun. Bukan karena ia orang hina dan budak lalu masuk islam agar memperoleh tempat berlindung; sama sekali tidak. Bahkan keterikatannya dengan Huzaifah bukan penyebab ia masuk Islam. Hidayah Allah jualah yang mengantar ia menjadi muslim, dan termasuk sahabat utama serta ahli al-Qur'an.

Kelebihan Salim adalah sifatnya yang terbuka. Secara transparan ia mengemukakan yang benar sebagai kebenaran, tanpa takut dan sembunyi-sembunyi. Salim hidup mendampingi Rasulullah saw bersama sahabat lainnya. Ia juga selalu bersama saudaranya, Huzaifah. Mereka berdua tidak pernah absen dalam setiap jihad fi sabilillah.

SYAHID DI MEDAN LAGA

Dalam pertempuran Yamamah, keduanya maju berdampingan menyongsong musuh. Huzaifah bagaikan angin puyuh menerjang lawan. pedangnya berkelebatan ke sana kemari. Sedangkan Salim yang membawa bendera kaum Muhajirin berada di samping Hudzaifah. Pedangnya menari-nari mencari lawan memukul mundur mereka.

Kendati dari segi jumlah, pasukan lawan jauh lebih besar, namun pasukan muslim tak gentar menghadapi. Malah dengan semangat yang berkobar demi menjaga kehormatan Islam, kekuatan mereka seolah berlipat-lipat. Tak ada kata takut apalagi menyerah.

Pertempuran makin memanas. Musuh mulai menunjukkan tajinya. Akhirnya, sekelompok orang-orang murtad mampu mengepung Salim dari semua penjuru. Semampunya, ia menangis tiap serangan lawan yang menuju ke arahnya.

Salim harus berjumpalitan dan tak mau menyerah. Berkali-kali badannya berkelebat membentur bumi, namun pedang masih tergenggam kuat-kuat di tangannya. Beberapa bagian anggota tubuhnya terkena samberan senjata lawan, namun Salim tetap berusaha menghadapi lawannya.

Dengan sisa kekuatannya, ia memburu pimpinan pasukan lawan. Sampai ia menjumpai Musailamah al-Kadzab. Lelaki yang gagah berani itu langsung menebaskan pedangnya dengan dahsyat. Musailamah, sang Nabi Palsu itu tewas.

Setelah itu, Salim jatuh tersungkur, karena hampir seluruh badannya telah penuh dengan tusukan pedang. Ketika pimpinan pasukan Islam dan sahabat lainnya mencari korban yang syahid, mereka mendapati Salm sedang sakaratul maut.

Bibirnya bergetar hebat. Dengan susah payah, ia masih sempat menanyakan saudaranya, Huzaifah.

"Huzaifah telah mati syahid." jawab mereka.

"Baringkan ia di sampingku," ujar Salim lemah.

"Ini dia telah berada di sampingmu. Ia telah menemukan syahidnya di sampingmu."

Mendengar jawaban para sahabat yang hadir waktu itu, Salim masih bisa tersenyum bahagia. Seluas senyum itu menjadi pengantar sebelum ia menyambut kesyahidannya.

Salim dan Hudzaifah meninggal dalam keadaan syahid. Mereka menepati janji bahwa jiwa raga yang dimilikinya akan kembali sepenuhnya kepada Allah, Sang Pencipta Alam. Kedua sahabat itu menjadi muslim bersama-sama kemudian menemui ajalnya dan mati syahid bersama-sama pula.

Medan perang Yamamah menjadi saksi bisu dari hidup, perjuangan serta syahidnya dua bersaudara itu.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...