Demi Karier Kami Sepakat Berpisah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Mungkin orang lain akan menganggap aneh atas pernikahan kami. Rasa egois dan tak pernah saling mengalah membuat terpaksa harus berpisah demi mempertahankan karier masing-masing. Walau perceraian itu terjadi dengan cara yang baik, namun tetap saja menyisakan rasa kehilangan pada diri kami.

Ilustrasi

Perkenalkan namaku Santi (36 tahun), Akus udah menikah selama delapan tahun dengan seorang pria yang kukenal dari seorang teman bernama, Dedi (38 tahun). Dari pernikahan yang kujalani, aku telah dikaruniai seorang anak yang begitu lucu dan tampan yang kuberi nama Ariel (5 tahun).

Awal perjalanan rumah tanggaku dengan Mas Dedi berjalan dengan baik dan terkesan jauh dari yang namanya perselisihan. Banyak orang yang menilai bahwa rumah tanggaku adalah sebuah rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan, warahmah.

AWAL KEBAHAGIAAN

Aku memang wanita yang beruntung, memiliki seorang suami yang begitu baik dan sangat perhatian. Mas Dedi benar-benar tak melupakan kebiasaan-kebiasaan kami saat menjalani masa-masa pacaran. Dia masih ingat betul makanan kesukaanku dan juga bagaimana cara menyenangkan hatiku yang sedang gundah. Pernah suatu hari, tanpa kuduga sebelumnya, dirinya membelikan sebuah gaun muslimah yang sudah lama kuinginkan. Padahal, tak pernah sekalipun kusampaikan keinginanku itu padanya.

Alhamdulillah, dari pekerjaan Mas Dedi kami dapat membangun sebuah rumah yang nyaman, padahal masih banyak juga kawan-kawan kami yang sudah menikah beberapa tahun lamanya masih harus tinggal di sebuah rumah kontrakan.

Terlebih, di dalam rumah juga diisi dengan keceriaan Ariel yang tiap hari memberi warna tersendiri. Semua itu benar-benar anugerah terindah yang diberikan oleh Allah dan aku tak henti-hentinya mengucap rasa syukur.

Kehidupan rumah tangga kami benar-benar membuat iri bagi sebagian orang yang menyaksikannya. Aku dan Mas Dedi pun hanya bisa tersenyum ketika banyak orang menyanjung kami di berbagai kesempatan. Tak hanya itu saja, beberapa kawan yang sudah menikah pun sampai harus meminta saran kepada kami dalam mengarungi rumah tangga.

PRAHARA RUMAH TANGGA

Seiring berjalannya waktu, Mas Dedi pun menyampaikan bahwa perusahaan tempatnya bekerja memberikan pilihan yang cukup sulit. Mas Dedi akan dipromosikan menjadi seorang general manager tapi harus ditempatkan di luar kota. Walaupun tak harus segera dijawab, namun ppilihan dari perusahaan tersebut perlahan mulai menggoyahkan bahtera rumah tangga kami.

Dengan penuh semangat, Mas Dedi pun meyakinkanku agar mau mengikuti jejaknya tinggal di luar kota sesuai dengan pilihan yang diberikan oleh perusahaannya. Namun, hal tersebut membuatku gundah. Pasalnya, dari lubuk hatiku yang terdalam aku tak ingin meninggalkan kota kelahiranku Lamongan. Selain itu, aku sendiri tak ingin tinggal jauh-jauh dari kedua orang tuaku yang sudah lanjut usia.

Bukannya ingin menghambat karier Mas Dedi, namun aku benar-benar tak bisa menerima pilihan dari perusahaan tempatnya bekerja. Menurutku, dengan penghasilannya yang sekarang saja sudah cukup untuk memenuhi rumah tangga kami.

Aku sudah cukup bahagia dengan keadaan rumah tangga kami yang sekarang. Walaupun akan mendapat tambahan rezeki yang berlimpah nantinya, tapi aku benar-benar memang tak bisa menerima pilihan tersebut.

Bahkan, keadaan tersebut mulai mempengaruhi kehidupan kami sehari-hari. Hal itu tampak pada saat kami yang seharusnya berangkat umrah secara bersama-sama pun sampai harus berangkat sendiri-sendiri. Dengan alasan pekerjaan dari kantor, Mas Dedi pun memutuskan untukt idak berangkat umrah bersamaku.

Di hadapan Kakbah, di kota Makkah yang suci aku berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang kuhadapi. Aku benar-benar tak menyangka akan menghadapi masalah rumah tangga yang cukup pelik.

AKHIRNYA BERCERAI

Sepulang umrah, aku mulai merasakan sikap dingin Mas Dedi. Tak ada sambutan seperti pelukan hangat dari seorang suami yang lama tak bertemu dengan istrinya. Sesampai di rumah, aku malah ditodong dengan pertanyaan, apakah aku siap meninggalkan lamongan untuk mengikutinya pergi ke Surabaya. Sungguh di luar dugaan, aku pun menjawab dengan penuh kasih bahwa aku tak bisa memenuhi keinginannya tersebut.

Penolakanku memang tak sampai membuat murka Mas Dedi, namun sepertinya dirinya sangat kecewa dengan jawabanku tersebut. Bahkan hal tersebut membuat kami berdua mulai tak bertegur sapa dan Mas Dedi tak lagi tidur sekamar denganku. Hingga suatu hari, Mas Dedi malah menyampaikan keinginannya untuk berpisah denganku. Perasaanku hancur mendengar pernyataan Mas Dedi, seolah tak ada solusi atas masalah yang kami hadapi.

Selama beberapa minggu, kami berdua mencoba untuk berkomunikasi tapi tetap saja tidak menemukan jalan keluar lagi. Beragam cara, mulai dari meminta nasihat keluarga hingga sahabat pun tetap tak memberikan jalan keluar. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk berpisah lantaran Mas Dedi yang tetap ngotot ingin tinggal di Surabaya, sementara aku tak menginginkannya.

Suasana hatiku memang sedang kacau, tapi hal itu tak sampai membuatku kehilangan kesadaran dan logika. Sebagai seorang mantan suami, Mas Dedi pun masih menyempatkan diri untuk mengunjungiku dan Ariel. Semua itu masih berjalan hingga kini dan sampai dirinya telah bersanding dengan wanita lain. Sedangkan aku sendiri juga sudah mulai didekati oleh seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kelasku di bangku SMA.

Kebahagiaan Mas Dei juga merupakan kebahagiaanku. Terkadang, aku pun berhubungan dengannya melalui SMS dan saling berkirim email. Dalam berbagai kesempatan, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik bagiku dan juga Mas Dedi yang sedang dalam meniti karier. 

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...