Bertingkah Aneh Saat Sakaratul Maut

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Lelaki yang tengah sekarat itu berguling-guling, sambil menjerit-jerit tak jelas di ruang tamu. Tingkahnya seperti orang kesurupan saja.

Ilustrasi Sekaratul Maut

Rasanya aneh saja melihat pemandangan satu ini. Betapa tidak, di saat maut segera menjemput, Hamdani (50 tahunan, bukan nama sebenarnya) merasakan derita yang luar biasa. Bayangkan, sejak pagi ia terus menjerit dan merintih.

"Aduh... aduh....! Huaaa... huaaaa....! Bangsat...!" Seringkali pula caci maki terlontar dari mulutnya.

Mulut Hamdani terus bersuara. Kadang lirih seperti menahan rasa sakit yang tiada tara, kadang lantang. Terang saja, mendengar jeritan itu, satu per satu tetangga berdatangan. Mereka ingin tahu, ada apakah gerangan sehingga lelaki itu terus menjerit-jerit.

Sebelumnya, mereka memang mengetahui lelaki ini sedang sakit. Tetapi tidak sampai meronta-ronta bahkan teriak-teriak. Kali ini, sungguh berbeda. Jeritan Hamdani mengagetkan mereka.

"Ada apa dengan suami, Ibu?" tanya Rohmah

"Entahlah, saya juga tidak tahu, Bu," jawab Murni, istri Hamdani, kebingungan.   

Murni sendiri juga terhenyak begitu melihat kondisi suaminya. Namun apa daya, dia tak bisa berbuat banyak. Kecuali pasrah.

Bukan itu saja, lelaki yang tengah sekarat itu juga berjumpalitan, berguling-guling, sambil menjerit-jerit di ruang tamu. Tingkahnya seperti orang kesurupan. Kadang-kadang berguling ke kanan ke kiri dengan mulut yang terus teriak-teriak.

Ruang tamu yang cukup lapang itu seolah arena bermain Hamdani seorang diri. Barang apa pun yang ada di dekatnya berantakan. Minuman yang dihidangkan istrinya untuk dirinya di meja tersebut pun berserakan. Airnya tercecer dimana-mana. Semua barang tidak luput dari sambaran tubuh Hamdani yang terus bergerak semaunya.

Meja dan sofa bergeser dari posisi semula. Taplak meja acak-acakan. Pokoknya, ruang itu seperti bukan ruang tamu, malahan lebih mirip arena main anak-anak, dimana semua mainannya berserakan dan kotor.

Teriakan Hamdani terus memecah suasana Kampung Sembili yang biasanya lengang. Warga berdatangan silih berganti. Mereka menyaksikan pemandangan itu dari pintu dan jendela rumah Hamdani.

"Kok bisa begitu ya?" bisik salah seorang mereka.

"Entahlah.... Wallahu a'lamu," jawab yang lain.

Sudah dua jam, Hamdani berulah aneh. Namun belum juga berhenti. Kelakuannya masih tetap sama, sesekali menjerit, sesekali berguling-guling dan sesekali merintih kesakitan.

Senja di ambang tiba. Jerit Hamdani berangsur-angsur melambat, intensitasnya sudah jauh berkurang. Ini diikuti pula tingkahnya yang tadinya aneh sudah mulai mereda. Akhirnya tibalah di satu waktu di mana lelaki itu terkulai tak berdaya.

Buru-buru beberapa orang mengangkat tubuh Hamdani. Mereka memindahkan ke pembaringan agar Hamdani bisa beristirahat dengan nyaman.

Setengah jam berlalu. Hamdani diam seribu bahasa. Tak ada gerakan. Tidak seperti sebelumnya yang seringkali meledak-ledak, melupakan jeritan. Tetapi kini tertelungkup lesu, wajahnya pucat pasi seakan menanggung beban derita yang begitu berat. Rohmah hanya bisa menyeka air matanya. Sudah banyak lembaran tisu dihabiskan untuk membendung air matanya itu.

Ruangan sudah agak sepi karena warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Yang tersisa sekarang ini hanya beberapa orang saja yang menunggui Hamdani, termasuk sang istri.

Sejurus kemudian, dari mulut Mat Sabar, saudara Hamdani, terucap, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Hamdani sudah meninggalkan kita."

Spontan saja ruangan itu bergemuruh. Penuh dengan tangisan duka cita, terutama Rohmah. Petang itu, warga kembali berdatangan ke rumah Hamdani. Hanya kali ini tujuan mereka untuk melayat.

Namun ada saja bisik-bisik di antara yang datang tentang kejadian yang aneh itu. Apalagi kalau bukan soal Hamdani yang meregang nyawa dengan didahului sakaratul maut yang sungguh mengerikan. Betapa tidak, mulai jam 10 pagi hingga menjelang sore, ia tak henti-hentinya bertingkah bagai orang kesurupan. Na'udzu billahi min dzalik.

Malahan menurut penuturan Rohmah, saat penguburan mayatnya pun ada kejanggalan. Disaksikan oleh beberepa peziarah, liang lahad untuk menguburkan Hamdani harus dilebarkan beberapa kali. Saking putus asanya, para pengubur memasukkan jasad Hamdani ke liang kubur secara paksa.

KEBIASAAN BURUK

Jauh sebelum kematiannya, sewaktu masing segar-bugar, Hamdani adalah seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah. Ia menempati posisi penting di tempat kerjanya. Karena itu, gaji yang diterimanya pun lumayan besar.

Tapi dasar manusia, sudah diberikan nikmat rezeki yang berkecukupan masih saja kurang. Keserakahan lebih menguasai dirinya ketimbang bersyukur. Rasa kurang cukup dengan apa yang diterimanya membuat hatinya seolah dibutakan oleh gelimang materi.

Hamdani berani mengambil resiko. Cara-cara kotor dipraktekkan. Ia tak peduli, darimana harta diperoleh dan apakah perolehannya tersebut halal atau tidak. yang penting baginya adalah kantongnya tebal dan otomatis sesegera mungkin bisa mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sejak 5 tahun terakhir sebelum ajalnya, Hamdani kerap memanfaatkan jabatannya. Setiap ada proyek, ia "bermain" di situ. Ia me-mark up setiap dana proyek yang dikelolanya. Dengan begitu, ia bisa mengambil keuntungan besar. Dari pendanaan suatu proyek, ia kerap menggelembungkan dana hingga 50% dan itu akan masuk ke kantong pribadinya. Dengan cara ini, maka rupiah demi rupiah berhasil dikeruknya.

Lelaki berperawakan agak gemuk dan sedikit botak ini berhasil meyakinkan bahwa proyek yang dilaksanakannya bisa berhasil tepat waktu dengan kualitas tetap terjaga. Anehnya, orang-orang disekitarnya percaya begitu saja. Mereka tidak curiga sedikit pun terhadap penggelembungan dana yang sudah dilakukannya.

Hamdani aman-aman saja, Kalau pun ada orang yang coba-coba mengutak-utiknya, Hamdani bisa mematahkannya dengan mudah. Banyak jurus jitu yang bisa dimainkan untuk membungkam orang tersebut. Dengan cepat, Hamdani bisa menutup celah yang bisa mencelakakan dirinya.

"Kamu tahu apa soal proyek ini? Semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Kalau kamu merasa tidak sreg, aku bisa cari orang lain untuk menggantikan posisimu," ancam Hamdani begitu ada yang memprotes.

"Tapi..."

"Sudahlah, Kerjakan saja apa yang mesti kamu kerjakan! Bila kamu ngeyel terus, aku tidak segan-segan memecatmu dari pekerjaan ini."

Pundi-pundi kekayaan Hamdani bertambah. Kebiasaan Hamdani yang suka me-mark up setiap kali ada proyek yang ditanganinya semakin kebablasan. Untuk memuluskan usahanya ini, Hamdani kadang memfitnah dan menzalimi orang. Dengan kelincahannya bersilat lidah, ia memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya.

Sikap ini terbawa pula dalam keseharian di lingkungan rumahnya. Merasa dirinya sebagai orang terpandang, ia seolah tak menggubris ucapan orang-orang di sekitarnya yang tidak sependapat dengannya. ia merasa semua yang diperbuatnya benar.

Istrinya, Murni, tidak tahu banyak sepak terjang suaminya di luar rumah. Perempuan ini hanya tahu bahwa suaminya bekerja. Itu saja. Setiap kali gajian, ia rutin menerima nafkah yang cukup. Tidak tahu sumber semua penghasilan suaminya, apakah hanya berasal dari gaji ataukah ada penghasilan lain di luar gaji yang sumbernya tidak jelas.

Namun sepandai-pandai Hamdani menutupi boroknya, lambat laun orang pun mengetahui kelakuan buruknya. Dimana ia seringkali mengambil keuntungan besar dengan cara tidak halal dari setiap pekerjaan yang ditanganinya. Hal ini diketahui setelah lelaki itu dipecat dari tempatnya bekerja. Warga pun terbelalak mengingat pemecatannya terkait dengan penghasilan yang didapatnya ternyata berasal dari hasil korupsi proyek yang ditangani.

BUKAN DENGAN CARA BATIL

Setelah menyimak kisah di atas, ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan bersama bahwa Allah menghamparkan bumi dan segala isinya untuk kepentingan semua manusia. Di situlah, manusia bekerja, berkreasi dengan benar. Bukan dengan jalan sikut-menyikut sesamanya, bukan pula dengan menyakiti apalagi sampai menzalimi sesamanya.

Allah swt tegas memperingatkan, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil..." (QS. An-Nisa: 29).

Maksud pernyataan Allah swt di atas adalah ada keharusan orang untuk bekerja, namun tidak serta-merta kemudian orang boleh menghalalkan segala cara dalam memperoleh harta. Segala bentuk tindakan, baik mengambil atau menguasai, harus sesuai dengan koridor agama. Karena itu cara batil (kebalikan haq) sangat diharamkan Allah. Termasuk kategori batil di dalamnya adalah hasil riba, pencurian, perjudian, penipuan, korupsi dan sebagainya.

Allah swt melarang hamba-hamba-Nya memakan harta sebagian mereka terhadap sebagian lainnya dengan cara yang batil. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, segala jenis penghasilan yang diperoleh secara tidak benar, di antaranya adalah: transaksi judi, mencuri, korupsi, serta berbagai penipuan dan kezaliman. Bahkan termasuk pula orang yang memakan hartanya sendiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan.

Rasulullah saw pernah berpesan, "Perbaikilah dalam mencari rezeki, dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi).

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...