Berkah Hafal Al-Quran, Jasad Utuh Puluhan Tahun

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Seluruh keluarga terkejut ketika melihat jenazah ayah Sumarni (bukan nama sebenarnya) dibongkar. Jasadnya utuh, padahal ia sudah meninggal 32 tahun yang lalu. Diketahui bahwa selama masih hidup, sang kakek adalah penghafal Alquran atau seorang tahfidz. Subhanallah.

Ilustrasi

Bidan Sumarni merupakan salah satu tenaga kesehatan di wilayah Jawa Barat. Sejak kecil ia diasuh oleh orang tuanya dengan tuntunan Agama. Sehari-hari ia juga melihat ayahnya melakukan ibadah wajib dan sunnah serta menghafal Alquran. Ia sangat terbiasa dengan bacaan Alquran dan kegiatan agama setiap harinya.

Kegiatan ini terbawa sampai pada kehidupannya sekarang. Bahkan ketika ingin memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, Sumarni ingin memberikan pendidikan agama. Ia juga bercita-cita agar kelak putra-putrinya ada yang menjadi seorang penghafal Alquran.

Ia teringat dengan kejadian yang membuatnya menangis. Tangisan itu bukan karena sedih, namun tangis kebahagiaan dan bangga karena memiliki seorang ayah tahfidz atau penghafal Alquran. Ia lantas menceritakan kepada anak-anaknya tentang ayahnya yang seorang tahfidz /  hafidz.

Beberapa bulan yang lalu, ia dan saudaranya yang lain berencana untuk memindahkan makam karena alasan tertentu. Pembongkaran disetujui dan disaksikan oleh seluruh keluarganya. Ia meminta tolong kepada beberapa petugas pemakaman untuk membongkar dan mengangkat jenazah almarhum ayahnya kalau masih ada. Sebab almarhum sudah meninggal 32 tahun yang lalu.

Namun ketika dibongkar, dan dilihatmakamnya, ternyata seluruh keluarga terkejut dan kaget karena jenazah almarhum ayahnya masih utuh. Semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur. Beberapa pertanyaan mulai muncul pada anak-anak Sumarni.

Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" kata Sumarni meniru pertanyaan dari anaknya.

Dengan berlinang air mata, Sumarni menjawab dengan menceritakan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidz Alquran, kakek kalian kiai pengamal Alquran, Nak," jelasnya.

Akhirnya keinginan untuk menjadi seorang tahfidz muncul dalam diri anak-anaknya. Dan semangat itu juga ada dalam diri Sumarni untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Dari segi ibadah kepada Allah dan dari segi ibadah sosial.

AKRAB DENGAN ALQURAN

Menurut Sumarni, sejak ia kecil ayahnya sangat akrab dengan kitab suci Alquran. Bahkan tidak ada waktu yang dihabiskan secara sia-sia. Ketika ada waktu luang atau tidak ada kegiatan, ayahnya mengisi dan mengaji Alquran atau menghafal surat-surat pendek.

Sejak dulu di kalangan masyarakat, ayah Sumarni dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah. Ia selalu menyempatkan untuk beribadah di mushala dekat rumahnya. Meskipun pekerjaan sehari-hari selalu di lapangan, karena almarhum adalah kepala proyek. Jadi setiap ada proyek pembangunan jalan baru, perusahaan tempat almarhum bekerja yang menjadi parter pemerintah dan menyelesaikan proyek tersebut. Almarhum selalu menyempatkan diri untuk membaca Alquran disela istirahat kerja.

Sepertinya, Alquran sudah menjadi pegangan dalam kehidupannya. Ketika ada yang merasa tidak cocok dengan hati nuraninya. Ia akan membicarakannya dengan baik tanpa menyakiti orang lain. Karena dalam kehidupan keluarganya, ia tidak pernah melakukan kekerasan. Ia selalu mengedepankan diskusi dan komunikasi agar hubungan antar anggota keluarga menjadi harmonis.

Selain itu, musyawarah adalah hal utama yang perlu dilakukan ketika menemui masalah. Hal itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan keluarga almarhum.

MENGAJAR NGAJI

Setelah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya. Ayah Sumarni memilih untuk menjadi guru ngaji di tempat tinggalnya. Meskipun tanpa memungut biaya sedikitpun, almarhum sangat ikhlas dalam menjalankan tugasnya sebagai guru ngaji.

Setiap sore setelah shalat ashar hingga menjelang maghrib. Rumahnya dijadikan tempat bagi anak-anak untuk belajar Alquran. Ada yang belajar Alquran. Ada yang belajar mulai awal, tapi ada juga yang sudah lancar dan dalam proses menghafal Alquran.

Almarhum hanya ingin setiap anak didiknya kelak menjadi seorang yang sukses dalam menghafal Alquran. Tidak hanya dihafalkan saja, tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat berkesan dan terus diingat oleh keluarganya.

Keikhlasannya dalam menghafal Alquran dan mengajar menjadi teladan yang tidak bisa hilang dari sejarah keluarga Sumarni. Sosok ayah yang sangat tanggung jawab dan imam yang baik dalam keluarga. Almarhum tidak pernah menyuruh anak-anaknya. Tapi ia selalu memberikan contoh dan teladan.

"Memang tidak ada yang sempurna. Tapi menurut saya, ayah ini merupakan pemimpin yang ideal dalam keluarga. Menghafalkan ayat-ayat Alllah, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga saja ayah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah," harapnya.

Setelah pembongkaran makam itu, Sumarni dan keluarga melihat dengan sendiri keistimewaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang menghafal Alquran. berpuluh-puluh tahun dimakankam, tapi jasadnya masih utuh dan tidak hancur.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...