Sakaratul Maut Seperti Anjing

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Matanya melotot dengan muka yang menyeramkan. Dan yang lebih mengerikan adalah lidahnya menjulur-julur, keluar masuk dari mulutnya. Jika sudah menjulur, lidahnya tampak lebih panjang dari ukuran normal. Apa gerangan yang menimpanya?

Ilustrasi

"Astagfirullah al-adzim .... astaghfirullah al-adzim," kalimat itu seringkali diucapkan orang-orang saat menyaksikan Mak Sayekti sedang sakaratul maut. Mulai dari anaknya sendiri yang telaten merawatnya sampai beberapa tetangga yang menjenguknya. Semuanya melontarkan keprihatinan yang mendalam atas apa yang dialami Mak Sayekti.

Berkali-kali Mak Sayekti meregang nyawa, mengalami sakaratul maut yang luar biasa. Mukanya menyeramkan, matanya membelalak. Dan yang lebih membuat trenyuh adalah lidahnya yang menjulur-julur terus seperti anjing. Naudzhu billahi min dzalik.

Kadang-kadang ia menjulurkan lidahnya agak lama yang tampak lebih panjang dari lidah manusia normal, kemudian ia memasukkan lidah itu ke dalam mulutnya. Setelah itu, kembali lagi pemandangan yang sama terlihat. Begitu seterusnya.

Tubuh perempuan tua yang sudah tak berdaya di atas ranjangnya itu sungguh mengenaskan. Kulit tubuhnya mulai berkeriput, rambutnya acak-acakan serta pakaian yang dikenakannya berantakan karena setiapkali masa itu datang, perilaku Mak Sayekti sungguh aneh. Bukan di bagian muka saja yang ganjil, melainkan juga tangan dan badannya bergetar hingga membuat spresi ranjang serta busananya tak karuan.

Di tepi ranjang, Sunarti, sang anak yang setia menemani ibunya, tak henti-hentinya menyeka air matanya yang sembab lantaran sering menitikkan air mata. Wajahnya begitu sedih. Dari cara duduknya, ia teramat gelisah serasa menyimpan banyak pertanyaan menyangkut keanehan yang ada pada ibunya. Namun, semua itu tak kuasa ia katakan, hanya disimpan di dalam hatinya.

Masih teringat pesan ibunya ketika sakaratul maut belum mendatangi. Ibunya berpesan agar dirinya tidak perlu lagi mengikuti jejak pekerjaannya sebagai rentenir. "Jangan ikuti pekerjaan ibumu, ya Nak! Mungkin sakit ibumu ini akibat pekerjaan ibu," pesannya tanpa menjelaskan panjang lebar. Namun Sunarti dan juga banyak orang di kampung itu sudah maklum tentang pekerjaan Mak Sayekti. Profesi apa lagi yang dikerjakan Mak Sayekti kalau tidak merenten-kan uang.

Di samping Sunarti, dua kerabatnya tak kalah sedihnya. Akan tetapi keduanya lebih tegar seraya selalu mengingatkan agar Mak Sayekti menyebut nama Allah. "Istighfar... Istighfar, Yu," kata mereka sambil menuntunnya dengan bacaan kalimat thayyibah.

Sayangnya, Mak Sayekti tak sanggup mengikutinya. Ia tak menggubris ajakan tersebut; justru yang ditampakkannya adalah pemandangan serupa, lidahnya menjulur-julur seperti anjing. Rupanya kesadaran Mak Sayekti sudah hilang berganti dengan penderitaan yang tak kunjung usai.

Dalam sekejap, kabar miring seputar sakaratul maut Mak Sayekti ini menjadi buah bibir tetangga-tetangga terdekat. Kabar ini bermula setelah salah seseorang yang menjenguk dan melihat kejadian unik itu lalu menceritakan kepada yang lain.

Rumor yang berkembang di masyarakat adalah keanehan yang dialami oleh Mak Sayekti terkait dengan pekerjaannya yang sudah digeluti sejak masih muda hingga menjelang sakitnya.

"MENCEKIK" ORANG

"Aduh... mencekik sekali pokoknya. Kalau bisa janganlah, cari alternatif lain ketimbang ke Sayekti," jawab Sisri pada Marni.

"Lha kok bisa? Kamu sendiri meminjam uang sama dia," tanya Marni setengah tak percaya.

Sisri menghela nafas sejenak. Setelah merasa senak, dia pun menjelaskan tentang perempuan yang dianggapnya pernah "mencekik"-nya.

"Ya, aku dulu memang pernah melakukan hal yang salah. Aku meminjam uang padanya karena kebutuhan yang sangat mendesak. Jalan meminjam ke beberapa orang menemui jalan buntu, padahal aku harus mendapatkan segera untuk membayar biaya pengobatan anakku. Tanpa pikir panjang dampak meminjam padanya, aku menyetujui saja semua syarat yang dikatakannya. Syarat-syarat inilah sebenarnya yang kukatakan telah mencekikku. Akalku waktu itu tak bisa berpikir jernih, yang ada uang harus segera kudapatkan lantaran biaya rawat inap yang sudah semakin membengkak. Aku khawatir jika tidak segera kubayar, biaya rawat itu terus bertambah dan aku semakin tidak mampu membayarnya."

"Memang syaratnya apa, Sri?" tanya Marni.

"Aku harus membayar hutang yang tidak sedikit itu dalam tempo 7 hari beserta bunganya 10%. Jika tidak mampu membayarnya dalam tempo yang diisyaratkan, maka bunga itu akan teurs bertambah."

"ohhh...Ohh...."

"Lantas kamu bisa melunasinya tepat pada waktunya beserta bunganya?"

"Tidak bisa, Mar. Bahkan berbulan-bulan, aku baru bisa melunasinya. Karena aku tidak bisa membayar sekaligus, aku mencicilnya dengan bunga yang besar. Sampai semua barang yang aku miliki, ludes aku jual untuk membayar pinjamanku kepadanya."

Kedua ibu-ibu tersebut tenggelam dalam perbincangan sepak terjang Sayekti. Ternyata dalam kenyataannya, bukan Sisri saja yang menjadi korbannya tetapi juga banyak orang lain di kampung itu. Akibat berhutang pada Sayekti, mereka terus terjerat hutang yang tak pernah mereka perkirakan. Sekali mereka menyetujui perjanjian pengembalian hutang, jika sedikit saja meleset dari pembayaran yang telah dijanjikan, maka mereka harus siap mengganti bunga-bunga tambahan yang makin lama memang mencekik mereka.

Jika ditanya, kenapa memperlakukan ketentuan-ketentuan yang sangat memberatkan tersebut, ia pun berdalih bahwa bunga adalah hal biasa, tidak ada satu pun orang atau institusi mana pun yang tidak memperlakukan bunga dalam setiap transaksi. Apalagi jika tidak sesuai dengan waktu yang disepakati, pastilah bunga menjadi tak terelakkan. Setiap transaksi apapun, pasti ada denda yang akan dibebankan karena uang tersebut sejatinya untuk memutar transaksi lain namun mandeg gara-gara pembayarannya susah.

Kendati banyak yang mengeluh soal bunga yang harus dibayar, anehnya ada saja orang yang datang untuk keperluan sama. Alasannya langsung bisa diberikan pinjaman asalkan setuju dengan bunga yang diajukan dan ada barang jaminan.

Mak Sayekti memang pintar. Sebagian keuntungannya ia pergunakan untuk tambahan keperluan sehari-harinya, sebagian lagi uang hasil renten itu kembali diputarnya. Bahkan tidak sedikit orang yang membutuhkan barang-barang kebutuhan rumah tangga, mak Sayekti akan mencarikannya sesuai pesanan orang. Namun lagi-lagi, ia pun mensyaratkan ada bunga besar jika orang membeli secara kredit padanya.

Dari tahun ke tahun, profesi ini ditekuni Mak Sayekti. Perempuan ini tak peduli dengan kabar burung tentang dirinya yang katanya "bunganya mencekik", toh nyatanya tetap banyak orang yang memerlukan dirinya. Rumah Sayekti tidak mewah-mewah amat, namun kepintarannya memainkan uang tersebut menjadikan kebutuhannya sehari-hari tercukupi.

Eko, sang suami, yang bekerja serabutan pun tetap mendukungnya. Sebab sejak menekuni dunia ini, sepertinya kehidupan mereka berkecukupan. Malahan tiap ada liburan, mereka bertiga Mak Sayekti, Eko dan Sunarti kerap menghabiskan di tempat wisata terdekat.

BERKALI-KALI SAKARATUL MAUT

Pagi itu, ketika matahari belum terlalu tinggi beranjak, Sarno bermaksud datang ke tempat Mak Sayekti. Langkah kakinya cepat, seperti mengejar sesuatu. Setiap ditanya orang yang berpapasan dengannya, ia menjawab ke tempat Emak (Sayekti). Dari jawaban ini, orang-orang sudah mafhum untuk keperluan apa datang ke tempat perempuan tersebut. Tak lain adalah meminjam atau mengajukan kredit barang.

Sampai di tempat tujuan, pintu rumah Mak Sayekti masih tertutup. Tak biasanya ini terjadi. Sejenak Sarno agak ragu, mungkinkan Sayekti ada di dalam atau sudah keluar rumah. Namun akhirnya, ia tetap mengetok pintu.

Dari dalam rumah muncul Sunarti. Perbincangan kecil terjadi, dan diketahui ternyata Mak Sayekti sedang sakit sudah beberapa hari. Dengan mimik kecewa, Sarno bertanya-tanya tentang sakit Mak Sayekti. Rupanya perempuan yang dicarinya itu sedang lunglai di atas ranjangnya. Tak berdaya menahan rasa sakit yang bersarang di tubuhnya.

Sakit Sayekti tak kunjung sembuh. Malahan dari hari ke hari, rasa sakit itu semakin ganas menyerangnya. Beberapa kali dibawa ke dokter, belum membawa perubahan membaik. Akhirnya ia dirawat saja di rumah oleh anaknya.

Sampai suatu hari, ada yang aneh dalam diri Sayekti. Tingkahnya ganjil. Di atas ranjangnya, sebentar-sebentar tubuhnya bergerak ke samping kanan dan ke kiri. Tangan kanannya memegangi tepi ranjang kuat-kuat, sementara tangan kirinya memegangi kepalanya seakan menahan derita yang sangat di kepalanya. Matanya melotot dengan muka yang menyeramkan. Dan yang lebih mengerikan adalah lidahnya menjulur-julur, keluar masuk dari mulutnya. Jika sudah menjulur, lidahnya tampak lebih panjang dari ukuran normal.

Kejadian seperti ini berlangsung hingga setengah jam. Setelah itu, kondisi Sayekti kembali wajar, terbaring biasanya seperti orang tertidur dengan tubuh diselimuti. Namun jika sedang kumat, pemandangan seperti di atas, terulang lagi.

Menrutu penuturan Sarno, sakaratul maut yang dialami mak Sayekti ini sungguh di luar kewajaran dan sangat mengerikan. Sampai akhirnya, nyawa yang bersemayam dalam tubuh perempuan itu benar-benar tercabut. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Banyak orang di kampung itu kemudian berpikir, mungkin sakaratul maut yang mengerikan yang dialami oleh Mak Sayekti ini bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan kepada makhluknya. Wallahu a'lam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...