Pola Asuh Tegas vs Keras

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Ketegasan dalam pola asuh memang dibutuhkan. Lalu bagaimana dengan pola asuh yang keras? Apakah keduanya memiliki dampak yang siknifikan dalam tubuh kembang anak?

Ilustrasi

Dalam melakukan pola asuh anak, terkadang membutuhkan pola asuh yang tegas. Seperti apa batasan pola asuh tegas? Apakah juga disarankan untuk melakukan pola asuh secara keras?

Dijelaskan oleh Sarwedah, M.Spi, psikolog bahwa ada beberapa kriteria pola asuh. Sikap tegas dalam pola asuh merupakan hal yang dibutuhkan. Meskipun dalam aplikasi batasan-batasan. Sehingga anak tetap memahami nilai-nilai yang disampaikan oleh orang tua.

PENTINGNYA KETEGASAN

"Ketegasan itu perlu dan penting, namun dalam aplikasinya, harus benar-benar tepat," ucap psikolog perkembangan yang akrab di sapa Wendy ini.

Dijelaskan oleh dosen dari Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya ini, sikap tegas akan memberikan dampak anak untuk bersikap tanggung jawab. Tidak mudah melanggar aturan serta membuat anak menjadi sosok pemberani menjadikan anak sportif.

"Misalnya orang tua memberikan aturan menonton televisi hanya dua jam dalam satu hari, maka dalam kondisi apa pun, setelah dua jam, maka anak tidak boleh lagi melihat tv," jelasnya.

Menurut Wendy, sikap seperti ini akan membuat anak lebih menghargai apa yang dia sukai, sehingga tidak mudah meremehkan.

Sikap tegas juga akan membuat anak menjadi lebih disiplin, namun Wendy mengingatkan untuk bersikap tegas tidak harus disertai dengan sikap kasar kepada anak. Karena sikap perilaku kasar itu akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

LEMAHKAN FISIK & MENTAL

Wendy mencontohkan, saat orang tua membentak anak, maka ada 1 juta sel dalam otaknya yang akan mengalami kerusakan. Bahkan tindakan mencubit dan memarahi anak juga akan merusak jutaan sel sarap anak. "Akibatnya cukup fatal jika ini terjadi saat anak usia goldent age," tegasnya.

Di sini Wendy juga menegaskan betapa bahayanya sikap kasar kepada buah hati. Selain mempengaruhi mental anak, juga dapat mempengaruhi fisik anak. Seperti kerja jantung yang makin berat. Sehingga jantung menjadi lelah akibat berdegup terlalu kencang atau up normal. Tidak heran jika anak tertekan akibat bentakan atau kemarahan orang tua bisa mengalami gangguan nafas mendadak.

Wendy menegaskan, sikap tegas jangan dibarengi dengan sikap keras. Karena sikap keras pada anak bisa berdampak kurang baik. Misalnya orang tua yang sebenarnya ingin memberikan motivasi kepada anak untuk les matematika. Sedangkan anak memang tidak memiliki ketertarikan. Motivasi yang terlalu keras hanya akan membuat anak menjadi depresi. Akibatnya membuat anak bersikap melawan, atau sebaliknya membuat anak menjadi minder.

Sikap keras yang disertai nada tinggi juga akan membuat menjadi pribadi yang emosional. Mudah marah atau bahkan menangis histeris. Selain itu, tingkat kepercayaan diri anak menjadi turun, sehingga menjadi pribadi yang tertutup, menarik diri dari lingkungannya. Efek paling fatal adalah membuat anak menjadi depresi. Sikap keras yang diterimanya, bahkan menguatkan mentalnya, sebaliknya kan melemahkan mentalnya sehingga menjadi pribadi lemah yang mudah depresi.

Dampak panjangnya, anak akan menjadi sosok yang tidak memiliki inisiatif karena apa yang dilakukan takut disalahkan. Sehingga menjadi pribadi yang mencari posisi aman dengan tidak melakukan insiatif apa pun.

"Ini sangat fatal bagi tumbuh kembang anak," tegas Wendy.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...