Pejabat BANK Jadi Pengemis Di Mekkah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Niat haji agar bisa membeli barang-barang mewah dengan harga murah akhirnya dibalas oleh Allah dengan kehilangan uangnya. Ia pun menjadi nestapa selama menunaikan ibadah haji.

Mekkah

Apakah Anda percaya bahwa orang kaya akan aman-aman saja ketika naik haji? Tidak juga. Meski fasilitas telah tersedia, belum tentu mereka menemukan kebahagiaan saat naik haji. Pasalnya, yang menentukan bahagia atau tidak, sukses atau tidak, saat naik haji adalah amal perbuatan mereka sehari-hari sebelum berangkat haji.

Kisah inilah yang terjadi dengan lelaki yang sering dipanggil Bapak Romli ini. Usianya sekitar 50 tahun. ia adalah seorang pejabat BANK swasta nasional. Bisa Anda tebak sendiri berapa penghasilannya? Jangankan untuk konsumsi makanan enak di restoran bertaraf internasional yang susah dijangkau kalangan tidak mampu, jalan-jalan ke luar negeri saja menjadi hal yang biasa baginya dan keluarganya.

Hampir tiga bulan sekali, ada saja kegiatannya ke luar negeri, apakah dalam kunjungan kerja atau liburan semata. Singkat kata, Bapak Romli adalah lelaki sukses dengan rumah tangga yang harmonis juga.

Hanya saja, sayangnya, Bapak Romli tidak begitu taat dalam menjalankan agamanya. Shalat lima waktu kadang ia lakukan dan sering juga ia tinggalkan. Seingatnya saja ia kerjakan. Dengan kata lain, shalatnya masih belang-bentong, bolong-bolong. Meski begitu, ia masih punya niatan yang mulia, yaitu ingin bisa pergi haji. ia sadar bahwa dengan naik haji gengsinya mungkin akan bertambah. Apalagi, di tengah desakan kawan-kawan seangkatannya yang sudah pergi haji.

Singkat kata, Romli pun berangkat ibadah haji. Sebelum berangkat, ia sudah mempersiapkan banyak hal, termasuk materi. Bahkan, ia sudah menyiapkan uang banyak untuk belanja oleh-oleh. ia ingin memborong barang-barang yang berkualitas dan murah di Mekkah dan Madinah.

"Karena menurut informasi, Mekkah dan Madinah barangnya bagus dan orisinal," ujar saksi cerita yang tidak mau disebutkan namanya. Selain itu, barang-barang di sana harganya juga murah-murah.

Maka, Pak Romli pun dengan gagah berangkat ke Tanah Suci. Iring-iringan orang yang mengantarkannya ke asrama haji begitu banyak, baik dari keluarganya maupun tetangganya. Apalagi, yang berangkat haji adalah orang terpandang dan banyak uang. Mereka berharap bahwa hajinya diterima Allah swt. Ia pergi sendiri tidak ditemani sang istri.

UANGNYA HILANG

Setelah kurang lebih sembilan jam perjalanan, akhirnya rombongan haji Prk Romli sampai di Arab Saudi. Mereka pun langsung ke maktab (pemondokan) masing-masing. Seperti yang dirasakan oleh jamaah haji yang lainnya, Pak Romli pun begitu kagum akan suasana di Mekkah. bangunan Ka'bah yang gagah dan kokoh, Masjidil Haram yang luar biasa, dan bangunan-bangunan spektakular lainnya benar-benar membuat Pak Romli melongo menatapnya, "Ternyata inilah yang membuat jamaah haji selalu ingin kembali ke sini," bisiknya dalam hati.

Waktu terus berjalan, tiba-tiba Sapak Pak Romli ingin membeli sesuatu yang sudah direncanakan sejak di rumah. ia pun telah mempersiapkan uangnya dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang menggantung di lehernya. Ia pun berjalan menyusuri jalan setapak di Mekkah dan menuju pasar Ukaz, pasar terkenal di sana.

Saat itu, suasana pasar kebetulan sedang padat. Jamaah haji lumayan berdasakan untuk membeli oleh-oleh di kampung halaman. Dari berbagai negara berkumpul di sana. Ada yang berkulit putih dan ada juga yang berkulit hitam. Ada wanita cantik dan ada pula wanita yang biasa-biasa saja bahkan buruk rupanya.

Pak Romli pun termasuk dalam jamaah haji yang saling berdesakan di pasar tersebut. Ia pun lengah dengan keamanan uangnya sendiri. ia tidak memperhatikan tas kecil yang menggantung di lehernya di mana uang ratusan Real ada di situ tiba-tiba lenyap. Ia baru menyadarinya ketika sudah sampai di tempat dan hendak membeli barang yang ingin dibelinya.

Pak Romli panik menyadari uangnya hilang. Ia tidak tahu persis apakah uang itu dicopet dengan ditarik benangnya sehingga putus dan lepas dari lehernya, ataukah tali gantungnya putus sendiri. Yang jelas, ia seketika panik dan cemas. Bagaimana bisa ia membeli oleh-oleh kalau uangnya hilang? Bagaimana ia bertahan hidup di Mekkah dan Madinah nanti kalau uang yang sejatinya untuk makan sehari-hari hilang entah ke mana?

Saking paniknya, Pak Romli pun kembali mengikuti arah atau jalan pergi sambil mencari uangnya yang hilang. Akhirnya, setelah dicari berjam-jam, uang itu tak ditemukan juga. Ia pun menjadi lemas.

Merasa putus asa, Pak Romli akhirnya pulang kembali ke maktab dengan lunglai. Seolah dunia mau runtuh. Tiba-tiba saja otot-otot tubuhnya seolah tercabut dari tubuhnya. Seperti ia baru saja bekerja keras seharian, lemas sekali.

JADI PENGEMIS

Kepada sahabat-sahabatnya ia pun mengadu kalau uangnya hilang. Ia bertanya barangkali mereka melihat atau menemukan uangnya yang hilang. Tetapi, mereka pun mengatakan tidak tahu apa-apa. Yang bisa dilakukan oleh mereka hanyalah meratapi sahabatnya yang sedang apes itu dan turut memberikan motivasi ketabahan.

"Mungkin semua ini merupakan ujian dari Tuhan agar ibadah haji Bapak sukses," Ujar sang sahabat menenangkannya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Pak Romli pun mengandalkan belas kasihan sahabat-sahabatnya. Jika hari itu tak ada membantu, maka ia pun tak bisa makan. Kalaupun ada bantuan, nilainya tetap tak besar dibandingkan uang yang dibawanya sendiri. Dengan kata lain, Pak Romli benar-benar apes di keberangkatan haji pertamanya.

Niatnya untuk haji agar bisa membeli barang-barang mewah dan orisinal dengan harga terjangkau, akhirnya terbalaskan oleh Allah dengan kehilangan uangnya. Entah, adakah kaitannya antara niat hajinya dengan uangnya yang hilang tersebut atau tidak? Atau mungkin ada sebab lain, seperti karena amal perbuatan Pak Romli yang kurang baik selama menjadi pejabat Bank swasta nasional.

Tidak tahu persis. Yang jelas, Pak Romli benar-benar hidup seperti "pengemis dadakan" di Mekkah dan Madinah. Bayangkan saja, seorang pejabat menjadi pengemis di negeri orang dan itu dalam rangka beribadah haji di Tanah Suci. Jadi, jangankan memikirkan bagaimana bisa menunaikan ibadah haji dengan khusyuk, ia malah harus disibukkan dengan urusan perutnya sendiri agar bisa makan.

Semoga kisah memilukan ini bisa menjadi pelajaran kita semua bahwa ibadah haji itu sangat terkait dengan amal perbuatan dan niat kita sebelum berangkat. Karena itu, luruskan niat haji kita dan perbaiki akhlak kita sebelum berangkat ibadah haji, Wallahu a'lam bisshawab.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...