Muslim Gujarat : Antara Legenda & Genosida

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Gujarat termasuk kota di dunia dengan sejarah Islam yang tua. Walau begitu, kehidupan muslim di sana cukup berat karena terus tertekan sebagai minoritas.

Gujarat

Gujarat adalah kata yang akrab bagi pelajar muslim Indonesia. di buku sejarah Islam disebutkan Islam Nusantara dibawa oleh orang-orang dari kota ini pada abad ke 13. Walau teori ini kini dibantah banyak ilmuwan yang menyebut Islam sudah ada di Indonesia sejak abad ke-7, namun GUjarat tetap menjadi kata yang tak terpisahkan dalam sejarah Islam Indonesia.

Kaitan Gujarat dengan Islam memang terjalin dalam lembaran sejarah yang tua. Sejarah mencatat raja Hindu sudah takluk oleh Allauddin Khilji, pemimpin dari bangsa Turki-Afghan, pada 1297. Namun Islam diyakini sudah sampai di sana enam abad sebelumnya. Sama seperti kedatangan umat Islam di Malabar, di Kerala, segera setelah Islam mulai tersebar di Semenanjung Arab, umat Islam sudah melakukan pelayaran dan kehadiran mereka terasa di wilayah pantai Gujarat.

Muslim pertama sudah berlabuh di Gujarat sejak tahun 15 Hijriah atau tahun 635 Masehi ketika gubernur Bahrain mengirimkan ekspedisi ke Thana dan Bhaurch. Kontak dengan Islam berlanjut selama beberapa abad dalam bentuk serangan, perdagangan, dan migrasi.

Sejawaran Alwi Shahab memaparkan bahwa Gujarat adalah semacam pelabuhan singgah bagi hubungan awal bangsa Arab dan Indonesia yang terjadi sekitar abad ke-4 MAsehi. Saat itu, pedagang dari Handramaut berlayar ke Nusantara dan singgah di Gujarat. Mereka membangun perkampungan yang oleh orang India dinamakan Arabito. Para pedagang Arab itu menggunakan India (Gujarat) sebagai terminal pertama sebelum ke Indonesia.

Muslim Gujarat sehari-hari menggunakan bahasa Gujarat yang menjadi bahasa ibu di negara bagian India ini. Muslim Gujarat sangat menonjol dalam Industri dan bisnis menengah dan merupakan komunitas muslim yang cukup besar. Saat pemisahan India-Pakistan banyak dari mereka bermigrasi ke Pakistan dan menetap di Karachi dan Sindh.

Ada juga komunitas muslim Gujarat yang kini menetap di Inggris, terutama di kota-kota Leicester, Blackburn dan Preston. Muhammad Ali Jinnah yang mendirikan negara Islam Pakistan berasal dari Gujarat.

Warna Islam bisa kita temui dengan jelas lewat ibukota Gujarat yakni Ahmedabad. Kota yang terletak di tepi sungai Sabarmati ini didirikan oleh Sultan Ahmed Shah pada 1411 sebagai ibu kota Kesultanan Gujarat. Kata 'Ahmad' bagi kota ini terkait visi Sultan yang waktu itu mendapat ilham bahwa kota itu harus didirikan oleh empat orang bernama Ahmad yang tak pernah meninggalkan shalat lima waktu.

Maka dicarilah empat orang bernama Ahmad itu hingga berkumpullah Sultan AHmad Shah 1, Shaikh Ahmad Khattu dari Sarkhez, Qazi Ahmad Jod dari Patan, dan Malik Ahmad. Mereka berempat datang bersama dan mendirikan kota tersebut.

Tahun 1593, Kaisar Mughal Akbar menaklukkan Gujarat, dan Gujarat yang tergabung dalam Kekaisaran Mughal selama dua abad. Setelah kematian Kaisar Mughal Aurangzeb, pada tahun 1707, pemerintah Mughal mulai melemah hingga akhirnya Gujarat jatuh ke Inggris di akhir abad ke-19.

GENOSIDA

Gujarat

Dari 50 tahun penduduk Gujarat, 10 persen diantaranya adalah muslim. Jika pada abad pertengahan mereka adalah mayoritas, maka pada abad modern ini muslim Gujarat menjadi minoritas. Merekalah yang merasakan beratnya pertikaian besar saat Gujarat diguncang pertikaian Muslim-Hindu pada tahun 2002. Konflik ini demikian besar hingga disebut sebagai tragedi genosifa (pembersihan etnis) dan bahkan ada yang menyamakannya dengan tragedi holocaust yang terjadi di masa Hitler.

Guardian melaporkan beberapa monumen penting peninggalan Islam di Gujarat menjadi puing-puing dalam kerusuhan tersebut. Sekitar 2.000 orang korban jatuh dan sebagian besar adalah muslim. Banyak masjid-masjid yang dihancurkan termasuk Al-Qur'an tua bersejarah yang terdapat di masjid-masjid.

Salah satu monumen yang dihancurkan adalah makam Vali Gujarati, seorang penyair muslim yang menggunakan bahasa Urdu. Ia wafat di Ahmedabad pada tahun 1707.

Kalangan ekstrimis Hindu menganggap yang mereka lakukan adalah upaya balas dendam sejarah. Dahulu kala, saat dinasti Mughol berkuasa, banyak kuil Hindu yang dihancurkan dan diganti dengan masjid. Itulah yang membuat mereka bersemangat untuk menghancurkan masjid untuk kemudian mereka ganti dengan kuil.

Semangat ini mirip dengan tragedi pada 1992 saat mereka menghancurkan Masjid Babri yang didirikan pada abad ke-16 dan memasang patung Hanoman di reruntuhannya.

Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etika dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within (Harvard University Press, 2008), mendeskripsikan pembunuhan kaum muslim di Gujarat oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya wanita dan anak-anak, tapi juga janin dalam kandungan. Pemerkosaan terhadap wanita muslim juga banyak terjadi.

Yang lebih parah, kerusuhan ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Setelah kerusuhan, banyak properti milik muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Profesor Nussabaum menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers internasional.

Profesor Imtiaz Ahmed, dari Jarwaharlal Nehru University di Delhi menyebut Gujarat sebenarnya memiliki tradisi toleransi yang kuat. Sultan Ahmad Shah bahkan menikah dengan seorang putri Hindu. Masjid yang ia dirikan juga memasukkan unsur-unsur Hindu. Muslim Gujarat sendiri bukanlah pendatang karena mereka adalah mualaf yang memeluk Islam. Jadi darah mereka adalah darah India juga.

Hanif Lakdawala, ketua Sanchetna, sebuah LSM berbasis di Ahmedabad, menyebut ketegangan Komunal dan ketidakpercayaan tetap meluas di Gujarat hari ini. Walau langkah-langkah normal, pertemuan, seminar dan hal-hal lain sudah dilakukan untuk meredam konflik, ketakutan masih terasa di Gujarat. Hanif menyebut masalahnya tak hanya hak budaya dan agama, tapi juga hak sosial dan ekonomi. Inilah yang kiranya lebih urgen.

"Kita mesti berhenti berpikir tentang agama dan identitas sendiri dan juga fokus pada isu-isu seperti pendidikan, pengangguran, kemiskinan, hak perempuan dan komunalisme. Dengan cara ini, kita bisa bekerja menuju suatu bentuk dialog antara masyarakat yang jauh lebih bermakna dan terkait dengan kehidupan masyarakat sehari-hari," ujarnya dalam sebuah wawancara yangd imuat di Theamericanmuslim.com

Sikap Hanif menjadi sikap umum dari organisasi Islam di Gujarat dalam memandang konflik Hindu-Islam. Negara bisa dikatakan telah gagal dalam mengelola konflik ini. Hal ini menyebabkan timbul pemikiran ulang di kalanga Muslim tentang perlunya reorientasi prioritas masyarakat, memberikan tekanan lebih pada pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan dialog antara komunitas. Sejak tragedi 2002, kalangan Islam bersedia membuka dialog dengan kelompok-kelompok sekuler, LSM, dan terutama dengan Hindu sekuler. Tak semua Hindi anti-islam karena jika itu yang terjadi, tentulah tak akan ada satu muslim pun yang bisa hidup di Gujarat.  

Yang menarik, menurut Hanif lagi, di Gujarat saat ini ada perubahan besar terjadi di kalangan umat Islam Gujarat, khususnya di kalangan muda. Di satu sisi, sebagai reaksi terhadap agresi Hindu radikal ada kenaikan kesadaran identitas Islam seperti yang terlihat dalam meningkatnya jumlah perempuan muslim mengenakan burqa dan laki-laki yang memelihara jenggot.

Namun di sisi lain ada juga proses modernisasi berlangsung secara bersamaan. Pemuda muslim juga menekankan perlunya reformasi sosial, termasuk dalam hal jender. Bahkan beberapa ulama berbicara tentang perlunya pendidikan perempuan dan memberdayakan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak tahun 1992, ketika Masjid Babri dihancurkan dan Gujarat menyaksikan kekerasan yang cukup besar, Islam telah memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan. Bahkan, hari ini umat Islam di Gujarat memiliki tingkat melek huruf lebih tinggi secara keseluruhan dari Hindu, meskipun relatif perwakilan mereka di tingkat pendidikan tinggi jauh lebih sedikit. Ada beberapa sekolah Islam yang berdiri di Gujarat hari ini.

Bagi Hanif, mengingat kondisi umat Islam Gujarat yang minoritas sebagaimana di India secara umum, ia dan lembaganya kini berusaha untuk meyakinkan umat Islam bahwa mereka harus menyadari masa depan mereka terkait dengan masyarakat lain yakni dengan siapa mereka hidup. Hal yang sama, tentu saja, berlaku bagi masyarakat lainnya.

"Saya pikir muslim, dan komunitas lainnya, juga, tidak bisa terus hanya memikirkan keprihatinan mereka sendiri. Ini adalah sesuatu yang mesti ditekankan. Muslim harus bergabung dengan kelompok-kelompok dan gerakan yang berbicara tentang kesejahteraaan umum atau yang berjuang untuk kaum miskin dan penindasan terhadap perempuan," ujar Hanif. 

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...