Masjid Jami' Angke, Jakarta. Bukti Perjuangan Para Ulama

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Masjid memang punya jejak sejarah masing-masing. Begitupun Masjid Angke di Jakarta ini. Masjid itu menjadi saksi perjuangan ulama melawan penjajah Belanda. Penasaran seperti apa keunikannya? Berikut ulasannya.

Masjid Jami' Angke, Jakarta

Sejuk dan menyenangkan, begitulah kesan pertama saat berkunjung di Masjid Al Anwar yang beralamat di Jalan Tubagus Angke, Gang Masjid Nomor 1, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Karena lokasinya di Kampung Angke, Masjid Al Anwar lebih akrab dikenal sebagai Masjid Angke.

Menurut DKM Masjid Angke, H Supriatna, Masjid ANgke didirikan pada 2 April 1751, oleh seorang wanita Cina Tartar yang kaya raya. Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri karena percampuran dari arsitektur Jawa, Cina dan Eropa.

Arsitektur Jawa terlihat tidak hanya dari denah bangunannya yang berbentuk persegi dan bentuk atapnya, tetapi juga sistem struktur sakaguru yang menopang atapnya. Kemudian, arsitektur Cina terlihat dari detail konstruksi pada skur atap bangunan yang bertumpuk seperti kelenteng.

Sedangkan arsitektur gaya Eropa terlihat pada bentuk pintu dan jendelanya yang berukuran besar, lebar dan tinggi.

Bentuk pintu masuk serta tiang-tiang agungnya berjumlah empat buah. Ini mengingatkan orang pada bentuk arsitektur Belanda dan model masjid tua yang ada di Mataram dan Demak. Mimbarnya terbuat dari tembok berukir dan melekat pada tembok.

Sedangkan terali-terali jendela berbentuk panjang tanpa ukiran. Ini adalah corak bangunan khas Banten. Tapi, yang paling menarik adalah bagian atap yang bersusun dua serta berujung lancip.

Cungkup masjid sangat dipengaruhi gaya arsitektur Cina. Sangat mirip dengan rumah ibadah umat Budha, yakni klenteng atau Vihara.

"Karena keunikannya tahun 1972, masjid ini ditetapkan Gubernur DKI Ali Sadikin, menjadi benda cagar budaya yang patut dilindungi. Siapa yang merusak atau mengambil benda-benda apapun yang ada di dalam masjid, akan mendapat hukuman berat," ujar Supriatna.

Ditambahkan, Masjid Angke berdiri di atas tanah seluas 200 m2. Ukurannya lebih kurang 15x15 meter. Bangunan ini dikelilingi oleh pagar tembok yang diatur rapi dan diberi pelipit.

PERJUANGAN ULAMA

Dalam perkembangan selanjutnya, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini pun dijadikan markas penggemblengan santri-santri, serta tempat penyusunan strategi penyerangan terhadap Belanda.

Pada masa kemerdekaan (1945), masjid ini digunakan oleh para ulama Angke untuk mengobarkan semangat juang para pemuda di sana. Melalui khotbah-khotbah yang disampaikannya, para ulama melakukan provokasi untuk meningkatkan semangat juang menentang Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Di Masjid ini juga sering digunakan oleh para pemuda untuk mengadakan rapat-rapat agar tidak tercium oleh pihak Belanda.

Selain sejarahnya yang dramatis, Masjid Angke juga seringkali dikunjungi masyarakat untuk berziarah ke makam yang berada di kompleks masjid.

Pertama; yakni Makan Sultan Hamid Al-Gadri dari Pontianak (putera Sultan Pontianak), yang dibuang ke Batavia pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Makamnya (nisan) dibuat dari batu pualam dan ada tulisan yang menyebutkan Sultan tersebut meninggal dalam usia 64 tahun 35 hari pada tahun 1274 H atau 1854 M.

"Kemudian juga ada dan lima makam lainnya, tiga makam dalam cungkup, sedang yang dua di luar cungkup. Sedangkan, di halaman belakang masjid terdapat beberapa makam lagi yaitu Makam Syeikh Ja'far, yang konon masih keturunan dari Sultan Banten, Makam Syarifah Mariyam dan 30 makam lain," pungkasnya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...