Kisah Nasiruddin Mengubur Kuali

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Jika ada jenazah dikubur, itu biasa. Tapi, jika yang dikubur itu adalah kuali, kira-kira bagaimana yah? Soalnya, jika alat penanak nasi itu telah rusak, orang biasanya langsung membuang begitu saja di tempat sampah. Tak perlu lagi ada ritual khusus, dan tak perlu lagi dikubur, seperti halnya anak manusia.

Kuali Perunggu Jumbo

Nah, inilah yang unik. Jika ada kisah humor yang sarat pesan hikmah, maka salah satunya adalah kisah dari kehidupan Nasiruddin Hoja. Sejuta kisah hikmah tercurah dari cerita humornya.

Suatu hati, Nasiruddin dan istrinya hendak menanak nasi. Perut mereka sudah terasa keroncongan. Sedari pagi, perut mereka belum diisi makanan. Namun, kuali milik mereka telah rusak dan tak dapat digunakan lagi. Karenanya, mereka pun tak bisa memasak nasi. Tersiratlah sebuah usulan dari sang istri, "Bagaimana kalu kita pinjam kuali ke tetangga?"

Usulan itu pun langsung disetujui oleh Nasiruddin. Ia lalu beranjak ke rumah tetangganya dan meminjam sebuah kuali yang berukuran sedang. Setelah itu ia kemudian bisa memasak nasi dan akhirnya menyantap makanan yang ia masak. Luapan syukur pun terucap dari bibir Nasiruddin, "Alhamdulillah".

Keesokan harinya, Nasiruddin sadar bahwa tetangganya itu punya sifat kikir dan curang dalam segala perkara. Ia kerapkali ingin memperoleh imbalan dari pertolongan yang ia berikan kepada orang lain.

Nasiruddin pun lalu pergi ke pasar dan membeli kuali yang berukuran kecil. Dari pasar, dia langsung menuju rumah tetangganya. Dengan tujuan, ia ingin mengembalikan kuali milik tetangganya itu. "Saya kembalikan kuali yang saya pinjam kemarin. Dalam beberapa hari ini, kuali milik Anda telah beranak satu, yaitu kuali kecil ini," ungkap Nasiruddin menceritakan.

"Kok bisa?" tanya sang tetangga kepada Nasiruddin.

"Ketika kuali ini aku pinjam, ia sedang hamil besar. Jadi sekarang ia melahirkan anak kuali kecil ini," jelas Nasiruddin menjelaskan dengan rinci.

Sang tetangga pun sangat gembira mendengarnya. Ia tak mengira bahwa kuali yang ia pinjamkan ke Nasiruddin akan beranak pinak.

Selang beberapa minggu kemudian, Nasiruddin mencoba pinjam kuali lagi ke orang tersebut. Tanpa pikir panjang, tetangganya tak keberatan untuk meminjamkan kuali kepada Nasiruddin. Soalnya, dengan meminjamkan kuali itu, dia berharap bisa memperoleh banyak kuali lagi. Di tangan Nasiruddin, kuali miliknya akan beranak lebih banyak lagi. Dengan begitu, ia akan memperoleh banyak keberuntungan.

Namun sayang, tanpa disengaja, kuali itu terjatuh ke lantai dan pecah seketika. Melihat kejadian itu, tanpa berpikir panjang lebar, Nasiruddin kemudian beranjak ke belakang rumah. Ia mengambil cangkul dan menguburkan kuali itu tepat di belakang rumahnya. Di atasnya, ia tancapkan sebuah nisan persis seperti kuburan manusia.

Hari bergant hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berganti bulan. Nasiruddin tak juga kunjung mengembalikan kuali yang ia pinjam. Tetangganya mulai merasa kehilangan. Semula, semakin lama ia pinjamkan kualit itu, ia akan memperoleh lebih banyak kuali lagi. Namun kecurigaannya mulai muncul. "Jangan-jangan, Nasiruddin menjual semua anak kuali yang telah dilahirkan."

Ia lalu menemui Nasiruddin di rumahnya. "Assalamu'alaikum," sapaan salam sang tetangga kepada Nasiruddin.

Dari balik pintu, terdengarlah jawaban salam dari Nasiruddin, "Wa'alaikum salam," Tetangganya kemudian dipersilahkan masuk.

Nasiruddin langsung disuguhi pertanyaan mendadak, "Bagaimana dengan kuali saya. Apa sudah selesai dipakai?"

"Oh, ya Sudah," jawab Nasiruddin singkat.

"Lalu, di mana sekarang?" tanya sang tetangga penasaran.

"Inna lillahi wainnaa ilaihi raajiuun. Saya ikut berduka cita sedalam-dalamnya. Kuali milik Anda telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu." terang Nasiruddin menjelaskan.

"Kok bisa? Dia kan kuali," tanya tetangga tambah penasaran.

"Mari saya tunjukan kuburannya!" ajak Nasiruddin kepada tetangganya itu. Mereka berdua kemudian beranjak ke belakang rumah. Di sana telah ada gundukan tanah beserta nisan yang bertuliskan 'Kuali'. Sang tetangga pun tercengang dan terbengong-bengong.

"Kuali itu tidak mungkin mati," debat sang tetangga dengan penuh penasaran.

"Kalau kemarin-kemarin saja ia bisa melahirkan, kenapa sekarang dia tidak bisa mati? Segala sesuatu pasti akan mati. Kita juga akan mati. Kuali juga akan mati," jelas Nasiruddin dengan lantang.

Mendengar penjelasan itu, sang tetangga kemudian pergi dengan rasa tak percaya. Dalam hatinya tersimpan rasa penasaran dan kebingungan. Namun, apa hendak dikata, semua sudah terjadi. Jika kemarin dia mendapat untung karena lahirnya kuali baru, kini kuali miliknya justru telah tiada.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...