Kisah Gubernur Nan Bahagia

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Pemuda Quraisy, Sa'id bin Amir Al-Jumahy, suatu hari melihat Khubaib bin Ady yang akan dihukum mati menghadap Kiblat (Ka'bah). Dia shalat dua rakaat. Sesudah shalat, Khubaib menghadap para pemimpin Quraisy seraya berkata, "Demi Allah! Seandainya kalian tidak menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi,"

Ilustrasi

Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa'id melihyat para pemimpin Quraisy naik darah, hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup.

Kata mereka, "Maukah engkau, jika Muhammad menggantikanmu, kemudian engkau kami bebaskan?"

"Demi Allah! Saya tidak sudi bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri" jawab Khubaib mantap.

"Bunuh dia! Bunuh dia!" Teriak khalayak.

Sa'id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib seraya berdoa, "Ya Allah, susutkanlah jumlah mereka! Musnahkanlah mereka sampai binasa. Jangan sisakan seorang jua pun!" Khubaib bin Ady pun menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib.

Sekujur tubuhnya penuh dengan luka akibat tebasan pedang dna tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum kafir Quraisy pun kembali ke Mekkah seperti biasanya seolah-olah telah melupakan peristiwa pedih yang merenggut nyawa Khubaib. Tetapi Sa'id bin Amir Al-Jumahy yang baru menginjak usia remaja, tidak dapat melupakan Khubaib walau sedikit pun.

Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu' dan tenang di bawah tiang salib. Terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Sa'id ketakutan kalau-kalau Allah swt segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa'id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini. Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman), kemudian berjuang mempertahankan akidah itu sampai mati. Kedua, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Sejak itu, Allah swt. membukakan hati Sa'id bin Amir untuk memeluk agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan alangkah bodohnya orang Quraisy yang masih menyembah berhala. Ia pun membuang berhala-hala yang selama ini dipujanya. Kemudian ia mengumumkan bahwa mulai saat itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Sa'id menyusul kaum muslimin, hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, Mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatulah, Sa'id tetap menjadi pembela setiap Khalifah Abu Bakar dan Umar ra. Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa'id sangat berbobot dan ketaqwaannya sangat tinggi. Karena itu, keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa'id

Pada suatu hari, di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, Sa'id datang kepadanya memberi nasihat, Sa'id berkata, "Ya Umar, bertaqwalah kepada Allah dalam memimpin manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan adalah yang dibuktikan dengan perbuatan. Konsentrasikan seluruh perhatian Anda untuk urusan kaum muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat!

"Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah Umar. "Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintahkan umat Muhammad ini? BUkankah antyara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?" jawab Sa'id meyakinkan.

Khalifah Umar segera menyerahkan sebuah jabatan dalam pemerintahan. "Hai Sa'id, engkau saya angkat menjadi Gubernur di HOmsh!" kata Khalifah Umar.

"Wahai Umar, saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya untuk mencintai dunia," ujar Sa'id.

"Wahai Sa'id, Engkau ppikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendirian?" tukas Umar.

"Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda," jawab Sa'id

"Kalau begitu engkau bersedia menjadi Gubernur Homsh?" Sa'id bin Amir tidak dapat menolak perintah Umar.

Tidak berapa lama setelah Sa'id memerintah di Homsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Homsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Homsh.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin HOmsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa'id bin Amir Al-Jumahy.

"Siapa Sa'id bin Amir yang kalian cantumkan ini?" tanya Umar ra.

"Gubernur kami!" jawab mereka

"Betulkah Gubernur kalian miskin?" tanya Khalifah Umar heran.

"Sungguh, ya Amirul mukminin! Demi Allah, seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)." jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

"Kembalilah kalian ke Homsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa'id bin Amir. Dan uang ini saya kirimkan untuk dia gunakan meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya," ucap Umar sedih.

Setibanya di Homsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa'id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Sa'id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Mendengar ucapannya itu, istrinya mengira marabahaya sedang menimpanya, istrinya segera menghampiri seraya bertanya, "Apa yang terjadi, hai Sa'id? Meninggalkah Amirul mu'minin?"

"Bahkan lebih besar dari itu!" jawab Sa'id sedih.

"Apa pulakah gerangan yang besar dari itu?" tanya istrinya tak sabar.

"Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita," jawab Sa'id mantap.

"Bebaskan dirimu daripadanya!" kata istri Sa'id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.

"Maukah engkau menolongku berbuat demikian?" tanya Sa'id.

"Tentu....!" jawab istrinya bersemangat.

Maka Sa'id mengambil pundi-pundi uang itu dan istrinya disuruh membagi-bagikan kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau menyempatkan diri singgah di Homsh. Kota Homsh pada masa itu dinamai orang pula "Kuwaifah (Kufah kecil)", karena rakyatnya sering melapor kelemahan-kelemahan Gubernur mereka kepada pemerintah pusat, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.

Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucapkan selamat datang. Khalifah bertanya kepada rakyat:

"Bagaimana penilaian saudara-saudara terhadap kebijakan Gubernur?"

"Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah," jawab Rakyat.

"Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian," jawab Khalifah Umar sambil berdoa. "Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa'id bin Amir tidak salah."

Maka tatkala semua pihak, yaitu Gubernur dan masyarakat telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, "Bagaimana laporan saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur saudara-saudara?"

Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang juru bicara.

Pertama, gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat Anda itu, hai Sa'id?" tanya Khalifah.

Gubernur Sa'id bin Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata, "Sesungguhnya saya keberatan menganggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya, tidak mempunyai pembantu. Karena itu, tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu. Sesudah itu, barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat."

"Apalagi laporan saudara-saudara?" tanya Khalifah kepada hadirin.

Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari."

"Hal itu sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini", kata Sa'id. "Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah," lanjut Sa'id.

"Apalagi?" tanya Khalifah kepada hadirin.

Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

"Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu, saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat," ucap Sa'id.

"Nah, apa lagi laporan selanjutnya?" tanya Khalifah

Keempat, Gubernur sewaktu-waktu menutup diri untuk bicara. Pada sata-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majelis."

"Silahkan menanggapi, hai Gubernur Sa'id!" Kata Khalifah Umar.

"Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Ady dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib hingga berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, "Sukakah engkau, bila Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?"

Ejekan mereka itu dijawab Khubaib, "Saya tidak sudi bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri."

"Demi Allah! Kata Sa'id "Jika saya teringat akan peristiwa waktu itu, dimana saya membiarkan Khubaib tersiksa tanpa membelanya sedikit pun, maka saya merasa bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah Subhanahu wa Ta'ala".

"Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku," kata Khalifah Umar mengakhiri dialog itu.

Sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Sa'id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Melihat jumlah uang sebanyak itu, istrinya berkata kepada Sa'id, "Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkah pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan-kelengkapan lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita."

"Adakah usul yang lebih baik dari itu?" tanya Sa'id kepada istrinya.

"Apa pulakah yang lebih baik dari itu?" jawab istrinya balik bertanya.

"Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita," jawab Sa'id.

"Mengapa?" tanya istrinya.

"Dengan begitu berarti kita menyimpan uang ini di sisi Allah. Itulah cara yang lebih baik." kata Sa'id.

"Baiklah kalau begitu," kata istrinya.

"Semoga kita dibalas Allah dengan balasan yang paling baik."

Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa'id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya. "Berikan pundi ini kepada janda si Fulan. Lalu, pundi yang ini kepada anak yatim si Fulan. Pundi ini untuk si Fulan yang miskin.... dan seterusnya."

Semoga Allah swt meridhai sang gubernur Sa'id bin Amir Al-Jumahy. Dia telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia dan mengutamakan keridhaan Allah, melebihi dari segala-galanya.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...