Jejak Islam Di Tanah Abang

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Menyusuri pasar Tanah Abang, menemukan jejak Islam yang pernah menggeliat di zaman dulu.

Pasar Tanah Abang

Setiap kali melewati pasar Tanah Abang, terlebih pada siang hari dari arah kuningan, bukan sesuatu yang mengagetkan jika dijebak kemacetan. Apalagi, ketika pasar Tanah Abang sedang ramai. Bahkan, sebelum memasuki pasar Tanah Abang, sepanjang Jl. KH Mas Mansyur, lalu lintas sudah padat, orang tumpah ruah di jalanan dan kendaran terpaksa berjalan merayap.

Maklum, di sepanjang Jl. KH Mas Mansyur, banyak pedagang jualan hingga memakan badan jalan. Itulah yang mengakibatkan jalanan penuh sesak. Dari kepadatan itu, orang sudah bisa melihat kemegahan pasar Tanah Abang. Apalagi, dari jauh, bangunan tiga gedung yang meliputi bangunan pasar Tanah Abang Lama, Tanah Abang Metro dan Tanah Abang AURI menjulang tinggi dan megah.

SEJARAH TANAH ABANG

Pintu Masuk Utama Metro Tanah Abang

Bagi warga Jakarta, Tanah Abang bukan tempat yang asing. Saat orang menyebut nama Tanah Abang, siapa pun tahu, atau paling tidak pernah mendengar. Sebab di salah satu kawasan Tanah Abang berdiri pasar yang dikenal sebagai pasar retail fesyen dan tekstil grosir terbesar di Indonesia, bahkan pusat belanja dan grosir terbesar di Asia Tenggara.

Tak salah jika pasar itu menjadi pilihan belanja bagi warga Jakarta, orang-orang dari penjuru daerah bahkan dari negara lain mendapat dagangan yang murah. Kondisi itu yang membuat daerah Tanah Abang dari dulu menjadi tempat bagi orang-orang dari berbagai suku, seperti: Minang, Arab, China, Bali dan Jawa yang mengais rezeki untuk berdagang dan menetap.

Tapi, nyaris tak ada yang tahu, jika dulu pasar Tanah Abang yang dibangun tuan tanah Yustinus Vinck pada 30 Agustus 1735 itu disebut Pasar Sabtu. Hal itu tidak lain karena Pasar Tanah Abang hanya buka hari Sabtu. Dan pasar Tanah Abang memiliki sejarah yang panjang seiring tumbuh kembangnya daerah Tanah Abang.

Tanah Abang sebagai salah satu wilayah di Jakarta memiliki sejarah panjang. Di balik sebutan Tanah Abang, konon ada dua pendapat yang melatar-belakangi kenapa daerah itu disebut Tanah Abang. Pertama, Tanah Abang dikaitkan dengan penyerangan kota Batavia oleh pasukan Mataram pada tahun 1628. Serangan itu dilancarkan ke arah kota melalui daerah selatan, yaitu Tanah Abang.

Daerah Tanah Abang dijadikan pangkalan dengan pertimbangan tanah di daerah itu berupa bukit dan rawa-rawa bahkan ada Kali Krukut di sekitarnya. Jadi, asal-usul Tanah Abang disebut demikian karena tanahnya berwarna merah. Dari situlah, kemudian orang menyebut daerah itu Tanah Abang yang dalam bahwa Jawa, kata "Abang" berarti merah.

Kedua, Tanah Abang dikaitkan dengan kata "abang dan adik", sebutan untuk dua orang kakak-adik. Dulu, karena si adik tak mempunyai rumah, dia minta kepada abangnya untuk mendirikan rumah. Tanah yang ditempati disebut tanah abang. Dari situlah, tanah itu disebut Tanah Abang.

Tanah Abang mulai dikenal luas ketika kapten China bernanama Phoa Bhingam meminta izin kepada Pemerintah Belanda untuk membuat sebuah terusan pada tahun 1648. Proyek besar penggalian terusan itu diawali dari arah selatan sampai dekat hutan, kemudian dipecah menjadi dua bagian daerah timur sampai ke Kali Ciliwung dan arah Barat sampai Kali Kurkut. Terusan yang kemudian dikenal Molenvliet itu berfungsis ebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi dengan menggunakan perahu ke arah selatan sampai dekat hutan.

Keberadaan terusan Molenvliet itu, tak dapat disangkal, memperlancar hubungan dan perkembangan daerah kota ke selatan. Bahkan jalan-jalan yang berada di sebelah kiri dan kanan terusan itu akhirnya menjadi urat nadi yang menghubungkan Lapangan Banteng, Merdeka, Tanah Abang dan Jakarta Kota. Di daerah selatan dikenal sebagai daerah perkebunan, yang meliputi Kebon Kacang, Kebon Jahe, Kebon Melati, Kebon Sirih, dan lain-lain. Tidak salah, kalau nama-nama itu kemudian jadi nama wilayah di Jakarta sampai sekarang.

Seiring perjalanan waktu, perkebunan itu menuai hasil melimpah. Dari situlah, tuan Justinus Vinck tercetus ide untuk mendirikan sebuah pasar di daerah Tanah Abang dan Senen. Usaha Justinus Vinck itu membuahkan hasil. Setelah mendapatkan izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patras pada 30 Agustus 1735, VInck pun akhirnya membangun dua pasar, yaitu Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

Pasar Tanah Abang, dulu disebut Pasar Sabtu karena Pasar Tanah Abang hanya dibuka setiap sabtu. Tapi, ketika itu sudah mampu menyaingi pasar Senen yang lebih maju. Geliat dan perkembangan Pasar Tanah Abang terjadi setelah dibangun stasiun Tanah Abang. Dari situ, nama Pasar Tanah Abang mulai dikenal luas. Apalagi, setelah pasar Tanah Abang dibangun megah empat bangunan berlantai empat tahun 1973 dan Pemda Jakarta kemudian membangun pasar itu menjadi pusat grosir yang modern. Kini, pasar Tanah Abang makin dikenal luas dan jadi pusat grosir berlantai 14 yang megan dan modern.

JEJAK ISLAM DI TANAH ABANG

Tetapi, sebelum pasar Tanah Abang itu dibangun Justinus Vinck, jejak Islam di Tanah Abang sudah lebih dahulu mewarnai daerah Tanah Abang. Dakwah sebagai degup keagamaan sudah bergema sebelum pasar Tanah Abang berdiri. Jejak itu bisa ditelusuri dari keberadaan Masjid Al-Makmur, yang didirikan sisa pasukan Mataram di bawah pimpinan KH Muhammad Asyura pada tahun 1704, atau 31 tahun sebelum pasar Tanah Abang berdiri.

Masjid Jami' Al-Makmur Tanah Abang

Tapi dulu, masjid itu tidak sebesar seperti sekarang ini,. Bahkan, dulu masjid yang kini termasuk masjid tua di Jakarta itu pun masih berupa langgar atau mushala lantaran berukuran kecil, tak lebih 12x8 meter. Seiring perkembangan zaman pasar Tanah Abang kian pesat, dan daerah-daerah di sekitar mengalami pertumbuhaan jumlah penduduk, pada 1905 seorang keturunan Arab, Habib Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi berinisiatif mengubah langgar yang semula berukuran 12x8 meter itu menjadi 44x28 meter, jauh lebih besar di atas tanah wakaf Habib Abu Bakar. Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf itu kemudian diberi nama Masjid Al-Makmur.

Sejarah masjid al-Makmur, tak dapat dilepaskan dari sejarah Tanah Abang. Dikisahkan bahwa masjid itu tidak bisa dilepaskan dari serangkaian serangan Sultan Agung yang pernah dua kali menyerang Batavia, yaitu pada tahun 1618 dan 1619.

Serangan yang dilancarkan oleh Sultan Agung itu memang mengalami kegagalan, tapi ada beberapa bangsawan Mataran yang dikenal sebagai pendakwah andal, dan gigih dalam menyiarkan Islam kemudian berdakwah dan tidak kembali ke Mataram. Di antara mereka itu memilih menetap di Jakarta untuk menyebarkan agama Islam, dan membangun mushala atau masjid untuk dijadikan tempat ibadah sekaligus menyiarkan Islam.

Salah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang tidak kembali dari perang itu adalah KH. Muhammad Asyura Dia kemudian memilih menetap di Tanah Abang, dan di tempat pemukiman baru itu, pada tahun 1704 mendirikan sebuah mushalla atau langgar berukuran 12x8 meter untuk dijadikan pusat dakwah. Keberadaan mushala itu sebagai tempat dakwah kemudian dilanjutkan keturunan KH. Muhammad Asyuro.

Tapi sayang, kondisi salah satu masjid tua di Jakarta yang memiliki sejarah panjang itu kini terhimpit kemegahan dan keramaian pasar Tanah Abang yang setiap hari tidak pernah sepi. bahkan pemandangan di depan masjid itupun kontras dengan lingkungan sekitar pasar yang bisa dikatakan semrawut.

Banyak pedagang kaki lima yang mangkal di depan masjid dan memakan sebagian badan jalan sehingga menjadikan jalanan macet. Kondisi itu diperparah lagi dengan banyaknya kendaraan yang parkir tidak jauh dari lokasi masjid.

Kendati demikian, Masjid al-Makmur itu bisa menjadi oase di tengah geliat ekonomi di pasar Tanah Abang. Di saat orang sibuk mengas uang dan bertransaksi, dari masjid itu akan terdengar suara adzan menggema yang mengingatkan umat Islam untuk shalat. Tidak salah, jika Masjid al-Makmur kerap menjadi tempat para pedagang dan pembeli di pasar Tanah Abang menunaikan kewajiban shalat, terutama shalat Dzuhur dan Ashar.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...