Jejak Islam Di Kuningan Terhimpit Modernitas

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Masjid al-Mubarok adalah saksi sejarah jejak Islam di Kuningan. Sayang, masjid yang dulu memiliki peran besar dalam syiar Islam di Jakarta, dan Kuningan khususnya, kini seperti tidak mendapat perhatian.

Masjid Al-Mubarok, Kuningan

Sudah sering saya melewati kawasan Kuningan, tepatnya melintasi Jalan Gatot Subroto, jika kebetulan sedang ada keperluan di daerah Senayan, Slipi, atau Tangerang. Tapi, saya tidak pernah melihat dengan pasti keberadaan Masjid al-Mubarok, salah satu masjid tertua yang terletak di Jalan gatot Subroto tersebut.

Padahal, dari banyak cerita yang pernah saya dengar, masjid itu memiliki sejarah panjang terkait masa-masa awal kota Jakarta dan penyebaran Islam di Jakarta, khususnya di Kuningan. Hingga suatu hati, tibalah kesempatan itu.

Sejenak, saya sempat ragu ihwal keberadaan Masjid al-Mubarok yang ada di dekat museum Satriamandala. Sebab tak ada menara yang menjulang tinggi dan gagah sebagimana tanda keberadaan masjid-masjid tua di Jakarta, kecuali hanya bangunan masjid kecil dengan kubah yang terkesan sederhana.

Maka, saya menduga masjid itu milik Museum Satriamandala atau Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI). Karena ragu, akhirnya saya bertanya kepada penjaga museum, dan ia membenarkan bahwa masjid itu memang Masjid al-Mubarok yang bersejarah.

Hujan sudah reda. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya teringat belum menunaikan shalat Dzuhur, maka saya putuskan hari itu shalat di Masjid al-Mubarok. Sesampainya di halaman Masjid, saya hanya bisa tertegun dan termangu. Masjid yang disebut-sebut sebagai salah satu masjid tertua di Jakarta itu ternyata tidak tampak seperti bangunan tua yang meninggalkan jejak sejarah.

Dan, yang membuat saya tambah tertegun dan nyaris terkesima adalah suasana masjid. Siang itu, Masjid al-Mubarok benar-benar sepi. Tidak ada satu pun orang yang ada di masjid itu. Saya buru-buru mengambil wudhu dan shalat sebelum waktu Dzuhur habis, sebab siang itu waktu menunjukkan pada pukul 14.15 WIB.

ASAL USUL KUNINGAN

Museum Satriamandala

Usai shalat, saya menemukan sebuah prasasti marmer bertuliskan, Masjid al-Mubarok pertama kali dibangun pada tahun 1527 oleh Pangeran Awangga, gelar pangeran Kuningan (Syekh Arkanuddin) dan pasukannya setelah ditaklukkannya Kerajaan Padjajaran di Sunda Kelapa dan dihancurkannya armada perang Portugis di pelabuhan Sunda Kelapa oleh pasukan gabungan Demak Cirebon di bawah pimpinan panglima perang Palatehan (Fadlilah Khan) pada awal 1527 dan setelah diproklamirkannya Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

Mengingat jasa Pangeran Kuningan dan keberadaan Masjid al-Mubarok yang memiliki sejarah panjang, akhirnya Masjid al-Mubarok dan juga makam Pangeran Kuningan itu dikukuhkan sebagai situs sejarah kota Jakarta. Masjid yang dibangun tahun 1527 itu dilindungi oleh Pemerintah Daerah sebagai Monumen Ordonansi no 238 tahun 1931, dan kemudian ditetapkan sebagai masjid tua melalui lembaran daerah no 60 tahun 1972.

Jika menengok sejarah, prasasti masjid itu bisa menjadi saksi sejarah keberadaan dan bahkan asal usul daerah Kuningan. Sebab, asal-usul atau sejarah Kuningan tak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan Pangeran Kuningan. jadi, ceritanya, pada 1526, di Banten (yang dikuasai Padjajaran) terjadi pemberontakan.

Konon, waktu itu agama Hindu yang dibawa Padjajaran ingin menguasai Banten. Tapi, sebagian besar tentara ingin memeluk Islam. Pangeran Sebakingkin (putra dari Sunan Gunung Jati) menghimpun kekuatan dan melakukan perlawanan.

Perang Banten itu, rupanya terdengar sampai telinga Sunan Gunung Jati dan Sultan Trenggono. Akhirnya, Sunan Gunung Hati dan Sultan Trenggono mengirim pasukan gabungan Demak Cirebon dan dalam pasukan gabungan itu, ada Dipati Cangkuang yang kelak kemudian hari dikenal sengan sebutan Pangeran Awangga atau Pangeran Kuningan. Pasukan gabungan Demak Cirebon berhasil mengalahkan pasukan tentara Padjajaran.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan Padjajaran, tentara gabungan Demak Cirebon kemudian melanjutkan perjuangan melawan penjajah Portugis yang dipimpin oleh Fransisco de Sa. Kehadiran armada perang besar Portugis di Sunda Kelapa itu pun berhasil dikalahkan oleh pasukan gabungan Demak Cirebon di bawah pimpinan panglima perang Falatehan.

Meski berhasil mengusir Portugis dan sisa pasukan gabungan kembali ke kota masing-masing, bahkan termasuk Adipati Keling dan Pangeran Cakrabuana, tetapi tidak demikian dengan Pangeran Kuningan. Dia masih tinggal di Jakarta. Bahkan, sepeninggal Falatehan, Pangeran Kuningan-lah yang kemudian menggantikannya sebagai Adipati II.

Tetapi, Pangeran Kuningan kemudian memilih jalan lain. Dia kemudian menggerakkan roda pemerintahan di daerah Selatan. Lokasi itu dulu masih hutan belukar, Dan di daerah baru itulah Pangeran Kuningan kemudian membangun permukiman. Wilayah itu meliputi daerah HR Rasuna Said sampai Mampang, Tendean, dan Gatot Subroto.

Di pemukiman baru itulah, Pangeran Kuningan kemudian mengukuhkan kekuasaannya dan menjalankan pemerintahan. Dari situlah, daerah di bawah kekuasaan Pangeran Kuningan itu akhirnya dikenal dengan nama Kuningan.

Di area tanah yang sekarang menjadi Museum ABRI Satriamandala itu, dulu Pangeran Kuningan mendirikan bangunan yang menjadi sentra pertemuan. Bahkan di area museum itu pula, dulu rumah Pangeran Kuningan didirikan. Sementara tanah pekarangan rumah Pangeran Kuningan meliputi tanah yang sekarang ini ditempati Menara Jamsostek ke arah Timur dan arah Barat sampai ke gedung Telkom, kompleks Menteri, dan LIPI.

Di area pekarangan itu pula, Pangeran Kuningan membangun tempat ibadah yang kini dikenal dengan nama Masjid al-Mubarok. Dari masjid al-Mubarok itulah, Pangeran Kuningan kemudian menyebarkan agama Islam.

KUNINGAN MASA KINI

Prasasti Kuningan

Usai membaca prasasti di balik puntu pagar masjid, saya mengitari masjid dan melihat kompleks pemakaman. Tetapi di kompleks pemakaman itu ternyata tidak ada makam Pangeran Kuningan. Sebab, makan Pangeran Kuningan ternyata berada di area gedung Telkom, sebelah Museum Satriamandala.

Saat meninggalkan area masjid, dan berjalan-jalan di area Museum Satriamandala, saya tidak habis mengerti kenapa masjid peninggalan Pangeran Kuningan yang sempat menjadi tempat penyebaran Islam di Kuningan itu seperti tidak mendapatkan perhatian.

Kini sejarah masjid itu telah dikikis kemajuan zaman. Orang lebih tertarik pergi ke Satriamandala daripada mengingat sejarah masa lalu Islam yang ditinggalkan oleh prasasti Masjid tua al-Mubarok. Lebih tragis lagi, kini Kuningan telah menjadi pusat perkantoran dan jejak Islam itu seakan tertimbun oleh gedung-gedung bertingkat.

Baca Juga Yang Lainnya: