Perempuan & Arisan, Jangan Sampai Mengaburkan Tujuan Awal

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Bila disodorkan pertanyaan tentang arisan, tentu yang terlintas dalam benak pertama kali adalah kata 'perempuan'. Ya. Perempuan memang identik dengan arisan. Dengan berkumpul di suatu tempat dan bersepakat menetapkan jumlah nominal yang harus dikeluarkan setiap kali arisan digelar, tiap anggota arisan nanti akan menerimanya sama rata secara berkala.

Ilustrasi

Sejak dulu, acara ini jamak dilakukan ibu-ibu di lingkungan sekitar rumah setingkat RT dan RW. Biasanya mereka memilih hari libur di akhir pekan, Sabtu-Minggu, sebagai hari untuk arisan. Pasalnya hari libur memudahkan tiap orang meluangkan waktu. Selain itu, hal tersebut juga bisa menjadi ajang silaturahim untuk semakin merekatkan hubungan antar warga.

Seiring perubahan zaman yang dinamis, namun arisan kini telah mengalami banyak pergeseran. Baik perubahan yang menyasar pada tipe dan pola maupun tujuannya. Arisan saat ini lebih banyak diorientasikan untuk mencari keuntungan semata.

Biasanya dengan mematok nominal uang arisan yang besar. Dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sehingga begitu dikocok, uang yang terkumpul cukup banyak. Tipa arisan seperti ini biasanya diikuti segelintir orang lantaran kocek yang dirogoh cukup banyak.

Ada juga arisan berupa barang yang harganya mahal. Misalnya perabotan dapur, kendaraan bermotor serta hal lainnya. Meskipun pada hakiatnya, cara seperti ini menyerupai transaksi dengan cara cicil.

Akan tetapi yang mencengangkan, belakangan muncul arisan dengan cara dan tujuan tak lazim. beberapa waktu lalu tersiar kabar ada arisan berondong. Jika semula uang yang menjadi media pengundian, tapi dalam arisan tersebut adalah manusia. Para jejaka muda!

GAYA HIDUP & PRESTISE

Pergeseran nilai pola dan tujuan arisan pada hakiatnya dilatari gaya hidup modern. Mereka mematok sendiri standar dalam mengatur pola kehidupannya yang dinamis dan praktis. Modernitas menuntut orang bekerja lebih cepat secara kompetitif agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Seiring hasil yang diperoleh cepat, maka hajat hidup pun semakin banyak minta dipenuhi. Tak pelak, pola hidup konsumtif tersebut cenderung mengarah pada sikap hedonistik.

Jika dulu orang sudah merasa cukup dengan kebutuhan primer, namun manusia modern merasa kebutuhan sekunder pun sama persis dengan primer. Tak ada lagi ruang skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dulu orang masih cukup dengan rumah sederhana, namun kini manusia modern merasa perlu mendandani rumah dengan gaya dan perabotan mentereng. Pakaian tak sekedar yang melekat di badan, tetapi juga aksesoris penunjang penampilan pun harus sangat detail diperhatikan. Walhasil, hedonisme merebak dalam ruangan-ruangan kehidupan modern.

Di kalangan jetset modern, kebutuhan primer dan sekunder malah sama sekali tak nampak. Seperti kalangan perempuan sosialita yang gemar menggelar arisan dengan iuran dan tempat fantastis. Mereka menganggap bahwa arisan menjadi sarana peningkatan diri. Dari iuran yang nominalnya puluhan juta atau memakai dollar sampai pada hasil arisan yang diperebutkan berupa jejaka muda.

Pergeseran pandang ini tak pelak menyebabkan nilai silaturahim dan ta'awun (saling tolong-menolong) yang kental dalam arisan sama sekali tak nampak. Yang muncul justru sikap hidup mewah, 'riya' (pamer), takabur ('ujub) bahkan menjurus pada perzinaan.

Namun tak selamanya modernitas selalu menyisakan sisi negatif. Ruang positif yang terlihat pun banyak bermunculan. Jika hanya bertujuan untuk kumpul-kumpul, tentu niat silaturahim menjadi prioritas utama tanpa memikirkan untung rugi mendapat hadiahnya di akhir atau pun awal.

Tetapi, arisan juga bisa menambah manfaat dan menguntungkan, seperti mendapatkan utang tanpa bunga sebab dana hadiah tersebut bisa digunakan untuk menambah modal usaha ataupun berinvestasi yang diharapkan memberikan keuntungan.

Arisan juga bisa menjadi wahana menabung untuk memenuhi kebutuhan mendesak di waktu-waktu khusus. Tahun ajaran baru, puasa dan lebaran serta libur akhir tahun sering dijadikan alasan ibu-ibu untuk membuat arisan. Seperti puasa dan lebaran, biasanya ibu-ibu menggelar arisan daging dan sembako.

Selain alasan-alasan tersebut, dalam sejumlah arisan perempuan pun kini ada yang menggelarnya berbarengan dengan acara pengajian atau santunan. Dengan alasan waktu arisan yang cukup memakan waktu maka diisilah ta'lim dan taushiah dalam arisan tersebut lantaran tak ingin ajang silaturahim berbuah sia-sia. Demikian pula uang arisan yang didapat bisa dialokasikan untuk donasi kalangan tak mampu.

HUKUM ARISAN

Secara definitif Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa arisan adalah pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, lalu diundi di antara mereka. Undian tersebut dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Ditilik dari caranya, arisan pada hakikatnya seperti menabung atau meminjamkan uang. Setiap orang bisa mengumpulkan uang dalam jumlah dan waktu tertentu. Begitu pula, setiap orang bisa meminjamkan sejumlah uangnya dengan nominal dan waktu tertentu untuk kemudian dibayar dengan cara dicicil.

Motif seperti ini sesungguhnya sarat dengan kebaikan. Karena ada pesan hidup hemat dengan cara menabung serta prinsip saling membantu antara satu dengan lainnya.

Dari sisi hukum, para ulama berpendapat bahwa arisan dihukumi mubah, mengingat arisan termasuk urusan muamalat manusia. Dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa "Asal dalam mu'amalah adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya". Sepanjang arisan yang dilaksanakan tidak berbenturan dengan nilai-nilai agama dan moral etik manusia, arisan boleh dilaksanakan.

Ibnu Taimiyah di dalam Majmu' al Fatawa menyatakan: "Tidak boleh mengharamkan muamalah yang dibutuhkan manusia sekarang, kecuali kalau ada dalil dari Al Qur'an dan Sunnah tentang pengharamannya. Hukum asal ini bisa berubah karena kondisi tertentu, misalnya ada ketidakadilan dan kebatilan dalam pelaksanaan arisan. Seperti ghibah (bergosip), senda gurau yang berlebihan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu arisan akan jauh lebih bermanfaat jika diisi dengan sesuatu yang menambah bermanfaat, seperti pengajian, nasehat atau hal-hal yang bermanfaat, minimal yang merupakan perkara-perkara mubah.

Bahkan, arisan merupakan salah satu bentuk sosial yang dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan sesama (ta'awun). Sikap saling tolong-menolong ini tercermin dalam al-Qur'an, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS Al Maidah: 2).

Ayat ini memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di dalam kebaikan, sedang tujuan "arisan" itu sendiri adalah menolong orang yang membutuhkan dengan cara iuran secara rutin dan bergiliran untuk mendapatkannya, maka termasuk dalam kategori tolong menolong yang diperintahkan Allah. Dan jika manfaatnya besar, kenapa tak arisan?

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...