Peduli Sesama, Wafat Usai Shalat

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun, Sidik Wibisono atau yang akrab disapa Cak Sidik telah pulang ke Rahmatullah. Meninggalnya seniman ludruk asal Surabaya itu terbilang istimewa, yakni usai shalat Duhur. Semasa hidup, almarhum dikenal baik dan peduli terhadap sesama.


Seniman Indonesia, khususnya Surabaya berduka cita atas meninggalnya Sidik Wibisono (72). Seniman ludruk senior tersebut dikabarkan meninggal akibat penyakit jantung. Almarhum meninggal usai menjalankan shalat Duhur pada Rabu siang tahun 2015 silam di rumah duka Jalan Ploso Lor Gang 2, Surabaya.

Kiprah Cak Sidik mulai dikenal publik saat merintis grup ludruk Tri Saksi Surabaya pada tahun 1969. Grup ini sangat terkenal di Surabaya. Bahkan, setiap minggu almarhum tampil bersama grupnya di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

SAKIT DI DADA

Setelah terkenal berkat grup Ludruk Tri Saksi Surabaya, Sidik Wibisono membuat rekaman album Jula-Juli guyonan khas Surabaya pada tahun 1986. Sidik Wibisono belajar ludruk langsung dari Cak Rukun dan Cak Meler.

Selesai bergabung dengan Tri Sakti Surabaya, Sidik Wibisono juga bergabung dengan Grup Ludruk RRI. Di situlah ia bertemu dengan Cak Kartolo dan Sadari serta Surya Dewi yang kemudian dinikahinya. Setelah itu Sidik Wibisono juga membentuk Grup Ludruk Sidik Cs.

Selain bermain ludruk. Sidik Wibisono kemudian siaran rutin di radio pada akhir tahun 1980-an. Sidik Wibisono sudah merilis enam album serta beberapa album kolaborasi bersama.

Kabarnya, sejak dulu Cak Sidik diketahui mengidap stroke. Sebelumnya, almarhum sudah bolak-balik ke rumah sakit lantaran penyakitnya kambuh. Terakhir Cak Sidik dirawat di RSUD dr Soewandhie Surabaya. Terhitung selama 5 tahun terakhir sebelum Wafat separuh tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Sebelum menjemput ajal, Cak Sidik sempat mengeluh kepada saudaranya. Yuli. Kala itu dirinya baru saja menjalankan shalat Duhur. Namun beberapa saat kemudian, Cak Sidik merasa dadanya sakit. Dewi Putri, putri kedua Cak Sidik, melihat kondisi abahnya (panggilan Dwi kepada ayahnya) memang semakin menurun belakangan ini.

Ia membenarkan jika abahnya menghadap illahi tepat setelah menjalankan shalat Duhur.

"Abah mengeluh kalau dadanya sakit. Saat itu baru saja menjalankan shalat Duhur," tutut Dwi.

Cak Sidik juga sempat berpesan kepada Dwi serta sesama seniman komedian yang lain untuk mengajak sang istri agar tampil bersama komedian Srimulat.

"Iya pesan Abah seperti itu," tambahnya.

RAJIN IBADAH

Putra sulung Cak Sidik, Eko Suryanto mengenang perjuangan abahnya dalam mendidik semua anaknya. Menurut dia, yang paling dikenal Eko adalah kegigihan almarhum ketika menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana "Kenangan yang melekat akan sosok ayah adalah ketika setiap ada reuni keluarga selalu diajari ngidung atau syair mengandung pesan yang dinyanyikan," tambahnya.

Lebih dari itu, bagi Eko, abahnya merupakan sosok yang sangat peduli dan rajin beribadah. Terbukti, meski tidak bersama dengan anaknya, namun Cak Sidik selalu mengunjungi semua buah hatinya saat kondisinya prima.

Keakraban antara Cak Sidik dan anaknya selalu ditunjukkan dengan canda tawa ketika bersama. Bagi semua anaknya, Cak Sidik juga merupakan ayah yang selalu menghibur.

"Senang banget guyon. Anak-anak dijahili," ungkap Eko

Sutoyo atau akrab dipanggi; Hunter, sahabat Cak Sidik, berpendapat bahwa almarhum merupakan sosok yang baik. Menurut dia, kepedulian tinggi yang dimiliki Cak Sidik terhadap semua orang membuat orang lain mengenalnya dengan baik.

Selain itu, Hunter membenarkan jika dirinya kerap diajak setiap ada job. Almarhum juga tak pilih-pilih untuk mengajaknya. Di sisi lain, Hunter melihat Cak Sidik sebagai pria yang penuh semangat. Meski dalam kondisi sakit, namun dia tetap tersenyum dan bekerja.

"Orangnya selalu semangat. Dia gak mau kelihatan sakit," tandas Hunter.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...