Mengumbar Sumpah, Meninggal Tersambar Petir

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Belum sempat Subhan berlari, lidah halilintar itu lebih dulu menghajar tubuhnya. "Aaarrhhhhhh." Pemuda itu terpental beberapa meter kena sambaran halilintar.

Ilustrasi

Mendung hitam menggantung di atas kampung Serayu sore itu. Sesekali kilat terlihat dari kejauhan, memecah bumi dengan suaranya yang menakutkan. Namun sejumlah pemuda yang sedang bermain sepakbola di lapangan tak mencemaskan situasi itu. Dipikirnya, hal biasa mengingat langit biasa menumpahkan tetesan airnya di beberapa hari terakhir ketika senja tiba.

Tak menunggu waktu lama, tetesan air hujan dari langit mulai membasahi bumi. Semula hanya rintik-rintik, namun semakin lama semakin deras. Hingga lapangan kampung itu pun tampak becek.

Mereka yang bermain bola tak mengendurkan semangatnya, tetap menggocek bola, lalu mengopernya dan berusaha melewati lawan dengan skill individu yang dimilikinya. Di bawah guyuran air hujan itu, kedua tim terus bermain. Masing-masing berusaha keras agar bisa menaklukkan lawannya dengan membobol gol.

Justru pemuda-pemuda itu merasa permainan akan lebih seru dibawah guyuran hujan. Dengan kondisi basah, bola menjadi sulit dikontrol, begitu pula lapangan akan lebih licin. Justru di sinilah seninya bermain bola, pemain diuji keterampilan mengolah bola dalam kondisi yang lebih sulit.

Menang hampir setiap sore, usai Ashar, mereka rutin bermain sepakbola di lapangan kampung. Baik sekedar latihan biasa maupun bertanding dengan pemuda-pemuda kampung sebelah. Tersebutlah Subhan (30 tahun, nama semaran) tak pernah melewatkan main bola jika tidak sedang bepergian.

Dia bergabung bersama teman-temannya tiap sore. Tak peduli cuaca baik atau sedang hujan. Yang terpenting, ia bisa menyalurkan hobi satunya itu. Hobi yang sudah dilakoni sejak kecil.

Sudah setengah jam mereka bermain bola. Hujan masih saja mengguyur. Cuaca makin gelap, Toni (31 tahun, bukan nama sebenarnya) mengajak teman-temannya untuk bubaran saja mengingat hujan semakin deras, belum lagi guntur dan kilat halilintar yang menyambar-nyambar.

"Ko, sudahan yuk? Cukup!" ujar Toni pada Eko (30 tahun, bukan nama sebenarnya).

Eko mengangguk pertanda setuju.

"Memang sepertinya tidak baik meneruskan permainan dalam kondisi cuaca kurang bersahabat," Eko menimpali.

"Teman-teman, bubar! Lanjutkan besok lagi!" teriak Toni dengan suara lantang kepada semua teman-temannya untuk membubarkan diri.

Pertandingan sejenak berhenti. Subhan yang belum puas bermain, tampak kurang setuju dengan seruan Toni.

"Tanggung, Ton! Kita lanjutkan saja. Justru kondisi becek seperti ini malah seru. Ini baru jam setengah lima. Biasanya kita selesai sampai jam 5. Ayo lanjutkan!" sergah Subhan.

Apa hendak dikata, mereka pun menuruti kata Subhan. Pertandingan berlanjut. Namun baru beberapa menit berlangsung, petir menghentak keras dari langit. Ujung lidahnya seperti menjilat ke bumi. Seketika mereka yang bermain bola kocar-kacir menyelamatkan amukan halilintar yang menerjang di sekitar lapangan itu.

"Awaaasss...." seseorang di lapangan itu mengingatkan.

Sayangnya belum sempat Subhan berlari, lidah halilintar itu lebih dulu menghajar tubuhnya.

"Aaaaahhhhh.......," teriakan itu keluar dari mulut Subhan.

Pemuda itu terpental beberapa meter kena sambaran halilintar.

"Subhaaaan....." teriak Toni.

"Astagfirullah....." sahut Eko.

Kedua teman main Subhan berteriak keras, melihat kejadian mengerikan itu. Mereka berlarian menuju tempat kejadian perkara. Dipandanginya tubuh Subhan hitam legam hangus oleh amukan halilintar tadi. Lelaki itu terkapar. Tak berdaya. Kaos yang dikenakan sobek, terkoyak.

Sontak mereka kaget bukan kepalang mendapati kenyataan itu. Dikerubunginya jasad Subhan dengan perasaan was-was dengan degup jantung keras. Mereka hendak membawa Subhan ke rumah sakit, namun ikhtiar itu sia-sia saja. Hanya seperminuman teh, setelah gelegar petir menyambar, Subhan menghembuskan nafas terakhir. Inna lillah wa inna ilaihi raji'un.

DUKA DI UJUNG JALAN

Petang beranjak. Kampung Serayu pun heboh. Berita meninggalnya Subhan saat bermain bola di lapangan jadi topik utama. Kabar dari mulut ke mulut berhembus kencang. Semua orang penasaran ingin tahu persisnya sehingga Subhan bernasib naas.

Rumah di ujung jalan itu kini sudah dipadati oleh warga. Mereka silih berganti mendatangi rumah duka. Di ruang tengah, lantunan tahlil dan doa menggema. Sementara jenazah Subhan berada di tengah kerumunan para petakziah, tertutup oleh kain.

Dari kamar sebelah, sesenggukan isak tangis perempuan. Ya perempuan yang selama ini mendampingi Subhan. Meski sudah berusaha untuk tegar, tetesan air matanya tetap saja mengalir. Coba disekanya, kembali air matanya berlinangan. Sepertinya perempuan itu merasa kehilangan sang suami, betapa pun dalam kehidupan sehari-hari suaminya kerap menyakiti perasaannya.

Toni dan Eko yang hadir di tempat itu, tak menyangka permainan sepak bola yang mereka lakukan bareng Subhan di sore itu, menjadi babak akhir kehidupan teman karibnya. Mereka nampak menyesal, kenapa harus berakhir seperti ini.

Usia Subhan masih tergolong muda, sekitar 30 tahunan, anak pun baru satu dan masih kecil. Namun kematian memang bisa mendatangi siapa pun, tanpa pandang bulu, entah di usia tua, usia remaja, usia anak atau saat lahir pun bisa saja langsung meninggal.Bisa juga didahului oleh sakit berkepanjangan, bisa karena kecelakaan, bisa pula meninggal mendadak tanpa tanda apa-apa.

Seperti diketahui, Subhan sebelumnya tak menderita sakit. Berangkat menuju lapangan bersama teman-temannya pun dalam kondisi fit. Sampai kemudian peristiwa mengenaskan itu terjadi.

Hanya sekejap, setelah sambaran petir terjadi, nyawa Subhan melayang. Beberapa detik sebelum sambaran itu, pemuda itu masih berteriak-teriak memanggil teman-temannya untuk terus bermain meski dalam kondisi hujan.

Begitulah kehidupan dan kematian yang nampak tipis bedanya. Seperti yang menimpa Subhan hanya dibatasi oleh petir menggelegar. Kemudian situasi berubah seketika, kehidupan berubah menjadi kematian.

UMBAR SUMPAH

Sehari-hari, Subhan sebenarnya sama seperti pemuda-pemuda lainnya. Hidup di kampung dengan berprofesi sebagai petani biasa. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke sawah. Pulangnya pada tengah hari.

Hanya saja pemuda ini punya kebiasaan buruk. Lidahnya begitu fasih bersumpah serapah, bersumpah atas nama Tuhan agar lawan bicaranya percaya apa yang diucapkannya. padahal mestinya tidak harus demikian. Cukup berkata sewajarnya saja yang membuat orang bisa percaya.

Sedikit-sedikit ia harus keluarkan kata "Billahi" (Demi Allah). Dan kerapkali dibarengi dengan kata "samber gledeg". Aneh. Padahal berkata biasa saja sebenarnya sudah cukup, kenapa harus menggunakan sumpah atas nama Allah.

Belum cukup dengan sumpah itu, masih ditambah dengan "samber geledek" yang jelas tidak pas. Apa pemuda kampung itu tidak menyadari, ketika mengucapkan itu bisa saja akan mengenai dirinya apabila perkataannya tidak jujur. Bisa saja Allah SWT benar-benar mewujudkan sumpahnya itu apabila yang terlontar dari mulutnya itu dusta.

Ibunya sering mengingatkan agar jangan gampang mengumbar kata-kata itu. Tapi dasar anak yang tak mau diatur oleh orang lain, nasehat ibunya tidak digubrisnya.

"Kenapa kamu gampang sekali bersumpah-sumpah seperti itu Han?" Coba hilangkan, kebiasaan buruk itu! Tak baik, Han!" kata ibunya.

"Alaaaahhh ibu..... kenapa soal begitu saja dipermasalahkan? Ini sudah bawaan sejak lama Bu. Spontanitas, tiba-tiba saja kata 'billahi' dan 'samber geledeg' meluncur," sanggahnya.

"Ibu khawatir, Han...," kata ibunya tak meneruskan kalimat selanjutnya.

"Sudahlah, Bu, Ibu tak perlu mengaturku. Aku sudah gede, sudah berkeluarga lagi," jawabnya sambil melengos pergi.

Pada siapa saja ia bicara, sumpah demia Allah dan 'samber geledeg' tak ketinggalan. Ada yang kurang mantap mungkin jika tidak mengikutkan kedua frase itu dalam setiap pembicaraannya. Bukan saja kepada teman-temannya, tetapi juga kepada orang-orang yang lebih tua darinya. Ibarat masakan, kedua frase tersebut adalah bumbu yang menyedapkan.

Namun kadang pemuda itu juga kerap menggunakannya untuk berbohong. Ini jelas tambah keblabasan, kenapa kata "Billahi" yang suci ini harus dilekatkan pada kebohongan. Padahal sumpah atas nama Allah tidak boleh digunakan untuk berdusta dan menutupi kebenaran. Perbuatan seperti ini dikategorikan sebagai sumpah palsu yang dapat menjerumuskan.

Mungkin pemuda itu mengira sumpah adalah perkataan biasa, yang tak ada konsekwensinya sehingga kata-kata itu malah menjadi mainan dan guyonan. Allah sudah memerintahkan agar tidak mudah dan sering bersumpah, "Dan jagalah sumpahmu" (QS. al-Maidah: 89).

Apa artinya, sumpah atas nama Allah itu harus dijaga, tidak boleh digunakan untuk dusta. Seseorang yang bersumpah, dituntut untuk selalu jujur. Jika ia berbohong, maka sama saja melanggar sumpahnya sendiri. Konsekwensinya tentu Allah yang Mengetahui dan Maha Adil.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...