Lubang Kubur Penuh Ular

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Para pelayat yang menyaksikan merasakan kengerian. Inilah kali pertama mereka melihat lubang kubur yang dipenuhi ular di dalamnya.

Ular Di Dalam Kubur

Setiap manusia di dunia ini ingin hidup berkecukupan. Hal itu sah saja. Yang menjadi masalah adalah bagaimana ia mendapatkan harta yang berkecukupan itu. Kalau harta itu didapat lewat cara-cara yang halal, tentu tidak menjadi masalah. Allah sendiri lewat ajaran Islam telah menunjukkan kepada manusia usaha-usaha halal yang bisa dilakukan oleh manusia.

Meskipun demikian, banyak manusia yang sengaja memilih jalan yang dilarang Allah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti dengan meminta bantuan setan atau memuja makhluk halus yang bisa mendatangkan kekayaan baginya.

Inilah yang terjadi pada sebuah keluarga di Magelang. Untuk menjaga nama baiknya, AkuIslam.ID sengaja menyamarkan namanya. Semoga cerita di bawah ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semuanya.

Selama hidupnya, Maryoto dan istrinya, Karni, selalu hidup kekurangan. Kemiskinan sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Menurut salah seorang tetangganya, hal ini karena Maryoto tidak pernah bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagai buruh tani, penghasilan keluarga ini jauh dari cukup. Karni sering mengeluh karena suaminya tidak mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Sayang, kehidupan yang serba kekurangan ini tidak diimbangi dengan hidup hemat. Sebagai istri, Karni terkenal boros. Kalau suaminya mendapat hasil saat panen tiba, Karni langsung menghabiskan uangnya untuk berbelanja ke pasar.

Jika beras yang diterima Maryoto sebagai upah kerja, Karni langsung saja menggadaikannya dengan menukar dengan perabotan rumah tangga. Makanya mereka selalu saja tampak kekurangan, padahal hampir sebagian besar tetangga Karni memiliki profesi yang sama. Tapi, memang, dibanding yang lain, keluarga Maryoto tampak lebih kekurangan dibandingkan dengan yang lain.

Entah pikiran apa yang terlintas di hati Karni, tiba-tiba saja ia berhasrat menjadi orang orang kaya dengan cara pintas, yakni mencari pesugihan. Semula suaminya mengingatkan Karni akan bahayanya bila mencari kekayaan dengan cara itu, tapi Karni bersikeras, akan pergi ke gunung Kawi, sebuah wilayah yang dikenal sebagai tempat pesugihan. Maryoto akhirnya memilih diam, dan membiarkan istrinya melalukan niat itu sendiri.

Para tetangga yang sangat mengenal keluarga itu, tak tahu persis keluarga Maryoto hingga suatu hari Karni mendapat sedikit warisan dari ayahnya. Warisan itu berupa uang yang kemudian dibelikan ayam untuk diternakkan.

Tak dinyana, ternak ayam Karni membuahkan hasil. Ayam-ayam yang dibuatkan kandang di dekat dapur rumahnya itu bertelur sepanjang hari. Lebih dari dua kilo telur dihasilkannya. Usaha ternak Karni semakin maju. Kini, jumlahnya mencapai ratusan ekor ayam.

Karni pun tidak lagi menjajakan telurnya di pasar. Ia mulai menjualnya sendiri di rumah. Bahkan para tetangga yang melihat kesuksesan Karni, ikut berternak ayam dan menjual hasilnya ke warung Karni.

Anehnya, banyak tetangga Karni yang tidak sesukses dirinya. Di saat Karni terus mendulang kekayaan, tetangganya banyak yang gulung tikar. Ternyata beternak ayam tidak semudah yang mereka bayangkan. Abdul mengakui bahwa ternak ayam butuh modal yang banyak. Kalau pekan ternak sedang naik, hasil dari telur tidak mencukupi untuk membeli pakannya. Itulah sebabnya mereka terus menerus merugi, dan akhirnya bangkrut.

Usaha Karni pun pernah nyaris bangkrut karena ayamnya terserang penyakit, tapi dalam waktu sekejap para usahanya normal kembali. Malahan dalam hitungan hari, Karni bisa membeli lahan tetangga untuk memperluas usahanya. Maka dapat ditebak, kekayaan Karni menjadi perbincangan mereka; kenapa keluarga Karni demikian cepat menjadi kaya.

Gubuk reot yang dulu mewarnai kehidupan Maryoto menjelma menjadi rumah permanen dengan bangunan modern, khas bangunan kota. Rumah dulunya cuma 100 meter persegi, kini menjadi tiga kali lipatnya dan bangunannya berlantai dua.

Maryoto yang dulu cuma buruh tani, sekarang menjadi bos ayam. Kandang-kandang pun tidak hanya sedikit, tapi melebar di belakang rumahnya. Tidak itu saja, Karni pun banyak menyewa tanah-tanah di luar desanya untuk dijadikan kandang ayam.

Kebahagian keluarga mereka pun bertambah, ketika satu tahun kemudian mereka menikahkan anak perempuannya. Pestanya pun cukup mewah dan meriah, setidaknya bagi penduduk kampung. Pesta pernikahan dilakukan selama tiga hari berturut-turut, selama tiga hari tanpa jeda, maryoto menanggap wayang dengan dalang-dalang terkemuka.

Anak perempuan Karni yang juga bekerja membantu penjualan telur, mendapatkan jodoh seorang pemuda biasa yang selama ini membantu ayahnya menangani kebersihan kandang. Dari segi ekonomi, mereka tidak sepadan, tapi sepertinya keluarga Maryoto tidak mempermasalahkannya. Itu tandanya bahwa Karni tidak alergi pada kemiskinan. Lagi pula toh dulunya Karni juga miskin.

Siapa pun tidak menduga kalau kemudian akan terjadi peristiwa besar. Sebulan setelah pesta pernikahan yang besar itu, menantu Karni ditemukan yang tewas di kamarnya. Menurut cerita, laki-laki itu digigit ular beracun. Menurut cerita anak perempuan Karni, sehari sebelum suaminya digigit ular saat membersihkan kandang, racun ular menjalar ditubuhnya, sampai akhirnya meninggal dunia.

Menurut Asih, salah seorang penduduk setempat, para tetangga mulai curiga dengan kekayaan Karni, mereka meyakini bahwa menantu Karni adalah tumbal dari pesugihannya yang berwujud ular.

"Apalagi kalau melihat proses kejadiannya, semua berhubungan. Masak orang sekaya Karni mau mendapat menantu yang cuma lulusan SD." begitu pendapat Asih.

Berita menghebohkan itu, lama kelamaan hilang ditelan angin. Masyarakat desa kembali dengan kesibukan semual dan tak lagi menghiraukan persoalan keluarga Maryoto. Tanpa mereka sadari, kekayaan Karni terus bertambah. Usahanya terus berkembang. Ia meluaskan ternaknya dengan beternak sapi. Bisa dibayangkan berapa modal yang dikeluarkan.

Sama halnya dengan ayam. Semula sapi-sapi Karni tidak berkembang, tapi dengan modal yang besar, Karni bisa membeli puluhan sapi, yang diternaknya di pinggir desa. Peristiwa aneh kembali terjadi. Satu dari tiga pembantu rumah tangga Karni yang setelah sebulan bekerja di rumahnya, mati mendadak.

Menurut rekannya, kawannya itu selama tujuh hari berturut-turut bermimpi melihat harta emas dan berlian berkarung-karung. Tak lama setelah itu, ia sakit. Suhu tubuhnya panas terus menerus. Sebelum menghembuskan nafas, pembantu itu kejang-kejang sampai akhirnya meninggal dunia.

Berita pesugihan Karni kembali merebak. Masyarakat semakin yakin bahwa kematian demi kematian yang menimpa orang di sekitar Karni adalah tumbal perjanjian dengan si pemberi kekayaan. Apalagi keberadaan usaha Karni membawa imbas rezeki bagi penduduk sekitar.

Namun, tidak sedikit penduduk yang tak lagi membeli atau menjual usahanya kepada Karni. Salah satunya Asih yang takut kalau mendapat kemungkinan buruk karena pesugihan Karni.

Perubahan sikap warga, diikuti pula dengan sikap Karni yang kini tak mau lagi bersilaturrahim dengan penduduk desa. Ada banyak warga yang berpendapat bahwa kemungkinan besar, Karni mengetahui kalau dirinya dikait-kaitkan dengan kematian pembantu dan menantunya, dan juga pesugihan miliknya. Sebagian lain berpendapat kalau setelah kaya raya, Karni dinilai sombong dan lupa daratan.

Alasan itu masuk akal, karena rumah Karni yang dulu sering dikunjungi orang, kini dipagar tembok tinggi. Semula usahanya di rumah, kini ia memiliki kios di pasar. Sehingga sulit bagi tetangganya untuk datang berkunjung. Selain itu, baik Karni atau suaminya tak pernah lagi datang berjamaah dimasjid. Kalau ada acara perayaan keagamaan, keluarga Maryoto selalu absen. Begitu pun dengan undangan-undangan lain.

Suatu ketika, seorang tetangganya mendapati hal aneh pada diri Karni. Telinganya terlihat tak utuh, pada ujung daun telinga seperti ada yang menggigit karena tampak tak rata. Setelah itu Karni kelihatan kerap memakai kerudung, mungkin untuk menutupinya. Perbuahan Karni pun kembali diperbincangkan warga. Keyakinan mereka semakin kuat.

"Bisa saja karena tak disediakan tumbal, atau barang sesuai perjanjian, hingga diri sendiri menjadi korban." begitu logika Asih.

Keyakinan Asih dan penduduk setempat semakin kuat, ketika suatu hari kembali pembantunya yang pertama, kali ini si korban meninggal karena digigir ular. Persis sama dengan peristiwa menantu Karni. Pembantu ini menemukan ular saat di dapur tengah malam. Tidak jelas esoknya kondisi tubuh korban panas, sampai akhirnya meninggal dunia.

Pada saat itu, para warga yang tinggal satu dusun dengan Karni mulai naik darah. Mereka marah karena rasa takut kalau-kalau salah satu sanak keluarga mereka pun menjadi korban pesugihan Karni. Namun seperti layaknya penduduk desa, mereka tidak suka keributan, penduduk yang sebagian besar memiliki keimanan yang baik, takut jika tindakan mereka akan berakibat buruk. Misalnya Karni bisa saja menuduh bahwa dugaan warga hanya fitnah semata. itulah sebabnya kembali warga hanya bisa diam sambil terus berdoa agar Allah melindungi mereka.

Kyai setempat, juga menyarankan supaya setiap warga menjalankan ibadah secara baik, khususnya dzikir dan shalat malam. Karena itu akan menghindarkan dari jin jahat. Kemudian di desa dihidupkan kembali pengajian-pengajian, terutama malam Jumat dengan membaca surat Yasin, sebagai ibadah menyingkirkan hal-hal yang berbau kejahatan.

Alhamdulillah, apa yang diharapkan warga terwujud, setidaknya tak ada tumbal untuk pesugihan Karni. Beberapa bulan kemudian, warga mendengar bahwa Karni sakit keras. Umumnya, warga yang memiliki sikap toleran yang tinggi, tetap menjenguk Karni, walaupun tindakan Karni tidak disukai. Mereka tetap beranggapan bahwa menengok orang sakit adalah ibadah. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang menengoknya, karena semakin lama Karni memang tak memiliki kawan.

Menurut Maryoto, suaminya yang menunggui selama Karni sakit, beberapa kali Karni pingsan, tubuhnya lemas tak bertenaga. Asih, yang ikut menjenguk Karni melihat wajah Karni pucat bagai mayat. Ia tak sanggup melakukan apapun sepanjang hari, Karni hanya tiduran dan jarang bicara.

Sepuluh hari kemudian, Karni dikabarkan meninggal dunia, setelah sehari sebelumnya ia terus mengigau ketakutan. Seluruh tetangga itu melayat. Peristiwa mengerikan dan menjijikkan terjadi. Disaksikan oleh beberapa wanita yang ikut memandikan jenazah Karni, ditemukan dua ekor lintah di batok kepalanya.

Menurut seorang ibu, saat hendak dibersihkan, rambut Karni yang panjang terurai berbau tak sedap, seperti bau busuk. Saat diteliti, ternyata di tengkorak kepalanya, tepatnya di tengahnya, terdapat dua bangkai lintas sebesar kelingking. Batok kepalanya sendiri tampak berlubang di bagian tengah, hingga otaknya terlihat oleh pemandi jenazah. Lintah itu disiram air. Untunglah binatang itu bisa jatuh, sehingga batok kepalanya terlihat bersih.

Kejadian aneh terulang. Ini terjadi di tanah pemakaman. Setelah digali sedalam dua meter, si penggali menemukan ular berbisa tiba-tiba muncul di lubang galian itu. Oleh penggalinya, ular itu disabetnya dengan golok, sehingga kontan ular sepanjang jampir satu meter itu mati. Si penggali merasa aneh, karena tanah pekuburan di sekitar itu selalu dijaga dan dirawatnya, sehingga kecil kemungkinan ada hewan-hewan berbisa. Ia pun kembali berjalan di sekeliling tanah makam, kalau-kalau ia menemukan binatang berbahaya lain.

Setelah aman dari gangguan, para penggali kubur seperti biasa menunggu rombongan pembawa jenazah tiba. Setelah hampir satu jam menunggu, baru rombongan jenazah tiba. Tampak suami Karni dengan wajah dirudung duka, tiga anak Karni yang semuanya wanita menyusul di belakangnya.

Setelah pembacaan doa, tibalah saat jenazah diturunkan di lubang kubur. Penggali kubur tampak terkejut, ternyata di lubang yang tadi digali bersama dua rekannya, kini dipenuhi ular berbisa. Ia panik. Sesaat kemudian, para pengantar jenazah ikut melongok ke dalam lubang kubur. Mereka menjerit, begitu melihat  lubang itu terdapat tiga sampai lima ular yang semuanya berbisa.

Suami Karni yang berniat turun ke bawah mengantarkan jenazah istrinya ikut panik. ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Pak haji yang sebelumnya membacakan doa bagi si mayit, tak tahu harus berbuat apa. ia pun akhirnya berembuk dengan keluarga dan Ketua RT yang turut mengantarkan jenazah, untuk memanggilkan sesepuh, seorang Kyai yang cukup disegani.

Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya kyai itu tiba. Ular-ular yang ada di lubang semakin bertambah. Kyai itu kelihatan terkejut dan aneh melihat lubang yang kini mirip kandang ular. Ia menyarankan supaya mereka beristighfar dan jangan membunuh ular-ular itu.

"Ini tandanya bahwa ularnya yang menunggi si mayit." kata kyai itu pada orang terdekatnya.

"Kita tetap menguburkan jenazah di sini. Tidak perlu turun ke bawah, jenazah diturunkan saja dengan talit," saran Kyai itu.

Para penggali kubur pun akhirnya mengikuti saran kyai itu. Dengan mambu di samping kiri dan kanan. Mereka menurunkan jenazah dengan tali plastik. Pelan-pelan mayit diturunkan, hingga mencapai dasar. Lalu cepat-cepat ditutup dengan tanah.

Para pelayat yang menyaksikan merasakan kengerian. Inilah pertama mereka melihat lubang kubur yang dipenuhi ular. Kemudian teringat dibenak mereka akan kelakuan Karni semasa hidupnya. Inilah pelajaran buat kita bahwa keburukan sikap selama hidup akan ditunjukan saat akhir hayat kita Wallahu'alam.

Related Posts