Hukum Ziarah Kubur Menjelang Ramadan

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Dalam sebuah hadis Rasulullah membolehkan ziarah kubur untuk mengingat mati. Tetapi bagaimana hukumnya bila ziarah kubur dikhususkan pada saat menjelang Ramadan tiba atau menjelang Hari Raya? Berikut penjelasannya.

Ilustrasi

Ziarah kubur, walaupun ada yang mempermasalahkan, tapi dalam banyak hadis sahih Rasulullah Saw jelas melakukan dan memperbolehkannya, yaitu untuk mengambil pelajaran dan mendoakan yang sudah mati.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa Rasulullah Saw setiap malam giliran di tempatnya (Aisyah), beliau keluar pada akhir malam ke makam Baqi', kemudian mengucapkan, "Keselamatan atasmu semua wahai perkampungan kaum mukminin, akan datang pada kalian apa yang telah dijanjikan pada kalian. Sungguh kami semua ini insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah para penghuni Makam Baqi Al Gharqad ini," (HR Muslim).

Dalam hadis lain, Buraidah Ra meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, "Saya dahulu pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur." Dalam riwayat lain disebutkan, "Barangsiapa yang hendak berziarah kubur, maka berziarahlah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kepada akhirat," (HR Muslim).

DIPERBOLEHKAN

Persoalannya, bolehkan ziarah kubur itu hanya dilakukan khusus menjelang bulan Ramadan saja? Dalam perspektif fikih formal (hukum), jika ada sesuatu masalah yang tidak jelas ada larangannya, maka hukumnya diperbolehkan. Hal ini bersandar pada kaidah ushul fiqih, "Al ashlu fil asy-yaa' al-ibaachah chattaa yadulladdaliilu 'alattachriim (Pada dasarnya segala sesuatu itu diperbolehkan, sepanjang tidak ditemukan dalil yang mengharamkannya)."

Sampai saat ini tidak ditemukan dalil yang melarang ziarah kubur kapan pun, termasuk menjelang bulan Ramadan.

Tetapi jika pengkhususan tersebut berefek pada munculnya keyakinan bahwa ziarah kubur menjelang Ramadan itu sebagai kewajiban, maka jelas tidak diperbolehkan. Umat Islam dilarang keras membuat aturan sendiri dalam hal-hal yang terkait dengan kepercayaan (akidah) dan peribadatan (ibadah).

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw, "Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kita yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak," (HR Al Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ra).

Juga pada kaidah ushul fiqih, "Al ashlu fil 'ibaadaati al-buthlaan, chatta yadullad daliilu 'alal amri (pada dasarnya dalam hal peribadatan itu tidak diperbolehkan, kecuali ada dalil yang memerintahkannya)."

Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah perilaku para peziarah kubur, harus tetap dalam koridor akidah yang benar, yakni tauchiid (mengesakan Allah SWT). Jangan pernah mengharap sesuatu dari mereka yang telah dikuburkan, siapa pun dia tidak akan dapat memberi manfaat.

Kepada Nabi Saw sekalipun, umat Islam harus mendoakan beliau dengan sebanyak-banyaknya membaca shalawat, maka Allah SWT yang akan memberkahi mereka lantaran shalawat tersebut. Demikian juga terhadap arwah para wali, kita doakan mereka, insya kita akan mendapat berkah dari Allah SWT lantaran doa kita itu, bukan dari wali yang bersangkutan.

BACAAN ALQURAN

Mengenai bacaan (Alquran atau zikir tertentu) yang dibacakan untuk mayat ketika ziarah kubur, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut. Mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat bahwa hadiah pahala bacaan itu bisa sampai pada si mayat, dengan alasan banyaknya hadis sahih tentang sampainya pahala perbuatan orang hidup yang dihadiahkan kepada orang yang sudah mati, antara lain Sa'ad bin Ubadah bertanya kepada Rasulullah Saw, "Wahai Rasulullah, ibuku meninggal sedang aku tidak berada di sampingnya ketika itu. Apakah bermanfaat baginya apabila aku bersedekah (dan pahalanya aku hadiahkan) untuknya? Rasulullah menjawab, 'Ya (bermanfaat).' Sa'ad lalu berkata, 'Aku menjadikan engkau sebagai saksi bahwa tanaman kebunku adalah sedekah (yang pahalanya) untuk ibuku," (HR Al Bukhari).

Sedang Mazhab Maliki dan Syafi'i berpendapat, hadiah pahala bacaan itu tidak sampai pada si mayat dengan alasan banyaknya ayat Alquran yang menegaskan bahwa masing-masing orang itu hanya akan mendapat manfaat atau mudarat dari hasil kerjanya sendiri antara lain An-Najm 39, "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Dan hadis sahih yang amat populer bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Apabila manusia itu telah meninggal dunia, maka terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim).

Tetapi semua ulama sepakat bahwa doa orang yang masih hidup itu sampai dan bermanfaat bagi orang yang sudah mati, dengan alasan antara lain disyari'atkannya doa dalam shalat jenazah dan firman Allah SWT dalam surat Al Hasyr ayat 10, "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara yang telah mendahului kami dengan membawa iman. Jangan kiranya Engkau biarkan kami menyimpan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." Wallahu a'lam.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...