Filosofi Nabi Dalam Berdagang Dan Utang-Piutang

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - "Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual, ketika membeli dan ketika meminta haknya (dalam jual-beli)". (HR. Bukhari).

Aktivitas Jual Beli Di Pasar

Rasulullah Saw adalah teladan terbaik bukan dalam urusan ibadah semata, tapi juga perkara "Menjalin hubungan baik" dengan orang lain. Dalam hal jual-beli, misalnya, Rasulullah adalah contoh pedagang yang tidak pernah membuat orang lain rugi. Selain jujur, dan tidak pernah memperdaya orang lain, Nabi disebutkan tidak pernah mendebat.

Keteladanan Rasulullah itu tidak saja membuat As-Saib bin Abdurrahman kagum, tapi juga memuji langsung di hadapan Nabi. "Engkau pernah menjadi mitraku di zaman Jahiliyah dan engkau menjadi mitra paling baik. Engkau tidak memperdayaku dan tidak pula mendebatku." (HR. Ibnu Majah).

Dalam berdagang (jual-beli), Nabi memang selalu memudahkan dan meringankan orang lain. Bahkan, Rasul tidak mengambil untung banyak. Karena itu, Rasulullah pun menganjurkan kepada sahabat untuk tidak mempersulit orang lain.

Dengan kata lain, meminta untuk selalu memudahkan jika perlu meringankan orang lain. Bahkan, Nabi memohon rahmat kepada Allah bagi orang seperti itu. "Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual, ketika membeli dan ketika meminta haknya (dalam jual-beli)". (HR. Bukhari).

Selain dalam jual-beli, Nabi juga mengajarkan para sahabat untuk memudahkan dan meringankan orang lain dalam hal utang-piutang. Itu bisa dengan cara menangguhkan waktu pembayaran bagi orang yang kesulitan, memutihkan sebagian atau seluruh utang.

Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, "Ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada seseorang sehingga jika dia melihat mereka dalam kesulitan, dia berkata kepada para pembantuanya, "Berilah dia tempo hingga mendapatkan kemudahan semoga Allah memudahkan urusan kita. Maka Allah pun akan memudahkan urusannya (di akhirat)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebab dengan memberi kemudahan urusan orang lain, orang itu pun akan dimudahkan Allah. Bentuk kemudahan itu, seperti memutihkan utang. Suatu hari, salah seorang sahabat (bernama Abu al-Yasar) memberi pinjaman kepada seseorang.

Waktu berlalu. Dia datang hendak menagihnya. Tapi, saat Abu al-Yasar datang untuk meminta haknya (menagih utang), ternyata orang itu bersembunyi di rumah, agar tidak bertemu dengan Abu al-Yasar lantaran dia belum memiliki uang untuk dibayarkan.

Abu Yasar tahu, orang itu sembunyi. Tapi, dia tidak marah. Dia tahu orang itu sembunyi karena malu, belum bisa membayar utangnya. Maka, Abu al-Yasar mengambil catatan utang; menghapus nominal utang orang itu. Setelah itu, Abu al-Yasar berkata, "Jika engkau memiliki uang untuk melunasinya, maka lunasilah. Jika tidak, maka halal bagimu." (HR. Muslim).

Itulah teladan yang dicontohkan Nabi (juga para sahabat) kepada kita semuanya.

Related Posts