Astagfirullah, Kutinggalkan Anak & Suami Demi Harta

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Karena harta, aku mengkhianati suamiku. Bahkan, aku rela meninggalkan kedua anakku. Di masa tua ini, aku baru sadar dan sangat menyesal. Jika tak ada maaf dari suami dan anakku, aku berharap Allah mengampuni dosaku. Astagfirullah.

Ilustrasi

Hidup menyendiri sungguh membuatku tersiksa. Belum lagi kedua buah hatiku yang kian hari kian menjauh. Di penghujung hidupku ini, aku ingin menebus kesalahanku. Sekalipun itu tak mampu mengembalikan orang-orang yang kusayangi, setidaknya pintu ampunan Allah masih terbuka untukku. Cukuplah cicin bermata batu jamrud pemberian Hendra ini yang akan terus kusimpan sampai mati.

Kini aku sadar betapa berharganya arti dari sebuah keluarga. Sejak tunas hingga tumbuh berkembang, selalu terjaga oleh sikap Hendra. Sayangnya, aku sendiri yang berkhianat. Luka di hati Hendra mungkin tak bisa sembuh meski kutebus dengan nyawaku sekalipun.

Berkali-kali aku mendustainya. Berulang kali pula aku memanfaatkannya. Aku mengira jika Hendra mudah dibohongi. Padahal sesungguhnya ia benar-benar tulus mencintaiku. Mencintai anak-anak dan keluarga. Ya, benar. Aku dibutakan harta.

MASA INDAH ITU

Jika ingat masa-masa indah bersama Hendra dengan kedua anakku, rupanya itu merupakan puncak kebahagian yang sebenarnya. Kemewahan, harta yang bergelimang, rumah megah, mobil yang indah, kini yang tersisa hanya bayangan saja. Semua sudah sirna. Dinding kayu, tamaran lampu petromak, lantai tak berkeramik, kiranya cukup membuktikan bahwa Allah telah mengganti semua ini.

Jika malam tiba, angin kencang mampu menebus sela-sela dinding rumah gubuk ini. Ditambah lagi dengan jauhnya keramaian, semakin melengkapi kesepianku di usia senja. Benar-benar tak kusangka akan seperti ini kisah hidupku di masa tua. Semuanya tak tersisa. Bahkan cinta yang kukira abadi, ternyata hanya nafsu sesaat.

DIIMING-IMING HARTA

Pernikahanku dengan Robert adalah kesalahan terbesar sepanjang hidupku. Posisiku di perusahaan sebagai manajer juga turut menyumbang kekhilafanku selama ini. Aku memang salah. Aku menganggap Hendra tidak seperti ketika aku menganggap Robert. Bagiku, kala itu, Robert merupakan pria yang bisa membahagiakanku. ia seorang bos besar di perusahaan tekstil. Sementara Hendra, tidak lebih dari seorang guru.

Soal penghasilan, tentu saja Hendra tak ada apa-apanya dibanding Robert. Aku mengira bahwa Robert bakal membuatku bahagia sepanjang masa. Aku mengira jika Robert adalah sosok pria yang bisa dijadikan panutan.

Akhir-akhir ini aku menyadari jika ilmu agama lebih bernilai dari kekayaan apapun di dunia. Itu hanya dimiliki Hendra. Sementara Robert selalu mengandalkan materi untuk memiliki segala sesuatunya. Termasuk untuk memilikiku. Aku selalu diiming-imingi dengan perhiasan bernilai jutaan dolar Amerika.

Satu saja dijual, bisa untuk membeli rumah di kawasan elit. Itu benar-benar kurasakan dengan nyata. Anehnya, kini aku hidup di dalam gubuk reot, jauh di dalam desa. Tak ada yang menjenguk. Bahkan anak-anakku saja enggan melihatku.

PERASAAN BERSALAH

Yang kuingat, konflik rumah tanggaku saat itu memuncak ketika Hendra memergoki ketika aku bergandengan mesra dengan Robert. Aku dan Robert menjalin cinta dan berniat untuk menikah. Senja di pesisir Pantai Situbondo adalah terakhir kalinya aku melihat Hendra menitikkan air mata. Ia kuhujat habis-habisan. Ia kurendahkan di hadapan Robert.

Kepala Hendra tertunduk lesu. Bibirnya terus bergetar mengucap istigfar. Matanya berkaca-kaca sembari mengelus dada. Tak ada satupun kata kotor yang terlontar dari bibirnya. Sebaliknya, aku merasa sudah tidak memiliki agama saja. Perkataan yang tak seharusnya diucapkan seorang muslimah, terus menghujani Hendra. Parahal, saat itu aku masih berstatus menjadi istrinya.

"Jika ini sudah menjadi kehendak Allah, sebagai manusia aku akan berusaha ikhlas. Jika ini sudah menjadi keputusanmu, aku rela. Semoga kau bahagia," itulah kata terakhir dari Hendra.

Begitu dia pergi seiring dengan tenggelamnya mentari, hatikua terasa berdebar-debar. Jantungku berdetak kencang. Entah apa yang kurasakan saat itu. Yang jelas aku merasa seolah Allah benar-benar menguji hati suamiku. Hendra berlalu begitu saja. Sedangkan aku melanjutkan bersama Robert. Tapi, hatiku sudah tidak karuan. Perasaan bersalah terus menggelayutiku. Sejak itu, setiap malam aku tak pernah merasakan tidur nyenyak. Berada di hunian mewah nan menawan juga tak sedikitpun mampu melupakan kejadian itu.

Singkatnya, Robert yang selama ini kusanjung ternyata perilakunya sangat buruk. Ternyata, Robert memiliki dua istri. Mirisnya, aku adalah istri ketiganya. Tak berhenti di situ, segala kemewahan yang kumiliki saat bersama Robert, direbut oleh kedua istrinya. Aku yang tak begitu tahu soal hukum, hanya mampu melihat saja ketika rumahku disita petugas. Tak satu rupiah pun aku mendapatkan jatah. Alhasil, aku memilih pulang ke desa. Tempat yang dulu kuhujat sebagai rumah neraka, kini kudiami. ya, hidup ini semakin sengsara.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...