Al-Syakur Maha Menerima Syukur (Yang Bersyukur, Yang Beruntung)

shares |

Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Pernahkah kita berterima kasih atas semua yang Allah berikan, seperti mata, telinga, hidung, dan indera lain yang tetap berfungsi secara normal?

Ilustrasi

KH. Jalaluddin Rakhmat pernah menuliskan cerita keterkejutan al-Ashma'i, seorang menteri zaman Khalifah al-Manshur, tentang seorang wanita yang masih muda, cantik, dan setia. Al-Ashma'i bertanya, "Mengapa engkau mengorbankan diri untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk?"

Perempuan itu menjawab, "Rasulullah Muhammad saw bersabda bahwa agama itu terdiri dari dua bagian, yaitu syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan kepadaku kemudahan, kecantikan dan perlindungan. Pun, Tuhan membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, kini aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar."

Perilaku perempuan itu, dengan begitu, bukan sedang mengorbankan diri untuk pria berakhlak buruk. Tetapi ia sedang membuktikan syukur yang begitu mendalam atas nikmat yang diberikan Tuhan. Mengapa demikian? Karena memang Allah yang mengajarkan manusia berpola pikir dan berlaku seperti itu, yakni senantiasa membalas kebaikan orang lain dengan balasan yang jauh lebih besar. Dan satu-satunya Zat Yang Maha Penerima Syukur adalah Allah.

Sepenggal kebaikan hamba-Nya dibalas dengan surga yang begitu luas. Amalan seorang hamba yang lemah, Allah balas dengan beragam nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Misalnya saja, riwayat yang bersumbar dari Abu Hurairah ini: "Ketika sedang melenggang, seseorang tiba-tiba merasa begitu haus. Ia berhenti tepat di sebuah sumur, lalu ia minum air sumur tersebut. Selesai minum, ia mendapati seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya sambil menjilat tanah basah karena kehausan. Sejurus kemudian, orang itu membantin, 'BIsa jadi anjing ini tengah merasakan haus seperti yang tadi aku rasakan'.

Kemudian orang itu turun lagi ke dasar sumur untuk mengambil air dengan menggunakan sepatunya. Sambil memegangi kedua bibir sepatunya, ia memanjat naik. Setelah di atas, anjing itu diberi minum. Allah bersyukur kepadanya dengan memberi ampunan (karena cinta kasihnya kepada sesama makhluk)" (HR. Bukhari-Muslim).

Hanya saja kita terpana ketika membaca firmah Allah, "Tetapi sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur: (QS. Saba (34): 13). Ayat ini mewanti-wanti kita bahwa perilaku penuh syukur begitu sulit didapati dan begitu sedikit yang dengan rela hati menapaki. Padahal beragam kisah pribadi yang bersyukur telah diperagakan oleh para arifin (kaum bijak-bestari).

Bahkan tuntunan Allah dan Nabi-Nya begitu tajam memanah hati umatnya. Jadi pantas kalau al-Ashma'i terperanjat ketika menyaksikan seorang perempuan yang tengah memperagakan rasa syukurnya.

Bagi al-Ashma'i, perilaku seperti itu tampak asing dan hanya sedikit sekali yang bersedia melakukannya. Waktu terus merangkak dan sejarah membuktikan hal itu hingga kini, di zaman kiwari. Sejarah masih mencatat hal yang sama.

Tampaknya menjadi tabiat manusia tidak terlalu tertarik akan janji-janji Allah bahwa mereka yang bersyukur atas beragam nikmat akan dianugerahi surga 'Adn kelak. Manusia begitu tamak kepada dunia, tak sudi menengok kesempurnaan kehidupan yang disuguhkan Tuhan. Inilah janji Allah itu: "(Bagi mereka) surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka-cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri". (QS Faathir (35): 33-34).

Namun, sungguh sayang lebih banyak manusia yang menepis balasan Allah itu. Mereka lebih berkenan memilih dunia yang secara literal maknanya adalah rendah dan penuh kehinaan.

Dalam al-Qur'an, kata al-Syakur bukan hanya menunjukkan sebagai sifat Allah Yang Maha Mensyukuri. Dari sepuluh kali kemunculannya dalam al-Qur'an hanya tiga saja yang bisa dimaknai sebagai sifat Allah. Selain itu, Allah mengalungkan al-Syakur sebagai sifat yang melekat dalam diri manusia pilihan-Nya.

Hal ini bisa dimaknai bahwa sifat al-Syakur yang melekat kepada ALlah tidak hanya mengantung "di langit" sebagai simbol kebesaran-Nya. Tetapi manusia harus mendaratkannya ke bumi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan hidup bersama. Tentu, semua itu baru bisa terjadi, melalui pribadi-pribadi yang al-Syakur.

Dari segi bahasa, kata Syakur itu berarti pujian atas kebaikan. Kalau dikaitkan sebagai sifat Allah, maka al-Syakur adalah Zat Yang Maha Bersyukur (berterima kasih) kendati hanya dipatuhi sedikit saja atau membalas kebaikan yang kecil dari hamba-hamba-Nya dengan balasan tak terhingga. Hampir semakna dengan al-Syakur adalah al-Syakir. Makna keduanya serupa. Hanya saja al-Syakur maknanya lebih dalam dari al-Syakir.

Al-Syakur adalah bentuk mubalaghah atau superlatif dari al-Syakir. Misalnya, "Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui" (QS al-Baqarah (2): 158). Pun ayat, "Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri" (QS. Faathir (35): 34).

Tentang sifat al-Syakur yang merujuk kepada sifat Allah terefleksikan dalam surat al-Baqarah (2). ayat 261, yakni: "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui".

Nash ini jelas menunjukkan Allah memberi balasan dengan berlipat ganda bagi sebuah amal yang kecil sekalipun hingga tujuh ratus kali bahkan lebih. Bayangkan bila perilaku seperti ini dipraktikkan oleh seluruh warga di negeri kita. Tak pelak, proses perbaikan dalam berbagai bidang akan segera tercapai.

Termasuk kepedihan dan kesedihan yang sudah sangat lama menimpa negeri kita, kunci untuk bisa keluar dari itu semua adalah banyak bersyukur kepada Allah. Allah memberi formula, "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? ALlah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui" (QS. al-Nisaa (4): 147).

Selama ini kita terlampau pandir, karena baru bersyukur ketika mendapat anugerah yang "besar-besar" saja. Tak urung nikmat yang dianggap "kecil-kecil" tidak pernah sekalipun sempat disyukuri. Ketika Allah berikan kemudahan untuk memiliki rumah, mobil atau berhasil menyekolahkan anak hingga sarjana dan beroleh jodoh kita baru sujud syukur, berterima kasih kepada Allah.

Tetapi pernahkah kita berterima kasih atas semua yang Allah berikan seperti mata, telinga, hidung dan inderalain yang tetap berfungsi secara normal? Tidakkah seharusnya kita bersyukur dan bersadar diri bahwa semua itu sebenarnya pemberian Allah yang tak kuasa kita menjumlahnya? Allah mempertegas, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah dapat kamu menghitungnya," (QS. Ibrahim (14): 34).

Ekspresi syukur, sejatinya, bukan hanya mengucapkan kata "alhamdulillah". Lebih jauh kalimat thayyibah itu harus dibuktikan dalam dataran kenyataan. Maksudnya, kalimat syukur itu barulah ekspresi-batini seseorang karena beroleh kelapangan rezeki dari Allah. Tetapi dalam konteks kehidupan sosial, bukti syukur adalah dengan memberikan bagian mereka yang lemah dan papa, baik infak, sedekah, ataupun zakat. Inilah relevansi pesan Nabi saw ikhwal kontekstualisasi makna syukur dalam kehidupan, yakni berdasar hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan al-Tirmidzi, ia bersabda: "Tidak (termasuk) bersyukur kepada Allah siapa yang tidak bersykur kepada manusia".

Sejatinya, kian bergema kalimat "alhamdulillah" di petala langit, kemiskinan dan problem sosial-psikologis masyarakat akibat krisis multidimensi akan kian mudah teratasi. Karena syukur kepada Allah diikuti dengan syukur kepada sesama.

Saudaraku, jarak antara syukur dan kufur begitu dekat. Bahkan al-Qur'an merangkaikannya dalam satu ayat. Tentu ini bukan kebetulan, namun isyarat agar sentiasa menjadi perhatian. Allah katakan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti (Kami) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim (14): 7).

Related Posts