Shalat Dalam Kondisi Kepepet

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Suatu saat saya keluar rumah, mencari ikan di sungai. Saya pergi pukul 14.00 siang. Waktu ashar tiba, saya masih asyik mencari ikan. Saya berniat shalat di sungai tersebut, tapi keadaan baju saya robek dan aurat terbuka, di samping itu juga najis.

Ilustrasi

Seandainya saya pulang ke rumah, waktu Ashar jelas sudah habis karena jarak sungai ke rumah cukup jauh. Apa sebaiknya yang saya lakukan, shalat dengan keadaan seperti tadi atau bagaimana?

Tentunya ada sebagian dari kita yang juga mengalami hal yang sama dengan kisah diatas, dimana kita shalat dengan kondisi kepepet, entah bagaimana ceritanya namun hal semacam ini bisa saja terjadi kepada siapa saja. Nah berikut ini ulasan selengkapnya menengani hal diatas.

Diatas merupakan pertanyaan dari Sahabat AkuIslam.ID dari Pasuruan.

1. Shalat itu masing-masing punya waktu, sesuai dengan firman Allah, "Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman" (QS. an-Nisa: 103). Ada yang disebutkan awal waktu dan ada yang akhir waktu.

Namun, shalat yang paling baik adalah dilakukan di awal waktu (fi awwali al-waqt). Begitu waktu shalat tiba, maka segera melakukan shalat. Shalat bisa berkepanjangan untuk dilakukan dan tidak dinamakan qadha selama jangka waktu yang dibatasi.

Artinya, sesaat sebelum waktu Maghrib, itu masih dikatakan Ashar. Bahkan dalam kajian fiqih, kalau shalat Ashar baru satu rakaat kita selesaikan lalu terbenam matahari, maka masih bisa dianggap waktu Ashar.

Jadi begitu rupa kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

2. Seperti pertanyaan di atas, asyik menangkap ikan, kata "Asyik" itu tidak darurat. Sebab Anda bisa meninggalkan keasyikan tersebut untuk memenuhi kewajiban shalat Ashar.

Kemudian pakaian yang robek itu boleh dipakai, tidak apa-apa. Kalau pakainnya terungkap atau robek, maka aurat yang perlu ditutupi cuma dua, aurat depan dan belakang. Demikianlah batas maksimal dari aurat kalau pakaian robek.

Kalau batas normalnya adalah antara lutut dan pusar. Tapi ada batas aurat yang terakhir dalam kondisi demikian, kalau sudah cukup tertutup depan dan belakang.

Sementara pakaian yang dikira najis, bila diyakini najisnya, harus dibuang najisnya. Bila tidak memungkinkan untuk pulang dulu atau waktunya sudah mendesak, Anda boleh sembahyang dalam keadaan najis karena tidak boleh melepaskan waktu, tapi sesampainya di rumah harus diulangi lagi. I'adah namanya.

Jadi ada tiga dalam hal melakukan shalat, yakni: ada'an, qadha'an dan i'adah.

Orang yang dalam perjalanan dan kemudian tidak menemukan air dan tidak ada tanah yang bisa dipakai untuk tayammum atau berada dalam keadaan teringkus/terkurung, tidak bisa bergerak sehingga harus shalat dalam keadaan kotor/najis atau sama sekali tidak berpakaian, maka dia tetap harus shalat pada waktunya supaya tidak terlepas pelaksanaan shalat pada waktunya.

Dalam fiqih disebut istilah faqi'rut thahurain, yaitu: orang yang tidak bisa melaksanakan syarat shalat, tidak bisa berwudhu atau bertayammum, atau tidak bebas untuk shalat, maka ia boleh melakukan shalat seadanya. Setelah keadaannya normal atau kembali ke rumah dan sebagainya, ia harus mengulangi shalat tersebut. Itu i'adah namanya.

Related Posts

loading...