Rampas Harta Orang, Mati Tubuh Berlubang

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Apa yang menimpa Heri patut kita ambil hikmahnya. Kebiasaan buruk yang suka mengambil hak orang lain membuatnya susah sakaratulmaut. Tak hanya itu saja, tubuhnya penuh dengan lubang-lubang bekas selang yang menembusnya. Nauzubillahiminzalik!

Ilustrasi

Sebut saja Heri (bukan nama sebenarnya). Pria berusia 45 tahun ini dikenal baik oleh warga daerah Jakarta Barat. Pekerjaannya sebagai fotografer tak lagi dijalaninya sejak 2005 silam. Meski dikenal baik, Heri tak pernah menjalankan perintah Agama sama sekali. Sebagaimana pengakuan adik perempuannya, Dian (bukan nama sebenarnya).

Menurut Dian, Heri adalah sosok kakak yang kurang bisa dicontoh. Pertama, Heri tak pernah menjalankan shalat sama sekali. Kedua, dia selalu ikut campur urusan keluarga saudaranya, terutama masalah harta.

Menurut Dian, beberapa kekayaan orang tua juga lenyap di tangan Heri. Hingga suatu kali perbuatannya terbongkar dan membuat ibunya melontarkan perkataan yang tidak enak didengar. Kehidupan keluarga Heri hancur berantakan. Istrinya pergi meninggalkan dirinya karena terpikat pria lain.

"Sebenarnya saya nggak tega saat dia sakit. Nggak ada saudaranya yang mau merawat," tutur Dian.

Bukan hanya itu, Heri juga memiliki beberapa hektar lahan yang ia gunakan untuk beternak. Saat panen ternak pertama, hasil yang diperoleh sungguh luar biasa. tapi, yang disayangkan Dian, kakaknya itu tidak mau berbagi. Tapi, saat panen ketiga, ia dilanda kerugian besar, sehingga ia putus asa.

Berkali-kali orangtuanya mengingatkan untuk tetap menekuni usahanya dengan harapan sifat Heri bisa berubah. Tapi, Heri tak mempedulikan sama sekali saran dari orang tuanya. Dalam sekejap lahan ternaknya sudah dijual ke orang lain.

Hal itu sangat disesalkan oleh Ibunya. Pasalnya, lahan tersebut rencananya akan disewakan. Namun, sudah terlanjur dijual Heri. Heri menyanggupi untuk mengembalikan uangnya jika sudah mendapatkan pekerjaan lagi.

MEREGANG NYAWA

Ulah Heri bukannya malah mereda, tapi semakin menjadi. Tanah saudaranya dijual tanpa alasan. Perbuatan Heri tersebut diketahui setelah saudaranya, Narto (bukan nama sebenarnya), hendak menjual tanahnya ke orang lain.

Ketika mengukur, tanah miliknya berkurang 15 meter persegi. Setelah ditanya kepada pemilik bangunan tepat di samping tanah Narto, ternyata orang tersebut membeli tanah milik Heri seluas 8x15 meter. Nah, di situlah baru ketahuan bahwa Heri lah yang menjual.

Padahal seharusnya hak tanah Heri adalah 7x15 meter, sama dengan milik Narto. Riwayat tanah tersebut adalah warisan dari almarhum sang ayah untuk dibagi rata oleh keduanya. Masing-masing mendapat bagian 7x15 meter.

Tapi, kini Narto hanya mendapat bagian 6x15 meter. Karena, 1x15 meternya sudah dijual oleh Heri. kabar tersebut membuat sang ibu geram kepada Heri.

Perselisihan pun tak dapat dicegah. Kata-kata kasar terlontar dari ibu kepada Heri. Ucapan dari ibu ternyata di jawab Allah. Sejak kejadian itu, kehidupan Heri semakin susah.

Seluruh usahanya bangkrut. Sampai pada tahun 2008 lalu, kehidupan Heri tak berubah, malah semakin buruk. Untuk makan saja dia harus meminta-minta ke saudaranya. Sampai akhirnya dia jatuh sakit.

Dokter memvonis penyakit paru-paru. Tubuhnya kurus kering, hanya bisa bergerak ke samping saja. Untuk berdiri sudah tak kuat. dadanya dipenuhi selang panjang. badannya banyak berlubang bekas selang medis. Dia menjerit kesakitan ketika cairan di selang telah habis. Sungguh pemandangan menyedihkan. Beberapa bulan lamanya menjalani perawatan, tak ada hasil membaik dari kondisi Heri.

Keinginan untuk meminta maaf terlambat sudah. Sang ibu telah meninggal terlebih dahulu. Dia menyesal karena tak sempat meminta maaf kepada ibunya. Malaikat maut tanpa belas kasih menyabut nyawa Heri. Di saat sakaratulmaut, dia hanya menjerit-jerit kesakitan.

Jasadnya yang penuh lubang membuat orang-orang ngeri melihatnya. Apa yang dialami Heri adalah akibat dari perbuatan buruknya. Semoga dengan kisah Heri, kita bisa memetik hikmahnya serta di jauhkan dari sifat rakus.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...