Perut Penuh Benjolan, Belatung & Bernanah

shares |

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga Postingan Yang Kita Suguhkan bisa bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan berkomentar ya Sahabat :) Terima Kasih
Advertisement
Advertisement
AkuIslam.ID - Berat nian penderitaan yang harus dilalui oleh H. Dul. Harapannya untuk mereguk kebahagiaan dengan harta yang dikumpulkannya ternyata berakhir tragis. ia malah terbaring tak berdaya dan tak dapat menikmati harta kekayaan yang didapatkan dengan jalan tidak halal itu.

Ilustrasi

Tus...." satu dua belatung keluar dari benjolan-benjolan di perut Haji Dul, lelaki tua yang tengah berbaring tak berdaya melawan sakit di perutnya. Sungguh menjijikan! Benjolan-benjolan itu nampak sangat merah kehitaman.

"Tuss...." Tak hanya belatung, nanah pun ikut keluar mengiringi hewan menggelikan itu. Haji Dul meraung tak kuasa menahan perih. "Aughh.... sssakiittttt...." erangannya yang menyayat cukup membuat hati siapa pun yang mendengarnya iba. Sayang, tak seorang pun datang menghampiri lelaki yang perutnya 'bermasalah' itu.

Hanya adiknya saja, Rukoyah, yang menemaninya di kamar berbau anyir itu. Sebab dia seorang janda yang tinggal sendirian. maka sangat mudah baginya untuk mengurus haji Dul secara intensif. Sementara anak-anak Rukoyah sudah berkeluarga. Sama halnya dengan anak-anak haji Dul yang memang tak satu pun tinggal seatap bersama haji Dul. Mereka pun sudah berkeluarga dan hanya datang menjenguk sesekali saja.

"Yah... Rukoyah, tolong dilap lagi nih!" Suara haji Dul terdengar memanggil-manggil adiknya. Rupanya cairan nanah yang sedari tadi meletus dari benjolan di perut haji Dul sudah sampai membanjiri lantai.

Semerbak bau anyir makin menyengat. Rukoyah yang datang tergopoh-gopoh membawa lap dan air yang tertuang dalam baskom segera melap cairan nanah dan belatung yang ada di perut haji Dul. Cairan antiseptik tak lupa Rukoyah tuangkan ke dalam baskom.

Dibanding saudara-saudaranya yang lain, wanita itu memang paling telaten dan tidak merasa jijik. Bau anyir yang bisa memicu seseorang muntah seolah tak mempengaruhi sedikit pun penciumannya. Rasa iba sang adik tersebut lebih besar ketimbang risiko yang harus ia tanggung. Rukoyah tak tega membiarkan kakaknya seorang diri menanggung derita. Sebab kakak iparnya (istri haji Dul) telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah beberapa tahun yang lalu.

Setelah membersihkan luka di perut kakaknya, Rukoyah langsung mengepel lantai yang terkena ceceran nanah dan belatung itu dengan karbol. Bau anyir memang sedikit berkurang. Namun itu tak berlangsung lama. Begitu Nanah dan belatung keluar lagi dari benjolan di perut Haji Dul, bau anyir kembali menyengat.

"Bang haji, berobat lagi ya," rujuk Rukoyah sambil membersihkan kamar dari cairan kotoran itu coba membujuk kakaknya. Yang di rayu, sayangnya, tak merespons. Hanya gelengan kepala haji Dul sebagai tanda penolakan saja yang menjawab.

"Dicoba dulu lagi bang, siapa tahu ada harapan sembuh," rajuk Rukoyah tak bosan-bosannya.

Memang bukan sekali dua kali haji Dul berusaha mengobati luka di perutnya itu. Puluhan juta kocek telah terkuras untuk biaya medis agar derita yang menimpanya sembuh. Namun sampai sejauh itu, usahanya tak kunjung hasil. Bahkan tak cuma medis, hingga terapi ke dukun-dukun pun dilakoninya.

Haji Dul dan keluarga sempat menduga bahwa penyakitnya akibat diguna-guna orang. Tapi itu pun tak membuahkan hasil sebab tak ada bukti yang mengarah ke sana. Hampir setahun cairan nanah itu tetap membanjiri perutnya.

SAKIT PERUT

Penyakit yang diderita haji Dul itu sebenarnya bermula dari sakit perut biasa. Kira-kira tujuh tahun yang lalu, di suatu pagi, setelah sarapan, haji Dul merasakan perutnya tak karuan. Sambil memegang perutnya yang melilit, haji Dul bolak-balik ke kamar mandi, seperti hendak buang hajat.

Tapi sampai di kamar mandi, niatnya kerap diurungkan. Sebab hasratnya untuk buang hajat hilang seketika saat ia sudah duduk di atas jamban.

Terus-menerus ia bertingkah seperti itu sampai siang hari. Lantaran sudah merasa tak tahan lagi menahan sakit, segera ia pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengetahui gejala penyakit yang dideritanya. Dari hasil pemeriksaan, haji Dul dinyatakan menderita magh akut.

Namun selang tiga hari kemudian, kejadian yang merepotkannya terulang lagi. Kali itu, jangankan keluar rumah, bahkan untuk tidur pun susah. "Apa mungkin ini reaksi obat dari rumah sakit?" gumamnya kala itu.

Sampai keesokan harinya, tatkala sakit perut yang menderanya itu tak kunjung mereda, haji Dul memutuskan untuk memanggil salah seorang anaknya. Ia ingin minta diantarkan anaknya ke rumah sakit lain. Bahkan sempat terpikir olehnya agar dia mendapat perawatan khusus saja.

"Man... kalau memang nggak sembuh juga, bapak ingin dirawat di rumah sakit saja.." pesannya pada Iman, anaknya, sesaat sebelum berangkat.

NANAH MEMBUNCAH, BELATUNG PUN MAKIN BANYAK

Sesampainya di rumah sakit yang dituju, anehnya, saat itu haji Dul tak divonis penyakit apa pun. bahkan vonis maag akut dari rumah sakit sebelumnya, tak disetujui pihak rumah sakit yang satu ini. Dokter yang kala itu menangani haji Dul hanya berujar bahwa haji Dul hanya menderita sakit perut ringan. "Mungkin saja karena aktivitas sehari-hari, akibatnya bapak kelelahan dan stresss."

Namun Haji Dul tak ingin berspekulasi. Dia tak ingin, sekembalinya di rumah nanti, perutnya akan melilit lagi. Maka haji Dul pun memutuskan agar ia mendapat perawatan khusus dari rumah sakit. Tapi pihak rumah sakit menolak, sebab mereka menganggap bahwa haji Dul tidak menderita penyakit yang serius.

"Pokoknya saya ingin dirawat!!!" Tegasnya dengan suara yang agak keras. Haji Dul bersikukuh tak ingin pulang.

Sejak itulah akhirnya haji Dul 'tinggal' di rumah sakit. Selama di sana, anehnya, sakit perut yang melilit-lilit itu sedikit pun tak dirasakannya. Sampai seminggu ia coba terus menunggu penyakit itu di rumah sakit.

Tingkah haji Dul tersebut tentu mengundang tanya anak-anaknya. "Kenapa bapak tidak pulang saja? Bapak kan tidak sakit?"

Setelah dibujuk berkali-kali, haji Dul pun barulah akhirnya menyerah dan menuruti keinginan anak-anaknya. Anehnya, begitu tiba di rumah, malamnya, haji Dul kembali merasakan perut melilit luar biasa. Persis seperti yang dirasakan sebelum pergi ke rumah sakit.

Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan haji Dul merasakan hal seperti ini. Padahal dia dan keluarganya sudah berusaha mengobati sakit perut yang aneh itu. Bahkan lelaki tua itu lama kelamaan sudah kepayahan untuk berjalan. Hari-harinya sejak itu banyak dihabiskan di tempat tidur. Malangnya, ia habiskan waktu seperti itu selama hampir enam tahun!

Hingga suatu ketika, saat sakit perut yang dideritanya memasuki tahun ketujuh, perutnya mulai membengkak. Seminggu kemudian, sedikit demi sedikit, tampak benjolan-benjolan kecil. Tentu haji Dul dan keluarga semakin gusar mendapati kenyataan ini. Bahkan beberapa hari kemudian, benjolan itu semakin besar dan berwarna. Seperti warga bisul yang akan meletus. Perutnya lama-kelamaan membusuk. Benjolan yang ternyata berisi nanah itu pecah. Tus....

Tak kuat menanggung derita, saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, haji Dul akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya. Anak dan kerabatnya yang sedari siang telah berkumpul di rumah itu tak kuasa menahan tangis.

Entah karena menyesal tak merawat almarhum dengan baik. Atau menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakoni almarhum sewaktu masih hidup. Ya, mereka sadar bahwa langkah haji Dul dalam mengais rizki telah salah jalan.

TIRAKAT LEWAT HAJI

Menurut salah seorang narasumber, bernama Jamilah, bukan nama sebenarnya. yang pernah menjadi tetangga haji Dul, lelaki itu pernah menjalani tirakat nyugih (minta kekayaan) saat menunaikan ibadah haji. Padahal sejatinya, sebagai seorang muslim, mengunjungi rumah Allah tersebut haruslah diiringi dengan niat suci tanpa diembel-embel niat kotor apa pun.

Sebelum pergi haji, haji Dul pergi ke orang pintar yang diyakininya dapat memenuhi keinginannya agar menjadi orang kaya. Tapi, ia diwajibkan menjalani tirakat. Haji Dul harus bertapa tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, dia pun diwajibkan puasa mutih, alias tidak boleh makan makanan apa pun selain nasi putih dan minum air putih.

Sementara syarat yang terakhir, haji Dul harus berangkat haji. Syarat terakhir ini memang tak bermasalah, karena tidak bertabrakan dengan syariat. Namun lucunya, di depan hajar aswad kelak, haji Dul diminta mengungkapkan keinginannya untuk jadi kaya sambil memegang jimat yang diterimanya dari orang pintar itu.

"Ya Tuhan, tolonglah, saya ingin jadi orang kaya! Paling kaya!!!," pintanya seraya menciumi jimat yang ada di tangannya.

Usai melaksanakan haji, sampailah ia di Indonesia. Tidak berapa lama setelah kepulangannya usahanya berjalan sukses. Cita-citanya yang ingin menjadi orang paling kaya di kampungnya pun akhirnya terwujud.

Sayangnya, ia seolah tidak mencicipi kenikmatan harta yang kini sedang tunduk kepadanya. Banyak pantangan-pantangan yang harus dilewati agar kekayaannya langgeng. Bukan hanya persyaratan yang harus dilakoninya sebelum pergi menunaikan haji.

Pantangannya kini adalah jika shalat di masjid, ia tidak boleh ikut masuk ke dalam ruangan jamaah yang lain. Ia hanya boleh shalat di teras msajid, tidak ditemani siapa pun. Dalam keseharian, ia pun harus berpakaian compang-camping. Namun hal ini tak berlangsung lama. Sebab setengah tahun kemudian haji Dul diserang penyakit yang merenggutnya.

MEMBERANGKATKAN HAJI SELURUH KELUARGA

Sebelum meninggal, menurut Rukoyah, saat nanah dan belatung telah membanjiri perutnya, haji Dul berinisiatif agar dia dibawa ke seorang kiai. Sang kiai itu meminta haji Dul agar memberangkatkan seluruh anaknya pergi haji. Tentunya persyaratan ini cukup menguras kantongnya. Bahkan kabarnya, seluruh harta yang didapat, sisanya, dihibahkan semua ke fakir miskin.

Akhirnya, diberangkatkanlah semua anaknya. Ternyata kekayaan Pak Dul nyaris tak bersisa. Keadaannya kembali seperti semula. Jika dihitung-hitung, biaya yang dipakai buat haji diperkirakan impas dengan kekayaan yang selama ini Pak Dul miliki. Sedang harta yang tersisa adalah harta ketika Pak Dul masih melarat.

Sadarlah haji Dul dan keluarga bahwa harta yang dicari dengan jalan tidak halal akan merugikan diri sendiri dan berbalik menjadi senjata makan tuan. Maka setelah melaksanakan semua persyaratan yang diminta orang pintar tersebut akhirnya. Pak Dul pun dapat menghembuskan nafas terakhirnya.

Demikianlah akhir hidup Haji Dul. Ia harus merasakan penderitaan yang menyakitkan di ujung hayatnya. Harta berlimpah yang dikira akan membahagiakannya justru membuatnya menderita. Masyarakat yang mengetahui cerita tentangnya sangat menyayangkan kisah tragis yang harus dilaluinya itu. Mereka berharap, peristiwa itu menjadi iktibar bagi keluarga mereka.

Baca Juga Yang Lainnya:

loading...